Ringkasan Artikel:
- Syair Di Hari Raja tayang di Majalah Matoea Saijo edisi November 1937, berusia 88 tahun.
- Menarik karena mengkritik ketimpangan sosial dalam perayaan Idulfitri di Matur masa kolonial Belanda.
- Relevan karena fenomena sosial tersebut masih ditemukan di berbagai daerah di Sumbar khususnya dan Indonesia umumnya.
Mengenal Syair Di Hari Raja
Di Hari Raja (dalam ejaan sekarang: Di Hari Raya) merupakan sebuah syair yang dimuat dalam Majalah Matoea Saijo nomor 11 tahun 1 edisi November 1937 pada halaman 4–5. Dengan demikian, syair ini telah berusia 88 tahun.
Syair ini terdiri dari 21 bait, masing-masing bait berisi empat baris. Pada bagian bawah syair, ada tulisan “DISARA”. Melihat syair di edisi lain majalah yang sama, nama pengarang ditulis di bagian akhir. Maka, dapat dipastikan Disara adalah nama penulis syair Di Hari Raja.
Mengapa Syair Ini Menarik?
Syair ini menarik karena menceritakan ketimpangan sosial di Matur dalam perayaan Idulfitri pada masa itu. Ketika orang-orang berbahagia, ada sebagian masyarakat yang hidup dalam kemiskinan sehingga tidak dapat ikut merayakan hari suci umat Islam tersebut.
Konteks Syair
Agar bisa menikmati syair ini secara utuh, pembaca kiwari perlu menempatkannya dalam konteks zamannya. Syair ini hadir di Majalah Matoea Saijo, sebuah media cetak lokal yang berperan memajukan pemikiran dan kesadaran anak negeri Matur (kini merupakan kecamatan di Agam) pada masa kolonial Belanda.
Diterbitkan oleh Perkoempoelan Matoea Saijo (baca: Perkumpulan Matua Saiyo), sasaran utama pembaca majalah ini adalah masyarakat Matur serta para perantau. Melalui syair ini, ditegaskan pentingnya peran semua pihak agar kesejahteraan bersama dapat dirasakan di Matur.
Teks Asli Syair Di Hari Raja
Catatan: Teks syair ini disajikan sesuai dengan penulisan asli di Majalah Matoea Saijo edisi November 1937, termasuk penggunaan huruf kapital, istilah asing, tipo, dan kosakata bahasa Minangkabau.
DI HARI RAJA!
Ma’af dipinto lebih dahoeloe,
Sair dikarang boekanlah loetjoe,
Djikalau salah mohan dibantoe,
Bahna mengarang tidak bergoeroe.
Kalam dirantang oentoek madjalah,
Speciaal nummer njatalah soedah,
Oentoek pendoedoek njatalah soedah,
Matoer sekitarnja empoenja madah.
1 Sjawal hari jang moelia,
Ramai disoerau soedahlah njata.
Ketjil dan besar toea dan moeda,
Berkoempoel satoe doedoek bersila.
Menderoem boenjinja taboeah,
Bendy mendarap sepandjang laboeah,
Hilir dan moedik orag disoeroeh,
Mendjindjing kampia njatalah soenggoeh.
Boenda diroemah soedah sedia,
Menantikan labai hendak mendo’a,
Ada menangis ada ketawa,
Menoeroet nasib jang tidak sama.
Ada jang doedoek berhati risau,
Menghadapi apam dioeroengi langau,
Piloe dan sedih azan disoerau,
Ingatkan Sartinah anak Manidjau.
Tetangga sebelah riang dan soeka,
Menantoe poelang tjoetjoepoen ada,
Disediakan lamang serta djoeada,
Pinjaram sepiring dan taboeng kawa.
Dengarkan poela wahai pembatja,
Tidak demikian orang semoea,
Soepaja kita dapat seija,
Seboeah madah dinegeri kita,
Ta’ sedikit pendoedoek dihari itoe,
Berpangkoe loetoeng badannja lesoe,
Ditoetoep djendela disaokkan pintoe,
Demikianlah nasib boenda piatoe.
Ada anak dirantau orang,
Mentjoba nasib hidoep jang malang,
Tinggal dikampoeng disalai orang,
Rodi dan Serajo tak boeleh koerang.
Soepaja djangan sampai ke Manindjau,
Ditinggalkan kampoeng pergi ke rantau,
Maksoed berkoeli dikeboen tembakau,
Ditinggalkan Iboe berhati risau.
Boenda menangis boekan kepalang,
Ingatkan nasib tinggal seorang,
Sakit pening siapa jang datang,
Badanpoen toea dekatlah lobang.
Selama siboejoeng ada diroemah,
Sakit sedikit hati ta tjemah,
Anak méntjari mengambil oepah,
Badjak dipikoel ketengah sawah.
Tetapi apa hendak di kata,
Oepah tak tjoekoep harta ta’ ada,
Nasib membawa moeda jang pokta,
Kerantau takoetkan e. Kepala.
Djika ta’ ada kita ichtiarkan,
Alamat kampoeng soenji ditinggalkan,
Jang moeda2 tentoe berkeliaran,
Siapa lagi jang hendak digembalakan?
Djika semoea pergi merantau,
Matoer di oenjii matjan harimau,
Namanjapoen akan hilang dipoelau,
Hasilnja pendoedoek kalau dihalau.
Djangan kita mendjadi orang Jahoedi,
Berkeliaran disana sini tak poenja negeri,
Soedah patoet benar Injik mamak pikiri,
Perintah didjalankan Ekonomi diperbaiki.
Matoea Saijo soedi membantoe,
Memang kema’moeran Matoer hendak ditoedjoe.
Djika Penghoeloe soedi bersatoe,
Djaoehkan hawa serta nafsoe,
Mari Injik mamak berio bertido,
Kapado perkoempoelan M. Saijo,
Soepajo anak negeri kito,
Hidoep roekoen tjinto bertjinto.
O. engkoe Gadang diambak basa batoeah,
Takkah e. hiba keanak boear,
Hidoep melarat njatalah soedah,
Soedi kiranja memperhatikan madah.
Sjair ditoetoep dengan berseroe,
Kepada M. S. segenap pendjoeroe,
Ingatkan negeri setiap waktoe,
Djanganlah lalai kita membantoe.
Transliterasi ke Dalam Ejaan Bahasa Indonesia
Di Hari Raya
Maaf dipinta lebih dahulu,
Syair dikarang bukanlah lucu,
Jikalau salah mohon dibantu,
Bahna¹ mengarang tidak berguru.
Kalam dirantang untuk majalah,
Spesial nomor nyatalah sudah,
Untuk penduduk nyatalah sudah,
Matur sekitarnya empunya madah.
1 Syawal hari yang mulia,
Ramai di surau sudahlah nyata,
Kecil dan besar tua dan muda,
Berkumpul satu duduk bersila.
Menderum bunyinya tabuh,
Bendi menderap sepanjang labuh,
Hilir dan mudik orang disuruh,
Menjinjing kampia nyatalah sungguh.
Bunda di rumah sudah sedia,
Menantikan lebai hendak mendoa,
Ada menangis ada ketawa,
Menurut nasib yang tidak sama.
Ada yang duduk berhati risau,
Menghadapi apam diurungi lengau,
Pilu dan sedih azan di surau,
Ingatkan Sartinah anak Maninjau.
Tetangga sebelah riang dan suka,
Menantu pulang cucu pun ada,
Disediakan lemang serta juada,
Pinyaram sepiring dan tabung kawa.
Dengarkan pula wahai pembaca,
Tidak demikian orang semua,
Supaya kita dapat seiya,
Sebuah madah di negeri kita.
Tak sedikit penduduk di hari itu,
Berpangku lutung badannya lesu,
Ditutup jendela disaokkan² pintu,
Demikianlah nasib bunda piatu.
Ada anak di rantau orang,
Mencoba nasib hidup yang malang,
Tinggal di kampung disalai orang,
Rodi dan serajo tak boleh kurang.
Supaya jangan sampai ke Maninjau,
Ditinggalkan kampung pergi ke rantau,
Maksud berkuli di kebun tembakau,
Ditinggalkan ibu berhati risau.
Bunda menangis bukan kepalang,
Ingatkan nasib tinggal seorang,
Sakit pening siapa yang datang,
Badan pun tua dekatlah lubang.
Selama si buyung ada di rumah,
Sakit sedikit hati tak cemah³,
Anak mencari mengambil upah,
Bajak dipikul ke tengah sawah.
Tetapi apa hendak dikata,
Upah tak cukup harta tak ada,
Nasib membawa muda yang pokta,
Ke rantau takutkan engku kepala.
Jika tak ada kita ikhtiarkan,
Alamat kampung sunyi ditinggalkan,
Yang muda-muda tentu berkeliaran,
Siapa lagi yang hendak digembalakan?
Jika semua pergi merantau,
Matur dihuni macan harimau,
Namanya pun akan hilang di pulau,
Hasilnya penduduk kalau dihalau.
Jangan kita menjadi orang Yahudi,
Berkeliaran di sana-sini tak punya negeri,
Sudah patut ninik mamak pikiri,
Perintah dijalankan ekonomi diperbaiki.
Matoea Saijo sudi membantu,
Memang kemakmuran Matur hendak dituju,
Jika penghulu sudi bersatu,
Jauhkan hawa serta nafsu.
Mari ninik mamak berio bertido⁴,
Kepada Perkoempoelan Matoer Saijo,
Supaya anak negeri kita5,
Hidup rukun cinto bercinto6.
Untuk Engku Gadang Diambak Basa Batuah,
Takkah engku iba ke anak buar,
Hidup melarat nyatalah sudah,
Sudi kiranya memperhatikan madah.
Syair ditutup dengan berseru,
Kepada Matoea Saijo segenap penjuru,
Ingatkan negeri setiap waktu,
Janganlah lalai kita membantu.
Catatan kaki:
1. Bahna: kemungkinan maksudnya bahan.
2. Disaokkan: berasal dari bahasa Minangkabau, berarti ditutupkan.
3. Cemah: maksudnya cemas.
4. Berio bertido: berasal dari bahasa Minangkabau (baiyo batido), yang berarti menjunjung nilai kebersamaan dan musyawarah.
5. Dalam teks asli, ditulis dalam bahasa Minang (kito).
6. Cinto bercinto: berasal dari bahasa Minangkabau (cinto bacinto), yang berarti cinta atau saling mencintai.
Ulasan dan Amanat Syair
Syair Di Hari Raja menggambarkan ketimpangan sosial yang terjadi di Matur dalam perayaan Idulfitri pada tahun 1930-an. Syair dibuka dengan ungkapan kerendahan hati sang pengarang yang minta maaf terlebih dahulu karena syair yang dikarang bukan untuk menghibur.
Lalu, pada bait kedua, sang pengarang menjelaskan bahwa syair ini ditulis untuk Majalah Matoea Saijo agar bisa dibaca oleh penduduk Matur. Baris keempat bait kedua yang berbunyi “Matur sekitarnya empunya madah” menandakan sang penyair adalah orang Matur.
Setelah itu, syair memuat gambaran umum suasana hari raya pada masa itu. Gambaran tersebut seperti orang ramai di surau, bunyi tabuh menderum, orang hilir-mudik di jalan, ibu yang menunggu lebai datang ke rumah untuk mendoa, dan sebagainya.
Syair juga membuat informasi aneka ragam kue tradisional Minangkabau yang dihidangkan pada hari raya, seperti apam, lemang, juada, dan pinyaram. Kue-kue tersebut sudah mulai langka ditemukan di daerah-daerah di Sumatera Barat pada masa sekarang.
Selanjutnya, syair pun mengkritik fenomena ketimpangan sosial pada hari raya di Matur masa itu. Saat orang-orang berbahagia, tidak sedikit penduduk hari itu yang hidup miskin. Mereka menutup pintu rumah karena tidak ada hidangan untuk penyambut tamu (lihat bait kesembilan).
Dengan cerdik, pengarang lalu menjelaskan bahwa demikianlah nasib bunda piatu, yakni bunda yang ditinggalkan anaknya pergi merantau. Syair ini mengkritik fenomena sulitnya hidup di kampung sehingga menyebabkan anak bujang merantau.
Hal tersebut dilukiskan dengan anak sang ibu yang berkerja membajak sawah orang sewaktu di kampung. Karena upahnya kecil, ia pun pergi merantau untuk memperbaiki taraf hidup dengan menjadi kuli di kebun tembakau. Maka, tingallah ibunya di rumah dengan hati risau.
Sang pengarang menerangkan bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, Matur tentu bisa lengang karena kehilangan generasi mudanya yang pergi merantau. Matur bisa dihuni macan harimau. Demikian deskripsi syair tersebut pada bait keenam belas.
Oleh karena itu, perlu ada usaha bersama untuk memperbaiki kondisi tersebut. Sang pengarang mengatakan sudah selayaknya ninik mamak di Matur berpikir tentang bagaimana cara memperbaiki perekonomian masyarakat. Para penghulu pun diminta untuk bersatu.
Dalam hal ini, Perkoempoelan Matoea Saijo sebagai organisasi perhimpunan perantau Matur yang memiliki cabang di berbagai daerah di Indonesia, bersedia untuk membantu. Memang, tujuan organisasi itu adalah mewujudkan kemakmuran Matur.
Apa saja yang dilakukan Perkoempoelan Matoea Saijo untuk mewujudkan hal tersebut? Mereka berternak sapi. Dalam Majalah Matoea Saijo Nomor 2 Tahun 2, edisi Februari 1938, dijelaskan uang pembeli sapi itu dihimpun dari perantau Matur.
Sapi yang dibeli lalu dirawat oleh masyarakat Matur di kampung dengan sistem bagi hasil. Selain itu, organisasi itu juga berupaya untuk mendirikan sekolah ukur sebagai tempat bagi putra dan putri Matur untuk mengembangkan pendidikannya.
Relevansinya di Zaman Sekarang
Sebagaimana diketahui, karya sastra merupakan cermin dari fenomena sosial yang terjadi pada zamannya. Ketimpangan sosial perayaan Idulfitri di Matur yang dilukiskan dalam syair itu bisa jadi adalah fenomena sosial yang benar-benar terjadi pada masa itu.
Dalam konteks hari ini, ketimpangan sosial tersebut masih kita temukan di berbagai daerah di Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Oleh karena itu, perlu ada usaha bersama untuk menghilangkan jurang sosial tersebut. (fru)







