HeadlinePaco-Paco

Ponderma: Majalah Maninjau yang Terbit di Medan Tahun 1938

×

Ponderma: Majalah Maninjau yang Terbit di Medan Tahun 1938

Sebarkan artikel ini
Danau Maninjau. (Sumber: KITLV)

Ranah.id – Onderafdeling Maninjau yang pada masa kolonial Belanda berada di bawah Afdeling Agam, pernah memiliki majalah sendiri. Namanya Pewarta Onderafdeeling Manindjau, disingkat Ponderma.

Informasi tentang penerbitan majalah tersebut dapat ditemukan dalam Matoea Saijo, sebuah majalah lokal di Sumatra’s Westkust. Dari halaman-halamannya dapat ditelusuri bagaimana Ponderma lahir pada tahun 1938.

Pada awal 1938, redaksi Majalah Matoea Saijo yang berkantor di Fort de Kock (kini Bukittinggi), kedatangan seorang tamu dari Medan. Ia adalah Haroen Arrasjid, Direktur Ponderma.

Kedatangan Engku Haroen dalam rangka membicarakan kelahiran Majalah Ponderma. “Lama djoega kami bitjarakan hal2 jang bersangkoet paoet dengan Madjalah,” tulis Matoea Saijo edisi Februari 1938.

Baca Juga  Majalah Djauharah: Mengenang Riak Suara Perempuan di Minangkabau

Engku Haroen mungkin ingin berdiskusi. Atau bisa jadi, ia hendak berguru langsung kepada redaksi Matoea Saijo yang telah setahun lebih dahulu menerbitkan majalah bulanan.

Jika diperlukan, Ponderma akan bekerja sama dengan Matoea Saijo. Redaksi Matoea Saijo pun setuju. Mereka mendukung dan menyambut baik penerbitan majalah tersebut.

Majalah Ponderma tersebut dicetak di Medan. “…, sedang pengarang2 nja berada dalam onderafdeeling Manindjau,” tulis Matoea Saijo dalam edisi yang sama.

Tidak butuh waktu lama, Ponderma akhirnya terbit perdana Maret 1938. Ia menyapa muka pembaca sekali sebulan. Dari Medan, edisi perdana majalah itu pun diterima redaksi Matoea Saijo.

Menurut Matoea Saijo edisi April 1938, penerbitan Ponderma bertujuan sebagai media penghubung silaturahmi antara masyarakat Maninjau dengan para perantaunya. Menurut surat kabar itu, jumlah perantau Onderafdeling Maninjau pada masa itu mencapai ribuan orang.

Baca Juga  Perempuan Merdeka: Jiwa Berakar, Langkah Berlayar

Biaya langganannya pun tergolong murah, yakni f1 setahun, atau f0,6 untuk enam bulan. Dengan biaya tersebut, pembaca pun bisa menikmati suguhan dari majalah yang berkantor redaksi dan administrasinya di Jalan Tjempaka 17 Medan itu.

Menyambut terbitnya majalah tersebut, Matoea Saijo menulis, “Do’a kami: pandjanglah oesianya, dan sampai jang ditjita2”.

Majalah Ponderma merupakan salah satu majalah yang bertema kedaerahan yang terbit pada masa kolonial Belanda.

Selain Ponderma, terdapat pula majalah kedaerahan lain, seperti Matoea Saijo yang menghubungkan masyarakat Matur, serta Hedangan Koerai yang menjadi wadah komunikasi masyarakat Kurai, semuanya baik di kampung maupun di rantau.

Baca Juga  “Di Hari Raja”: Kisah Idulfitri di Matur dalam Syair Tahun 1937

Kehadiran majalah-majalah tersebut ikut meramaikan khazanah pers di Minangkabau pada masa kolonial Belanda. (fru)