Cerita Urang Awak

Ustaz Asyam Hafizh, Senior yang Dulu Saya Panggil “Kak”

×

Ustaz Asyam Hafizh, Senior yang Dulu Saya Panggil “Kak”

Sebarkan artikel ini
Ustaz Asyam Hafizh. (Foto: Dok. Humas Ar Risalah)

Ranah.id – Yayasan Waqaf Ar Risalah, tempat saya bekerja, menggelar tablig akbar dan peluncuran program wakaf greenhouse melon premium hidroponik.

Saya menjadi salah seorang panitia acara tersebut, tepatnya di bagian dokumentasi. Penceramah yang diundang adalah Ustaz Asyam Hafizh.

Ustazah Maryam, pimpinan saya di humas Ar Risalah, saat rapat perdana panitia, bertanya apakah ada di antara kami yang kenal ustaz tersebut.

Saya jawab saya kenal dengan Ustaz Asyam Hafizh. Ia adalah senior saya dulu sewaktu di MAN 1 Koto Baru Padang Panjang (sekarang MAN 2 Padang Panjang).

Sekolah saya itu dahulunya merupakan madrasah penyelenggara program Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK).

Di Indonesia, tidak banyak madrasah yang menjadi penyelenggara program MAPK. Hanya beberapa. Sekolah saya itu salah satunya.

Mendengar itu, Ustazah Maryam baru mafhum. Sebab suaminya, Ustaz Rahimul Amin, tamatan sekolah itu juga, alumni MAPK. Namun, beda generasi. Terpaut jauh sekali.

Di zaman saya masuk, tahun 2010, program keagamaan itu tidak ada lagi. Sebagai gantinya, sekolah membuka program pendidikan bernama International Timur Tengah (ITT).

Memang, siswa yang masuk program itu banyak yang melanjutkan pendidikan ke universitas-universitas di Timur Tengah.

Kuliah di Yaman, Pulang karena Konflik

Ustaz Asyam Hafizh sendiri setelah tamat dari MAN melanjutkan pendidikan ke Yaman. Pada 2014, Yaman dilanda perang saudara.

Kondisi yang semakin tidak kondusif membuat pelajar Indonesia di Yaman dipulangkan ke Tanah Air oleh pemerintah Republik Indonesia. Itu terjadi pada 2015.

Saya ingat, di televisi, saya melihat Ustaz Asyam Hafizh diwawancarai tentang kondisi pelajar Indonesia di Yaman. Tidak lama kemudian, saya melihatnya pulang dan sampai di Bandara Internasional Minangkabau bersama pelajar Minang lainnya.

Baca Juga  Selaju Sampan Pulai Didorong Masuk Kalender Pariwisata Sumbar

Saya kenal beberapa di antara mereka karena merupakan teman-teman saya di MAN 1 Koto Baru Padang Panjang dulu.

Setelah itu, saya mengikuti Ustaz Asyam Hafizh di Facebook. Ia gemar menyebarluaskan agenda ceramahnya di akun Facebook-nya. Ia aktif berceramah ke berbagai daerah di Sumbar. Bahkan, ada juga mengisi pengajian di televisi.

Yang unik, di profil Facebook-nya, ada keterangan bahwa akun Facebook-nya itu hanya untuk pertemanan dengan ikhwan.

Belakangan, di Facebook-nya, saya lihat dia sering mengantarkan orang umrah. Rupanya dia direktur sebuah travel umrah.

Dai Muda Sumatera Barat

Ketika pertama kali mendengar yang diundang mengisi tablig akbar di Ar Risalah adalah Ustaz Asyam Hafizh, saya tersenyum.

Ar Risalah merupakan lembaga pendidikan berbasis wakaf yang memiliki jenjang dari TK hingga perguruan tinggi. Saat ini, di Kompleks Perguruan Islam Ar Risalah Padang saja, ada sekitar 2.000 siswa yang tinggal. Semuanya nyantri di sana.

Tiap tahunnya, Ar Risalah melaksanakan tablig akbar dan pengumpulan dana wakaf untuk menunjang pembangunan dan pengembangan pendidikan.

Jika tahun-tahun sebelumnya yang diundang tablig akbar adalah ustaz “berskala nasional” seperti Ustaz Syamsul Arifin Nababan dan Ustaz Derry Sulaiman, maka tahun ini giliran dai muda Sumatera Barat, Ustaz Asyam Hafizh.

Apakah Ustaz Asyam Hafizh sudah atau akan menjadi ustaz berskala nasional? Wallahu a’lam.

Baca Juga  Sumbar Masuk 5 Provinsi dengan Laporan Masyarakat Terbanyak ke Ombudsman

Panggilan “Kak”

Saya ingat, di MAN 1 Koto Baru Padang Panjang, saya dan Ustaz Asyam Hafizh berbeda satu tingkat. Saya jurusan IPA dan dia dari ITT. Tinggal di asrama.

Saya sering memanggilnya dengan sebutan “Kak”, panggilan familiar dari siswa kelas rendah ke siswa kelas tinggi di lingkungan asrama MAN 1 Koto Baru Padang Panjang.

Pada saat kegiatan muhadarah asrama, saya ingat, Ustaz Asyam Hafizh unjuk keterampilannya berpidato.

Penampilannya seolah-olah sudah menunjukkan dia adalah ustaz gadang dengan peci di kepala dan selempang di dada. Dan, sekarang dia benar-benar jadi ustaz kondang yang sering diundang berceramah ke mana-mana.

Entah mengapa saya merasa Ustaz Asyam Hafizh sudah lupa dengan saya, meski saya mengingatnya. Sebab, setelah tamat dari MAN, saya sudah tidak pernah berjumpa dengannya lagi.

Himpun Dana Wakaf Rp114 Juta

Maka, tibalah hari H kegiatan. Pelaksanaan tablig akbar dan pengumpulan dana wakaf berlangsung dua hari, yakni 21-22 Juni 2025, di Hall SMP Putri Perguruan Islam Ar Risalah.

Peserta tablig akbar adalah guru, karyawan, orang tua, dan siswa Ar Risalah. Pada hari pertama, Ustaz Asyam Hafizh menyampaikan ceramah dengan tema keutamaan berwakaf.

Sementara, pada hari kedua, tema ceramahnya yaitu melindungi anak dari fitnah akhir zaman. Saya mencoba menyimak ceramahnya sambil ambil foto dari bawah panggung.

“Eh, antum dulu di MAN Koto Baru juga kan,” sapa Ustaz Asyam Hafizh ketika melihat saya duduk di kursi tamu usai acara tablig akbar hari pertama.

Baca Juga  Pemprov Sumbar Akui Pejabatnya Mesum di Ruang Kerja, Bentuk Tim Ad Hoc

“Eh, iya, Kak,” kata saya.

Saya tidak menyangka Ustaz Asyam Hafizh ingat saya. Setelah bersalaman dan memperkenalkan diri kembali, kami lalu bercengkrama.

Ustaz Asyam Hafizh bercerita bahwa dia sebenarnya segan untuk tablig akbar di Ar Risalah. Soalnya, banyak alumni MAN 1 Koto Baru Padang Panjang yang juga ustaz di Ar Risalah.

Beberapa pendiri Ar Risalah bahkan adalah alumni sekolah kami, seperti Ustaz Irsyad Syafar, Ustaz Arwim Al Ibrahimi, dan sebagainya.

Begitulah. Selama dua hari tablig akbar, Ar Risalah berhasil mengumpulkan dana wakaf sekitar Rp114 juta dari lebih 2.000 wakif untuk pembangunan greenhouse melon premium hidroponik.

Greenhouse itu direncanakan dibangun di lahan sekitar 1.500 meter persegi dengan konsep agroeduwisata di Kompleks Ar Risalah. Sebanyak 3.000 buah melon ditargetkan dihasilkan dalam satu siklus panen atau selama 100 hari.

Hasil keuntungannya akan digunakan untuk membantu saudara-saudara muslim di Palestina, juga mendukung program tahfiz siswa Ar Risalah, serta penyediaan beasiswa bagi siswa berprestasi dan kurang mampu.

Setahun berselang, greenhouse yang saat itu masih berupa rencana pembangunan sudah berdiri dan beberapa kali memasuki masa panen. Pada April 2026, program tersebut bahkan membuka wisata petik melon premium bagi guru, karyawan, serta orang tua dan wali murid Ar Risalah.

Bertahun-tahun saya mengira mungkin saya yang masih mengingat senior saya itu. Ternyata, di tengah kesibukannya sebagai dai yang berkeliling ke berbagai daerah, Ustaz Asyam Hafizh masih mengingat seorang junior yang dahulu memanggilnya “Kak”. (fru)