Ranah.id – Sebuah syair karya Nan Sati menggambarkan keindahan Matur, Agam, sekaligus menyebut Pincuran Gadang yang hingga kini masih dikenal sebagai tempat pemandian.
Pada Februari 1938, sebuah syair tentang Matur, Agam, dimuat dalam Majalah Matoea Saijo Nomor 2 Tahun II. Syair tersebut berjudul “Goegoek Pandan”, ditulis oleh seseorang yang menggunakan nama Nan Sati.
Syair tersebut menggambarkan suasana Matur dan menyebut sejumlah tempat yang masih dikenal hingga kini, salah satunya Pincuran Gadang.
Teks Asli Syair Goegoek Pandan
Teks berikut disajikan sebagaimana dimuat dalam Matoea Saijo edisi Februari 1938. Ejaan, penggunaan huruf kapital, istilah, tanda baca, dan bentuk kata dipertahankan sesuai teks aslinya.
Goegoek Pandan.
Doedoek bermenoeng di Goegoek Pandan
Pandang koelepas ke Batang Kasik
Indah permai lembah kelihatan
Mehidoepkan rasa membawa asjik.
Sawah bertingkat digenangi air
Ke Boekit Tinggi djalan terentang
Terdengar soengai tenang bersjair
Mehadang hilir Pintjoeran Gadang.
Nampak molek tepian mandi
Terang lekoek serta djembatan
Dalam bajangan diri samadi
Tetap meng’abdi pada kenangan.
Melihat boekit djadjar berdjadjar
Disela goenoeng tertjagat biroe
Teringat batang baroe berakar
Kiasan hidoep setiap waktoe.
O, Matoer tanah airkoе
O, Pemandangan membawa rindoe
Dalam kalboekoe terbenam petamoe
Berloekiskan darah rahim iboekoe.
NAN SATI.
Transliterasi ke Dalam Ejaan Bahasa Indonesia
Untuk memudahkan pembaca masa kini, berikut transliterasi syair tersebut ke dalam ejaan bahasa Indonesia:
Guguk Pandan
Duduk bermenung di Guguk Pandan
Pandang kulepas ke Batang Kasik
Indah permai lembah kelihatan
Menghidupkan rasa membawa asyik.
Sawah bertingkat digenangi air
Ke Bukittinggi jalan terentang
Terdengar sungai tenang bersyair
Menghadang hilir Pincuran Gadang.
Nampak molek tepian mandi
Terang lekuk serta jembatan
Dalam bayangan diri samadi
Tetap mengabdi pada kenangan.
Melihat bukit jajar berjajar
Di sela gunung berjagat biru
Teringat batang baru berakar
Kiasan hidup setiap waktu.
O, Matur tanah airku
O, pemandangan membawa rindu
Dalam kalbuku terbenam petamu
Berlukiskan darah rahim ibuku.
Nan Sati
Matur dalam Ingatan Nan Sati
Syair “Goegoek Pandan” terdiri dari lima bait, masing-masing empat baris. Secara umum, pola rimanya berselang a-b-a-b, sedangkan bait terakhir menggunakan pola a-a-a-a.
Bait pertama membawa pembaca ke Guguk Pandan. Penyair menggambarkan dirinya duduk termenung sambil memandang ke arah Batang Kasik dan lembah di sekitarnya.
Bagi Nan Sati, pemandangan tersebut membangkitkan perasaan, seperti tergambar dalam baris terakhir bait pertama: “Mehidoepkan rasa membawa asjik.”
Gambaran Matur kemudian diperluas pada bait kedua. Ada sawah bertingkat yang digenangi air, jalan menuju Bukittinggi, serta aliran sungai yang digambarkan seolah-olah sedang bersyair.
Penyair menyebut Pincuran Gadang dalam bait kedua. Tempat tersebut masih dikenal hingga kini. Ini menunjukkan bahwa Pincuran Gadang sudah menjadi tempat pemandian sejak zaman beheula.
Bait ketiga kembali menggambarkan suasana tepian pemandian. Ada lekuk, jembatan, dan bayangan diri yang kemudian berkaitan dengan kenangan.
Dalam bajangan diri samadi
Tetap meng’abdi pada kenangan.
Bait keempat menggambarkan bukit yang berjajar dan gunung yang tampak biru. Dari pemandangan itu, penyair kemudian menghadirkan perenungan tentang kehidupan.
Teringat batang baroe berakar
Kiasan hidoep setiap waktoe.
Bait terakhir memperlihatkan kerinduan penyair terhadap Matur.
O, Matoer tanah airkoе
O, Pemandangan membawa rindoe
Penyair menyebut Matur sebagai tanah airku. Pada dua baris terakhir, ia menghubungkan Matur dengan asal-usulnya.
Dalam kalboekoe terbenam petamoe
Berloekiskan darah rahim iboekoe.
Melalui “Goegoek Pandan”, Nan Sati menyebut sejumlah tempat di Matur, seperti Guguk Pandan, Batang Kasik, Bukittinggi, dan Pincuran Gadang. Syair tersebut menggambarkan Matur melalui pemandangan yang dilihat dan pengalaman yang dirasakan penyair. (fru)








