Cerita Urang Awak

Saya Mencoba Mencari Satu Hal Bahagia Setiap Hari, dan Ini yang Saya Temukan

×

Saya Mencoba Mencari Satu Hal Bahagia Setiap Hari, dan Ini yang Saya Temukan

Sebarkan artikel ini
Foto Penulis: Fakhruddin Arrazzi. (Sumber: Dok. Pribadi)

Ranah.id – Saya menantang diri saya melakukan eksperimen sosial tentang seni berpikir positif. Eksperimennya yaitu memikirkan apa hal istimewa yang membuat saya bahagia hari ini, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kebahagiaan saya pada hari tersebut.

Eksperimen ini terinspirasi dari sebuah buku yang pernah saya baca sewaktu kuliah dulu, sekitar sepuluh tahun lalu, yang sialnya saya sudah lupa judulnya. Yang saya ingat, di dalam buku itu dijelaskan bahwa untuk bahagia, seseorang cukup mengingat apa hal istimewa yang telah dilakukan atau didapatkan pada hari tersebut.

Hal istimewa itu bisa berupa sesuatu yang paling berkesan, menyenangkan, paling menarik, memiliki dampak positif, atau mampu mendatangkan rasa syukur. Intinya, hal istimewa itu adalah sesuatu yang bisa membuat kita merasa bahagia karena telah menjalani hari ini.

Jangan katakan tidak ada. Dari sekian banyak aktivitas atau kegiatanmu, pasti ada satu saja hal istimewa yang kamu kerjakan atau dapatkan hari ini. Tidak mesti sesuatu yang luar biasa. Bisa juga hal yang sederhana.

Bentuknya bisa berupa bertemu teman lama, memberikan senyuman kepada gadis kecil yang berpapasan di jalan, kinerja diapresiasi bos, mendapatkan ucapan kasih sayang dari istri, anak, atau orang yang kita cintai, melihat pemandangan indah, dan sebagainya.

Pokoknya, sebelum tidur, coba pikirkan atau ingat-ingat lagi satu saja hal yang membuatmu bahagia hari ini. Pasti ada. Tidak mungkin tidak ada.

Bukan apa-apa, dalam hidup, kita pasti pernah merasa terjebak dalam aktivitas yang begitu-begitu saja. Bangun pagi, bersiap-siap, pergi sekolah atau kerja, pulang, lalu istirahat. Begitu terus. Hidup terasa membosankan hingga berujung lelah fisik dan mental, alias monoton sekali, saudara-saudara.

Saya sendiri tidak luput dari hal tersebut. Demotivasi. Saya merasa hari-hari saya berlalu begitu saja. Pun, jika hari libur, saya kebanyakan memilih malas-malasan di rumah, atau sesekali pergi keluar bersama istri. Ini pun juga terasa seperti rutinitas.

Nah, untuk mencegah hari-hari berjalan tanpa makna, serta dalam rangka menghadirkan rasa syukur di dalam dada, saya menantang diri saya memikirkan atau mengingat apa hal istimewa yang membuat saya bahagia hari ini. Saya ingin melihat pengaruhnya terhadap diri saya. Berikut pengalaman saya selama seminggu menjalankan eksperimen ini.

Hari Pertama: Mengajak Istri Jalan-jalan

Saya mengajak istri saya jalan-jalan keluar rumah. Sebenarnya, ia sedang batuk dan demam. Dari pagi sampai asar, saya menemaninya istirahat di rumah. Sorenya, setelah keadaannya agak mendingan, saya baru berani mengajaknya keluar.

Ada objek wisata pemandian sekitar 20 menit dari rumah. Saya mengajaknya ke sana. Kami tidak mandi-mandi sih. Cuma duduk di sebuah kedai, menyantap makanan, sambil ngobrol ngalor-ngidul dan menyaksikan orang-orang berenang.

Di sini ramai karena sekarang hari libur, dan saya sangat senang karena bisa melihat istri saya ceria kembali. Tidak dapat dipungkiri, mengajak istri jalan-jalan setelah seharian di rumah merupakan hal istimewa yang membuat saya bahagia hari ini.

Semoga ia semakin sehat. Menjelang magrib, kami pun pulang.

Hari Kedua: Dapat Nasihat dari Teman tentang Anak dan Rezeki

Saya bertemu Bang Don, salah seorang seniorku di dunia wartawan. Setelah tiga bulan menikah, saya belum sekali pun bertemu dengannya. Padahal, dulu saya dengan Bang Don lumayan dekat. Sewaktu saya masih jadi wartawan sekitar tiga sampai lima tahun lalu, kami sering liputan bersama di lapangan.

Baca Juga  Ustaz Asyam Hafizh, Senior yang Dulu Saya Panggil “Kak”

Sewaktu saya pindah profesi jadi praktisi humas, kami masih sering bertemu, minimal sekali-dua minggu. Nongkrong di luar malam-malam. Bercengkerama tentang apa saja. Ia juga memberiku nasihat tentang pernikahan. Ketika saya menikah, Bang Don turut hadir mengucapkan selamat.

Setelah janjian, hari ini kami akhirnya bertemu di Kantor IJTI Sumbar di Belanti, Padang. Ia bertanya bagaimana kabarku setelah menikah. Kabar saya baik-baik saja, tentunya. Alhamdulillah, menikah itu ternyata menyenangkan.

Bang Don bertanya apakah istriku sudah hamil. Saya mohon doanya.

Saya mengatakan bahwa saya ketakutan apakah saya sanggup menafkahi anak saya nanti. Sebagai ayah dari tiga anak, Bang Don mengatakan bahwa saya tidak perlu cemas karena bukan saya yang akan memberi “makan” kepada anak saya nanti, tetapi Allah.

“Tuhan telah menjamin bahwa setiap anak memiliki rezekinya masing-masing. Tidak perlu takut. Sebagai lelaki, tugas kita memastikan agar tetap bekerja dan berusaha. Sebab, rezeki itu salah satunya dititipkan Tuhan lewat kita. Kita harus menjaga amanah Tuhan dengan sebaik mungkin,” ujar Bang Don.

Jleb, masuk sekali!

Hari Ketiga: Mencukur Rambut

Hal menyenangkan yang membuat saya bahagia hari ini adalah saya akhirnya berhasil menemukan tukang cukur yang pas untuk memangkas rambut saya.

Sebelumnya, saya kesulitan. Semenjak saya menikah dan tinggal di rumah istri, saya sudah berusaha mencari tukang cukur yang berada di dekat sini.

Rumah saya berada di pinggir jalan. Sebelumnya, saya telah menyurvei beberapa tempat pangkas dengan menyusuri jalan dari arah sebelah kiri rumah saya. Saya pilih salah satunya dengan keyakinan bahwa saya akan puas dengan potongan tukang cukurnya.

Namun, hasilnya mengecewakan.

Rambut di sisi sebelah kiri dan kanan kepala saya terlalu tipis, sedangkan di bagian atas masih terlalu panjang. Panjangnya ada yang sepanjang jari telunjuk saya. Istri saya di rumah bahkan protes dan bertanya apakah saya benar-benar cukur rambut. Katanya, saya akan mencukur rambut lagi dalam seminggu atau dua minggu ke depan.

Atas saran istri, saya mencukur rambut di tempat pangkas yang berlokasi dekat persimpangan lampu merah arah sebelah kanan dari rumah saya. Tukang cukurnya adalah seorang bapak yang mungkin berusia 50-an. Ketika saya datang, ia sedang melayani seorang pelanggan. Setelah menunggu sebentar, saya pun mendapat giliran.

Saya minta pangkas dengan gaya biasa saja, belah tepi kanan, dan jangan sampai terlalu panjang. Setelah sekitar 15 menit, saya pun kaget dengan hasilnya.

Klop sekali.

Rambut di sisi sebelah kiri dan kanan kepala saya tidak terlalu tipis, sedangkan di bagian atas juga pendek dan tidak panjang.

Saya juga bertanya apakah dia bisa merapikan jenggot saya. Di tukang cukur sebelumnya saya tidak berani minta karena hasil potongan rambut yang mengecewakan.

“Tentu saja bisa. Kalau tukang cukur, tidak ada yang tidak bisa,” katanya.

Mantap, Pak. Jenggot saya pun jadi rapi.

Kalau boleh jujur, saya menikmati bagaimana bapak itu mencukur rambut saya. Bunyi mesin cukurnya terasa menenangkan. Membuat saya merasa berada dalam mode relaksasi. Saya juga menikmati bagaimana bapak itu memberikan pijat refleksi setelah pangkas. Dengan Rp20.000, selesai sudah.

Terima kasih, Bapak. Besok-besok, kalau cukur rambut, saya akan ke sini saja.

Hari Keempat: Memperbaiki Kran Air yang Rusak, Bertemu Istri Penulis Terkenal

Kran air di wastafel di rumah saya sudah sebulan lebih bocor. Menyebabkan air menetes terus-menerus. Supaya tidak terbuang percuma, mertua perempuan saya menampung air itu di baskom. Air yang terkumpul digunakan untuk mencuci piring yang kotor.

Baca Juga  14 Hari Menulis di Wikipedia Bahasa Minangkabau: Saya Mendapat Rp1,68 Juta dari Menulis

Hari ini, saya memutuskan untuk memperbaikinya.

Saya pergi ke toko bangunan yang berada dekat rumah. Saya kaget, ternyata pemiliknya adalah Katrina Vabiola, istri dari penulis terkenal, Boy Candra.

Saya mengenalnya, tetapi dia tidak mengenalku. Saya kenal baik dengan suaminya yang saya panggil Bang Boy.

Sewaktu masih aktif di persma SKK Ganto UNP, saya beberapa kali mewawancarainya terkait tips menulis dan peluncuran beberapa buku barunya. Bang Boy sendiri merupakan alumni Fakultas Ilmu Pendidikan UNP.

Pertemuan saya dengan istrinya merupakan sesuatu yang berkesan bagi saya hari ini.

Kata istri saya, istri Bang Boy itu merupakan orang asli Lolongkaran, daerah tempat kami tinggal.

Saya juga sangat senang bisa memperbaiki kran air yang rusak dengan menggantinya dengan kran baru yang saya beli dari toko bangunan milik istri Bang Boy itu.

Hahaha….

Hari Kelima: Membantu Istri Mencuci Pakaian

Ada pakaian kotor sebaskom. Saya membantu istri mencucinya, atau lebih tepatnya saya yang mencuci sendiri.

Saya sangat senang bisa melakukannya. Mencuci manual dengan tangan. Setelah itu, saya menjemurnya di lantai dua rumah kami.

Istri saya masih sakit hari ini. Sekarang, dia sedang beristirahat di kamar. Untuk sarapan pagi, saya membeli makanan di luar. Semoga dia cepat sehat.

Jujur, saya takut dia batuk-batuk terus, meski sudah rutin minum obat. Takut dia kenapa-kenapa.

Hari Keenam: Membuat Kacamata Pertama

Sekitar tiga bulan yang lalu, beberapa hari setelah menikah, saya mengurus SIM ke kantor Samsat. SIM lama saya sudah kedaluwarsa karena saya tidak memperpanjangnya.

Awalnya, saya mengira cukup bayar denda, tetapi polisi mengatakan saya harus bikin SIM baru karena SIM lama saya sudah mati.

Untuk membuat SIM baru, saya harus mengikuti tes pemeriksaan mata terlebih dahulu. Namun, saya gagal. Dokter mengatakan mata saya sudah bermasalah. Tidak mampu melihat objek yang jauh.

Memang, objek sekitar 15 meter di hadapan saya saja, penglihatan saya sudah kabur.

Jadi, kata dokter, saya harus bikin kacamata terlebih dahulu. Gara-gara itu saya membayar BPJS saya yang sudah nunggak dua tahun sebesar Rp700.000.

Saya ingin membuat kacamata dengan menggunakan BPJS. Namun, karena berbagai kesibukan, saya baru hari ini bisa pergi ke rumah sakit khusus mata di kota saya.

Dokter di rumah sakit tersebut mengatakan minus mata saya cukup tinggi. Saya lupa angkanya.

Saya kira, setelah itu, saya akan langsung mendapatkan kacamata. Namun, ternyata tidak. Dokter memberi saya sebuah “resep”, dan “resep” itu harus diserahkan ke optik yang telah bekerja sama dengan BPJS. Jadi, bikin kacamatanya itu di sana.

Di tempat optik, petugas mengatakan tidak semua biaya ditanggung BPJS. Untuk BPJS kelas 3 seperti saya, yang ditanggung hanya Rp165.000. Jika saya ingin bikin kacamata yang antiradiasi dan antisilau, saya harus menambah Rp230.000 lagi.

Berhubung pekerjaan saya kebanyakan di depan laptop, oke, saya pun membayarnya.

Akhirnya, untuk pertama kalinya dalam hidup, di usia saya yang 30 tahun, saya punya kacamata. Bersejarah sekali. Habis ini saya akan mengurus pembuatan SIM.

Baca Juga  Perempuan Berpendidikan dan Mitos tentang Istri yang Sulit Diatur

Catatan, total biaya yang saya keluarkan untuk pembuatan kacamata, mulai dari membayar tunggakan BPJS hingga bikin kacamatanya, adalah Rp930.000.

Pembayaran tunggakan BPJS itu saya ikhlaskan sebagai bentuk bakti saya kepada negara.

Hari Ketujuh: Bertemu Teman Lama setelah 12 Tahun Berpisah

Hari ini adalah hari pertama masuk kerja setelah libur panjang. Tidak ada berleha-leha.

Pada hari pertama ini, pimpinan saya mengumpulkan semua staf di kantor untuk rapat. Kami diminta untuk berpikir yang berat-berat. Ada kerja sama dengan pihak luar, dan kami harus memecahkan bagaimana strategi untuk mengeksekusinya.

Hingga pulang kerja, tidak ada sesuatu yang berkesan yang saya kerjakan. Tidak ada sesuatu yang istimewa.

Hingga suatu ketika, sepulang kerja, selesai salat di masjid di tepi jalan dekat kantor, seseorang menyapa saya di tempat parkir.

“Assalamualaikum. Fakhruddin, kan?”

Kening saya berkerunyut.

Pria itu mengendarai motor sembari membonceng anak kecil di depannya. Ia memiliki jenggot tebal di wajahnya. Saya mengingat seseorang dari masa silam, tetapi saya benar-benar lupa namanya.

Ana Sumiken,” ujarnya.

“Oh, Sumiken,” kata saya sambil tersenyum lebar.

Kami lalu bersalaman.

Sumiken merupakan teman saya sewaktu sekolah di MAN Koto Baru dulu. Setamat dari sana, kami tidak pernah lagi bertemu, dan itu hampir 12 tahun. Kami tinggal di asrama dulu, dan saya mengingatnya sebagai orang yang suka melucu.

Setelah bertukar kabar, Sumiken bercerita bahwa ia sekarang mengajar di pesantren yang berada dekat kantor saya. Sudah sebulan lebih.

Setelah tamat dari MAN Koto Baru, dia kuliah di LIPIA Jakarta selama tujuh tahun. Kuliah di sana gratis, dan dia mendapatkan uang saku tiap bulannya.

Dia baru pulang beberapa tahun ini. Dia sudah menikah dengan orang Bukittinggi dan telah dikaruniai dua orang anak. Salah satunya yang diboncengnya itu. Dia bertanya di mana saya bekerja sekarang.

Saya jawab, “Di Ar Risalah, di yayasannya. Kerja sebagai humas. Tukang bikin berita.”

Dia menjawab, “Pantas.”

Sebab, saya dulu di MAN aktif menulis.

Saya mengatakan, setelah tamat kuliah, saya empat tahun jadi jurnalis. Sekarang saya di Ar Risalah, kerja di bidang tulis-menulis juga.

Setelah hampir setengah jam mengobrol, kami akhirnya berpisah. Dia berkata bahwa dia tinggal dekat sini.

Saya yakin akan bertemu dengannya lagi.

Kesimpulan

Ternyata, memikirkan satu hal istimewa yang membuat kita bahagia setiap hari memang bisa mengubah cara kita memandang hari tersebut.

Selama seminggu menjalani eksperimen ini, saya menemukan bahwa hal-hal yang membuat saya bahagia ternyata bukan sesuatu yang luar biasa.

Kadang hanya jalan-jalan bersama istri. Bertemu teman lama. Menemukan tukang cukur yang cocok. Memperbaiki kran air yang bocor. Membantu istri mencuci pakaian. Bahkan, memiliki kacamata untuk pertama kalinya. Hal-hal kecil.

Namun, mungkin justru karena selama ini saya terlalu sibuk menjalani rutinitas, saya lupa bahwa hal-hal kecil semacam itu sebenarnya ada hampir setiap hari.

Jangan katakan tidak ada. Di dalam setiap rutinitas, himpitan pekerjaan, atau apalah namanya itu, selalu ada hal istimewa yang kita kerjakan atau terima setiap harinya.

Oleh karena itu, sebelum tidur, coba pikirkan satu saja hal istimewamu hari ini. Entah itu sesuatu yang menyenangkan, berkesan, atau sekadar membuatmu tersenyum sebentar.

Siap-siap, kamu akan bersyukur dan merasa lebih baik. (fru)