Ranah.id – Belantika musik Minang pernah diramaikan oleh penyanyi dari etnis non-Minang. Salah satunya adalah Herty Sitorus, penyanyi Indonesia dari suku Batak.
Pada pertengahan Januari 1982, ia resmi meluncurkan album pop Minang-nya, setelah diorbitkan oleh Rinai Record, sebuah perusahaan rekaman lagu Minang yang saat itu baru berdiri di Jakarta.
Herty biasa membawakan lagu pop Indonesia dan pop Tapanuli. Seturut pengakuannya, seperti dimuat di Berita Yudha, 7 Februari 1982, ia saat itu sudah memiliki 11 album.
Bukan tanpa sebab Rinai Record tertarik mengorbitkan penyanyi asal Batak tersebut. Herty sudah dua kali meraih gelar juara pada ajang Festival Lagu Minang Populer.
Pada tahun 1980, lagu “Pengangguran Tingkek Tinggi” ciptaan Ruswandi Rusli yang dibawakannya di ajang yang digelar di Taman Ismail Marzuki itu berhasil meraih juara harapan.
Setahun kemudian, di ajang yang sama, Herty kembali membawakan lagu ciptaan Ruswandi Rusli. Kali ini berjudul “Utang Sabaliak Pinggang”. Tak dinyana, ia berhasil meraih juara pertama.
Rinai Record yang ingin menggairahkan kembali kejayaan lagu pop Minang, menjadikan Herty sebagai penyanyi pertama yang mereka orbitkan.
Sebagaimana pengakuan Herty, seperti dimuat surat kabar tersebut, sebelum masuk studio rekaman, ia agak kikuk juga melatih kerongkongannya membawakan lagu-lagu Minang.
Herty agak kesulitan menyesuaikan nada dan pengucapan kosakata Minang. Namun, setelah terbiasa, suaranya pun memukau orang-orang yang mendengarkan di studio rekaman.
Dalam ambum pop Minang-nya, Herty menyanyikan sejumlah judul lagu, antara lain “Salamaik Jalan Buya Hamka” dan “Ayah” ciptaan Agur Taher, serta “Pulanglah Mamak” dan “Indak Nan Tabuang” ciptaan Masroel Mamudja.
Kemudian, “Suntiang Baserak-serak” ciptaan Hilung Ramali, “Karijok Jando” dan “Cinto” ciptaan Firman D. Master, serta “Marantau” dan “Lamang Angek” ciptaan Yollie Zein.
Selanjutnya, “Uda Den Sayang” ciptaan Syam Tanjung, “Mungkie Janji” ciptaan Amrizal Jurie dan Herry Koto, serta “Jan Dilupokan” ciptaan Suryaman.
Sekadar informasi, awal 1980-an merupakan masa ketika pendengar lagu pop Minang merindukan kejayaan musik Minang pada dekade 1950-an.
Berita Yudha, 26 Januari 1982, menuliskan bahwa pada era tersebut, dua kelompok musik Minang, yakni Gumarang dan Kinantan, berhasil membuat lagu pop Minang digemari secara nasional. Saat itu, lagu-lagu Minang tidak hanya disukai masyarakat Minangkabau, tetapi juga pendengar dari daerah lain.
Memasuki awal 1980-an, pendengar lagu pop Minang merindukan kembali kejayaan masa lampau tersebut. (fru)












