Paco-Paco

Puisi “Mentjapai Maksoed” di Matoea Saijo Tahun 1937: Pesan untuk Generasi Muda

×

Puisi “Mentjapai Maksoed” di Matoea Saijo Tahun 1937: Pesan untuk Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Puisi Mentcapai Maksoed. (Sumber: Majalah Matoea Saijo edisi November 1937)

Ringkasan Artikel:

  • Puisi Mentjapai Maksoed dimuat dalam Majalah Matoea Saijo edisi November 1937.
  • Berisi ajakan kepada generasi muda agar bersatu dan bersungguh-sungguh meraih cita-cita.
  • Pesan perjuangan dan pantang menyerah dalam puisi ini masih relevan hingga sekarang.

Mengenal Puisi Mentjapai Maksoed

Mentjapai Maksoed (dalam ejaan sekarang: Mencapai Maksud) adalah sebuah puisi yang dimuat dalam Majalah Matoea Saijo Nomor 11 Tahun I edisi November 1937, pada halaman 10. Puisi ini ditulis oleh Zaniar Kaäm Pladjoe.

Pesan utama yang terkandung dalam puisi ini adalah semangat cinta tanah air serta ajakan kepada generasi muda agar bersatu dan bersungguh-sungguh dalam mencapai cita-cita.

Puisi Mentjapai Maksoed lahir pada periode akhir pendudukan Belanda di Indonesia. Generasi muda masa kini kiranya perlu membaca dan merenungi puisi ini guna menumbuhkan kembali semangat berjuang demi kemajuan bangsa.

Teks Asli Puisi Mentjapai Maksoed

Dengarlah pesankoe, Oo Bajoe,
Bawalah dia, terbang tinggi,
Bisikkan kepada poetra dan poetri bangsakoe,
Jang lagi menoedjoe ke soemarak negeri.

Bilanglah pada mereka,
Tetapkan hati menjeberang laoet,
Menempoeh semoedra majapada,
Mengedjar tjita mentjapai maksoed.

Baca Juga  Singgalang, Kebanggaan Meminangkan Segala Hal

Dengarlah madahkoe, Oo serasah,
Sampaikan pada poetra dan poetri,
Jang sedang berdjalan mengajoen langkah,
Menempoeh rimba jang penoeh berdoeri.

Awas sampan dipoekoel ombak,
Berlajar ditengah hari,
Madjoelah kemoeka dengan serompak,
Poekoel gendang satoekan hati.

Dengarlah wasiatkoe, Oo gelombang,
Talong sebentar, mengirimkannja,
Kepada poetra dan poetri zaman sekarang,
Kekampoeng halaman hadapkan toedjoeannja.

Djanganlah himah patah ditengah,
Berbalik soeroet separoh djalan,
Mentjapai maksoed sangatlah soesah,
Mengedjar bahagia, djanganlah bosan.

Alih Ejaan Modern

Mencapai Maksud

Dengarlah pesanku, o bayu,
Bawalah dia, terbang tinggi,
Bisikkan kepada putra dan putri bangsaku,
Yang lagi menuju ke sumarak negeri.

Bilanglah pada mereka,
Tetapkan hati menyeberang laut,
Menempuh samudera mayapada,
Mengejar cita mencapai maksud.

Dengarlah madahku, o serasah,
Sampaikan pada putra dan putri,
Yang sedang berjalan mengayun langkah,
Menempuh rimba yang penuh berduri.

Awas sampan dipukul ombak,
Berlayar di tengah hari,
Majulah ke muka dengan serempak,
Pukul gendang satukan hati.

Dengarlah wasiatku, o gelombang,
Tolong sebentar, mengirimkannya,
Kepada putra dan putri zaman sekarang,
Ke kampung halaman hadapkan tujuannya.

Baca Juga  Majalah Djauharah: Mengenang Riak Suara Perempuan di Minangkabau

Janganlah himmah patah di tengah,
Berbalik surut separuh jalan,
Mencapai maksud sangatlah susah,
Mengejar bahagia, janganlah bosan.

Ulasan dan Amanat

Puisi Mentjapai Maksoed terdiri atas enam bait, dan setiap bait terdiri atas empat baris. Secara umum, puisi ini menunjukkan kecenderungan rima bersilang (a-b-a-b).

Zaniar Kaäm Pladjoe menggunakan sejumlah kosakata arkais yang kini jarang dipakai, antara lain bajoe (bayu/angin), majapada (mayapada/dunia), madah (syair), dan serompak (serempak).

Selain itu, penyair juga memanfaatkan kosakata bahasa Minangkabau, yakni serasah yang berarti air terjun, serta kosakata bahasa Arab, yaitu himmah yang bermakna keinginan atau tekad yang kuat.

Majas utama yang digunakan dalam puisi ini adalah personifikasi. Penyair berbicara kepada unsur alam, seperti angin, air terjun, dan gelombang, seolah-olah benda-benda tersebut dapat mendengar dan menyampaikan pesan layaknya manusia. Angin diminta untuk “membisikkan” pesan kepada generasi muda, serasah diminta untuk “menyampaikan” madah, dan seterusnya.

Baca Juga  Goegoek Pandan: Sebuah Syair dari Nan Sati Tahun 1938

Melalui puisi ini, Zaniar Kaäm Pladjoe menyampaikan amanat agar generasi muda bersatu dan bersungguh-sungguh dalam mencapai cita-cita demi kemajuan bangsa.

Pada dua bait pertama, penyair mengajak generasi muda untuk meneguhkan hati dalam menghadapi berbagai rintangan. Rintangan tersebut dimetaforakan sebagai “laut” dan “samudera”, sementara tujuan akhir digambarkan sebagai “sumarak negeri”, yakni kemajuan dan kemakmuran tanah air.

Dalam dua bait berikutnya, penyair kembali menegaskan pentingnya persatuan dan kebersamaan dalam menghadapi tantangan. Hal ini tampak jelas dalam bait keempat:

Awas sampan dipoekoel ombak,
Berlajar ditengah hari,
Madjoelah kemoeka dengan serompak,
Poekoel gendang satoekan hati.

Pada dua bait terakhir, penyair menekankan bahwa tujuan utama perjuangan generasi muda adalah kemajuan “kampung halaman”. Tekad atau himmah menjadi kunci utama. Generasi muda diingatkan agar tidak menyerah di tengah jalan dan tidak berbalik surut sebelum tujuan tercapai.

Hal tersebut ditegaskan pada dua baris penutup puisi ini, mencapai maksud dan meraih kebahagiaan memang sulit, tetapi tidak boleh membuat manusia berhenti berusaha. (*)