Kolom

“Bak Dunia Kabau Anyuik”: Adat Minang di Ruang Live TikTok

×

“Bak Dunia Kabau Anyuik”: Adat Minang di Ruang Live TikTok

Sebarkan artikel ini
Neneng Isnaniah. (Foto: Dok. Pribadi)

TikTok telah berkembang lebih dari sekadar platform hiburan. Melalui fitur siaran langsung (live streaming), platform ini menciptakan ruang sosial baru tempat orang dapat berbicara, tampil, berinteraksi, dan membangun hubungan secara real-time.

Bagi masyarakat Minangkabau, fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: apa yang terjadi ketika nilai-nilai tradisional memasuki ruang digital di mana hampir setiap orang dapat tampil tanpa batasan sosial yang jelas?

Ungkapan “bak dunia kabau anyuik”—seperti dunia yang segala sesuatunya hanyut terbawa arus—tampaknya semakin relevan untuk menggambarkan interaksi sosial di TikTok saat ini. Orang-orang keluar-masuk sesi siaran langsung dengan bebas.

Percakapan bergulir dengan cepat. Orang asing berubah menjadi sosok yang terasa akrab. Aktivitas pribadi bisa tiba-tiba menjadi pertunjukan publik. Batasan yang dulunya memisahkan ranah domestik, sosial, dan publik kini tampak semakin cair.

Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika ditinjau melalui nilai-nilai budaya Minangkabau. Masyarakat Minangkabau sejak lama menjunjung tinggi prinsip raso jo pareso, (rasa dan pertimbangan), malu jo sopan (rasa malu dan kesopanan), serta kato nan ampek (empat jenis tutur kata) sebagai landasan penting dalam interaksi sosial.

Nilai-nilai ini mengajarkan individu untuk mempertimbangkan perasaan, posisi sosial, hubungan, dan kepatutan sebelum berbicara atau bertindak. Dengan demikian, komunikasi tidak pernah sekadar tentang apa yang disampaikan, melainkan juga kepada siapa, bagaimana, dan dalam konteks apa sesuatu dikomunikasikan.

Namun, TikTok beroperasi dengan logika yang berbeda. Visibilitas memiliki nilai tinggi. Interaksi didorong secara aktif. Semakin banyak orang yang merespons, berkomentar, membagikan konten, atau bertahan dalam sesi siaran langsung, semakin besar pula visibilitas sang kreator.

Dalam lingkungan ini, menjadi pusat perhatian sering kali dianggap sebagai bentuk keberhasilan. Pertanyaan pun bisa bergeser secara halus dari “Apakah hal ini pantas?” menjadi “Akankah orang menonton ini?”

Pergeseran ini dapat diamati melalui fenomena yang kian berkembang, yakni partisipasi ibu rumah tangga dalam siaran langsung (live) di TikTok. Berbagai aktivitas yang dulunya dianggap sebagai ranah domestik dan privat—seperti memasak, mengobrol, berjualan produk, berbagi cerita, atau sekadar menghabiskan waktu di rumah—kini dapat berubah menjadi pertunjukan publik.

Ruang tamu atau dapur bisa beralih fungsi menjadi studio. Sementara, percakapan biasa dapat berubah menjadi interaksi publik yang disaksikan oleh ratusan bahkan ribuan orang.

Baca Juga  Perempuan Berpendidikan dan Mitos tentang Istri yang Sulit Diatur

Hal ini tidak serta-merta harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Media digital dapat memberikan peluang bagi perempuan untuk mengekspresikan diri, membangun komunitas, memasarkan produk, mengembangkan kemandirian ekonomi, dan berpartisipasi dalam komunikasi publik.

Persoalannya bukanlah apakah perempuan patut tampil di ruang publik, melainkan bagaimana kehadiran tersebut dinegosiasikan di tengah nilai-nilai budaya yang secara historis telah membentuk perilaku sosial.

Fenomena serupa dapat diamati dalam interaksi antara mamak dan kemenakan. Dalam masyarakat Minangkabau, hubungan antara paman dari pihak ibu mamak dan keponakannya kemenakan bukan sekadar hubungan biologis semata, melainkan hubungan yang memikul tanggung jawab sosial dan budaya.

Secara tradisional, hubungan ini dibentuk oleh rasa hormat, batasan-batasan tertentu, bimbingan, serta pola komunikasi yang khas.

Ketika seorang mamak dan kemenakan tampil bersama dalam siaran langsung TikTok, hubungan mereka memasuki konteks komunikasi yang baru. Mereka tidak lagi berinteraksi semata-mata sebagai anggota keluarga.

Pada saat yang sama, mereka berperan sebagai penampil, komunikator, dan partisipan konten di hadapan audiens. Percakapan mereka tidak hanya disaksikan oleh kerabat, tetapi juga oleh orang-orang yang mungkin sama sekali tidak memahami dinamika hubungan mereka.

Hal ini menciptakan bentuk negosiasi budaya yang menarik. Seorang mamak mungkin berbicara secara santai dengan kemenakan dengan gaya yang mencerminkan hubungan keluarga masa kini.

Interaksi tersebut mungkin terasa hangat, jenaka, dan sangat wajar dari sudut pandang mereka. Namun, begitu ditempatkan di ruang digital publik, interaksi yang sama dapat memperoleh makna baru karena kini telah menjadi bagian dari pertunjukan yang dimediasi oleh teknologi.

Perspektif dramaturgi Erving Goffman dapat membantu menjelaskan transformasi ini. Interaksi sosial dapat dipahami sebagai sebuah pertunjukan di mana individu mengelola kesan yang mereka tampilkan di hadapan orang lain.

TikTok mengintensifkan proses ini karena mengubah kehidupan sehari-hari menjadi panggung yang berpotensi bersifat permanen. Apa yang dulunya terjadi di balik layar bisa tiba-tiba berpindah ke panggung depan.

Oleh karena itu, ranah domestik menjadi semakin terlihat oleh publik. Seorang ibu rumah tangga yang melakukan siaran langsung dari dapurnya tidak sekadar sedang memasak; ia juga sedang menampilkan sosok dirinya di hadapan audiens.

Seorang paman yang bergabung dalam sesi siaran langsung bersama keponakannya tidak hanya sekadar berbincang santai dengan keluarga. Ia turut serta dalam pertunjukan identitas keluarga di ruang publik.

Baca Juga  Perempuan Merdeka: Jiwa Berakar, Langkah Berlayar

Hal ini tidak berarti bahwa pertunjukan tersebut palsu. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa komunikasi berubah ketika ada audiens yang hadir. Orang menjadi lebih sadar akan cara mereka berbicara, penampilan mereka, dan bagaimana orang lain merespons mereka. Kamera mengubah konteks interaksi.

Konsep kato nan ampek menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Komunikasi masyarakat Minangkabau mengenal berbagai cara berbicara yang disesuaikan dengan hubungan dan posisi sosial. Kato mandata, kato mandaki, kato manurun, dan kato malereang mencerminkan pemahaman bahwa komunikasi harus mempertimbangkan konteks relasional.

TikTok membuat prinsip ini menjadi lebih rumit karena audiensnya sangat beragam secara sosial. Dalam satu kolom komentar, mungkin terdapat orang yang lebih tua, lebih muda, dikenal akrab, tidak dikenal, berasal dari desa yang sama, dari daerah lain, atau bahkan dari budaya yang berbeda. Struktur sosial tradisional menjadi kurang terlihat, sementara audiens digital menjadi semakin sulit diprediksi.

Oleh karena itu, tantangannya bukan sekadar apakah kato nan ampek masih ada. Pertanyaan yang lebih mendalam adalah bagaimana prinsip-prinsip komunikasi ini dapat diterapkan dalam lingkungan digital di mana batasan-batasan sosial tidak lagi terlihat secara langsung. Nilai-nilainya mungkin tetap relevan, namun penerapannya menuntut bentuk kesadaran yang baru.

Hal yang sama berlaku untuk nilai malu dan segan. Dalam kehidupan sosial tradisional, nilai-nilai ini berfungsi sebagai bentuk pengendalian diri. Orang mungkin bertanya pada diri sendiri apa yang akan dipikirkan orang lain, apakah suatu tindakan pantas dilakukan, atau apakah perilaku mereka dapat mempermalukan keluarga.

Namun, di TikTok, penerimaan sosial bisa mewujud dalam bentuk yang berbeda. Komentar, likes, jumlah penonton, pengikut, dan hadiah virtual bisa menjadi indikator penerimaan yang baru.

Situasi ini menciptakan ketegangan antara sikap menahan diri secara budaya dan keterlibatan di dunia digital. Sesuatu yang menarik perhatian belum tentu memiliki makna budaya yang mendalam.

Sesuatu yang memancing tawa atau kontroversi mungkin mendapatkan lebih banyak penonton dibandingkan sesuatu yang menunjukkan kebijaksanaan. Algoritma tidak memahami konsep malu, segan, ataupun raso jo pareso. Algoritma merespons pola-pola keterlibatan digital.

Mungkin di sinilah letak tantangan yang sesungguhnya. Kendali sosial tradisional bertanya, “Apa kata orang di komunitas saya?” Budaya digital semakin sering bertanya, “Apa kata audiens?” Perbedaannya signifikan. Komunitas tradisional biasanya memahami latar belakang dan hubungan antaranggota, sedangkan audiens digital sering kali tidak.

Baca Juga  Ketika Buku Tidak Menghapus Dapur

Oleh karena itu, orang asing bisa saja mengomentari interaksi keluarga tanpa memahami konteks budayanya. Sebuah klip pendek bisa beredar di luar makna aslinya.

Lelucon yang terasa biasa saja di dalam keluarga bisa ditafsirkan secara berbeda oleh audiens luar. Komunikasi digital menghilangkan konteks lebih cepat daripada menghilangkan visibilitas.

Namun, tidak adil jika menyimpulkan bahwa TikTok semata-mata menghancurkan nilai-nilai Minangkabau. Budaya tidak pernah statis; ia senantiasa berinteraksi dengan perubahan sosial, teknologi, migrasi, ekonomi, dan bentuk-bentuk komunikasi baru.

Apa yang kita saksikan saat ini mungkin bukanlah hilangnya adat. Akan tetapi, proses negosiasi adat dengan lingkungan komunikasi yang baru.

Kekhawatiran yang sesungguhnya bukanlah soal apakah seorang mamak dan kemenakan boleh tertawa bersama di TikTok, atau apakah seorang ibu rumah tangga boleh melakukan siaran langsung (live). Hal yang lebih penting adalah apakah individu tetap sadar akan martabat, batasan relasional, dan konsekuensi saat berpartisipasi dalam ruang digital.

Dalam pengertian ini, raso jo pareso justru bisa memiliki relevansi baru. Nilai ini tidak harus berfungsi sebagai larangan untuk tampil di ruang publik.

Sebaliknya, ia bisa menjadi bentuk kesadaran diri digital: mengetahui apa yang patut dibagikan, apa yang harus dijaga privasinya, bagaimana cara bertutur kata, dan kapan perhatian publik mulai melampaui batas-batas martabat.

Oleh karena itu, budaya Minangkabau tidak perlu serta-merta menolak TikTok. Budaya ini perlu hadir di platform tersebut dengan kesadaran budaya. Tantangannya adalah bagaimana membuat adat berbicara dalam bahasa era digital tanpa mereduksi adat menjadi sekadar simbol, kostum, atau slogan semata.

TikTok mungkin memang terasa seperti dunia tanpa pagar—dunia kabau anyuik (kerbau hanyut) di mana siapa saja bisa tampil, berbicara, dan berinteraksi. Namun, bahkan di dunia tanpa pagar fisik, seseorang tetap bisa membawa kompas internal.

Bagi masyarakat Minangkabau, kompas tersebut dapat ditemukan dalam nilai-nilai raso jo pareso, malu jo sopan, kato nan ampek, serta kesadaran akan makna sosial di balik setiap interaksi.

*Penulis: Neneng Isnaniah (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas)