Ranah.id – Basril Djabar bingung ketika usulan nama surat kabar yang didirikannya, Genta, ditolak Departemen Penerangan (Deppen) RI.
Padahal, ia sudah jauh-jauh datang dari Padang untuk mengurus Surat Izin Terbit (SIT) koran itu di Jakarta. Pun, semua persyaratan untuk mendirikan surat kabar sudah dipenuhi.
Usut punya usut, nama Genta ternyata sudah dipakai orang lain sebagai nama koran. SIT baru bisa keluar jika namanya diganti.
Waktu itu, November 1968, Basril Djabar akhirnya menelepon salah seorang rekannya, Nazif Basir, ke Padang.
“Tuka sajo jo namo Singgalang (Ganti saja dengan nama Singgalang),” ucap Nazif Basir memecahkan kebuntuan, kenang Basril Djabar dalam otobiografinya, Sekali di Daerah Tetap di Daerah (2009).
Singkat kata, usulan nama Genta dalam surat-surat ke Deppen di-tip ex, lalu diganti dengan Singgalang. Basril Djabar senang SIT akhirnya berhasil dikantongi.
Sekedar informasi, Singgalang merupakan salah satu nama gunung di Sumatera Barat (Sumbar). Dengan menamakan Singgalang, para pendirinya berharap surat kabar ini bisa tumbuh dan menjulang tinggi seperti gunung.
Membina Harga Diri
Sebagai salah satu surat kabar berbasis di Kota Padang, Singgalang di awal kemunculannya hadir dengan jargon “Membina Harga Diri dalam Meningkatkan dan Menyadarkan Akan Potensi Masyarakat Sumatera Barat sebagai Subjek Pembangunan”.
Pendirinya berjumlah empat orang. Selain Basril Djabar dan Nazif Basir, dua pendiri lainnya yaitu Nasrul Siddik dan Salius. Mereka menakhodai Singgalang dengan jurus menjadi media hiburan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan.
Kantor redaksi dan tata usaha pertama Singgalang adalah sebuah gedung percetakan di Pasar Raya Padang, berukuran empat kali dua meter persegi, menyerupai kios di pinggir jalan. Sementara, proses cetak dilakukan di NV Nusantara Bukittinggi.
Koran ini perdana menyapa muka pembaca pada 18 Desember 1968 dengan format mingguan tebal empat halaman. Tidak tanggung-tanggung, oplah edisi perdananya mencapai 5.000 ekslempar. Setelah dicetak, langsung dilempar ke pasar.
Bahasa dan Rubrik-Rubrik Minang
Sebagaimana pers secara umum, Singgalang memainkan peran sebagai kontrol sosial, social participation, dan social responsibility. Meski demikian, daya tarik koran ini berupa penggunaan bahasa Minang dalam rubrik-rubriknya.
Ada rubrik “Jariah Manantang Buliah” tentang profesi orang Minang di berbagai daerah; “Raun Sabalik” berisi kronik berita Sumbar dalam sepekan; serta “Kaba Bagalau” tentang sketsa sosial dan perangai urang awak.
Kemudian, ada rubrik “Pantun Balega” untuk perang pantun; “Kalene Capeklah Gadang” tentang bintang cilik; “Iduik Baraka, Mati Bariman” membahas pegangan hidup orang Minang, dan sebagainya.
Berita-berita di mingguan Singgalang ditulis dalam bahasa Indonesia, tetapi judul-judulnya menggunakan bahasa Minang, baik secara keseluruhan maupun dicampur dengan bahasa Indonesia.
Bukan hanya itu, Singgalang juga punya tokoh karikatur bernama Tanbaro yang merupakan personifikasi lelaki Minang sehari-hari, berbaju gunting Cina dan bersebo. Tanbaro dikenal sebagai tokoh kartun yang kerap mengkritik kondisi sosial masyarakat.
Semua itu merupakan wujud dari kebanggaan Singgalang dalam meminangkan segala hal. “Rasa” Minang bukan hanya dengan menjadikan Singgalang sebagai nama koran, tetapi juga dengan penggunaan bahasa Minang dalam rubrik-rubriknya.
Seturut Agung Dwi Hartanto dalam Seabad Pers Kebangsaan: 1907-2007, usaha menggarap kekentalan tradisi Minang memang menjadi salah satu kekuatan Singgalang.
Pada edisi Minggu ke-IV Nomor 2, Desember 1968, misalnya. Koran ini menerbitkan artikel tentang Silek Gelombang, tarian khas Minangkabau dalam menyambut tamu.
Bukan hanya itu, Singgalang juga menerbitkan khotbah Idulfitri, pendidikan anti korupsi, dan seks untuk para pemuda Minang. Pendidikan seks tersebut disampaikan lewat cerita tanpa erotisme, desah, dan romantisme, melainkan dengan pertobatan orang-orang yang pernah salah memilih jalur seksual.
Menyembuhkan Trauma PRRI
Singgalang ternyata laris manis. Dari kota-kota dan kampung-kampung yang dilalui kendaraan bermotor di Sumbar, koran ini beredar ke Medan, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Bandung, Duri, Pematang Siantar, dan daerah lainnya di Indonesia.
Basril Djabar dalam otobiografinya, Sekali di Daerah Tetap di Daerah, menyampaikan hal tersebut tidak terlepas dari strategi Singgalang yang menggunakan logo dan bahasa Minang dalam rubrik-rubriknya.
Koran tersebut selama belasan tahun menggunakan logo, dengan motif dasar rumah gadang, ciptaan Delsy Syamsumar, seorang pelukis neo-klasik Indonesia asal Sungai Puar, Agam.
Logo itu terkenal dan ditiru di mana-mana, terutama untuk menjadi logo merek toko, rumah makan, dan penjahit milik orang Minang.
Menurut Yayah Rukiah dkk dalam jurnal “Perubahan Logo Harian Singgalang” (2019), Singgalang menggunakan logo dengan representasi rumah adat Minangkabau itu mulai tahun 1972 hingga 1984.
Hal tersebut menandaskan bahwa Singgalang merupakan koran urang awak yang wajib dibaca oleh orang Minang, baik di Sumbar maupun di perantauan.
Basril Djabar dalam otobigrafinya juga menerangkan bahwa penggunaan bahasa Minang oleh Singgalang membuat perantau Minang merasa di kampung, atau menjadi orang Minang kembali.
Pasalnya, akibat pergolakan daerah antara Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan pemerintah pusat (1958-1961) sampai Orde Baru lahir, orang Minang secara psikopolitis takut diidentikkan sebagai eks-PRRI/Permesta.
Menjadi Harian
Singgalang yang bermisi memulihkan dan membangkitkan harga diri dan semangat orang Minang itu, digemari para pembaca. Hal tersebut mendorong peningkatan pendapatan dan oplah.
Pada 1973, atas permintaan pembaca, Singgalang terbit dua kali seminggu. Pada masa ini, Singgalang pernah mencapai oplah 50.000 ekslemplar.
Kemudian, pada 1976, koran ini terbit delapan halaman. Lalu, pada 1979, Singgalang akhirnya berani tampil menjadi surat kabar harian dengan terbit tujuh kali seminggu.
Tidak berhenti sampai di situ, pada 1982, Singgalang sudah memiliki gedung baru empat lantai di Jalan Veteran Nomor 17 Padang, dan mesin cetak sendiri. Jargon koran ini juga berubah menjadi “Membina Harga Diri untuk Kesejahteraan Nusa dan Bangsa”.
Saat badai krisis moneter menerjang Indonesia pada 1997, Singgalang merupakan salah satu surat kabar di Sumbar yang mampu bertahan. Setahun kemudian, ketika Reformasi bergelora, Singgalang bersama media lokal lainnya di Sumbar berperan mengajak masyarakat agar tidak anarki.
Memang, pada hari-hari pertama setelah Soeharto lengser dari kursi presiden, gerombolan massa di Padang merusak beberapa bangunan. Namun, berkat imbauan para tokoh yang disiarkan secara luas di media massa di Padang, hal tersebut bisa diredam.
Singgalang teguh memegang prinsip pers beretika dengan menjadikan etika moral Minangkabau sebagai acuan. Koran ini, misalnya, selalu menolak menayangkan foto wanita setengah telanjang, baik dalam pemberitaan maupun iklan.
Koran ini juga memberikan tempat terhormat kepada pemangku adat dan tokoh agama di Sumbar sebagai sumber inspirasi masyarakat Minang. Memang, mempertahankan dan mengembangkan rasa keminangkabauan adalah kiat Singgalang untuk terus dicintai pembaca.
Buktinya, saat ini, koran ini masih terbit dengan menyelipkan bahasa Minang populer dalam penulisan beritanya. Pun, ketika dunia pers memasuki era digital, Singgalang juga merambah ke media daring dan media sosial. (fru)






