Kolom

Ketika Buku Tidak Menghapus Dapur

×

Ketika Buku Tidak Menghapus Dapur

Sebarkan artikel ini
Neneng Isnaniah. (Foto: Dok. Pribadi)

Ada anggapan umum dalam masyarakat modern: semakin tinggi pendidikan seorang perempuan, semakin jauh ia harus menjauh dari tanggung jawab domestik. Pendidikan sering kali dibayangkan sebagai tangga yang membawa perempuan keluar dari dapur, menjauh dari pekerjaan rumah tangga, dan menuju ranah profesional.

Namun, anggapan ini mengandung kesalahpahaman yang halus. Pendidikan tidak serta-merta menghapus peran domestik perempuan. Sebaliknya, pendidikan dapat mengubah cara ia memahami, menjalankan, dan memaknai peran tersebut.

Seorang perempuan mungkin memiliki gelar universitas, membaca literatur akademis, berbicara dengan percaya diri di depan umum, dan membangun karier profesional, namun tetap pulang ke rumah untuk menyiapkan hidangan. Ia bisa saja menghadiri konferensi di pagi hari dan menata meja makan di malam hari.

Aktivitas-aktivitas ini tidak harus dianggap sebagai pertentangan. Semuanya merupakan bentuk ekspresi berbeda dari sebuah kehidupan yang tidak selalu bisa disederhanakan menjadi satu identitas tunggal.

Masalah muncul ketika masyarakat memandang pekerjaan domestik sebagai bukti kegagalan intelektual. Perempuan berpendidikan tinggi yang memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak, atau mengelola rumah tangga terkadang dianggap sebagai seseorang yang telah “menyia-nyiakan” pendidikannya.

Pandangan semacam itu mencerminkan pemahaman yang sempit tentang pengetahuan. Jika pendidikan hanya dianggap bernilai ketika menghasilkan karier di luar rumah, berarti kita telah mereduksi makna pengetahuan sebatas produktivitas ekonomi.

Padahal, pengetahuan seharusnya membuat seseorang lebih mampu memahami kehidupan dalam segala kompleksitasnya. Pendidikan tidak semestinya hanya mengajarkan perempuan cara bersaing di dunia profesional.

Pendidikan juga harus membantu mereka mengambil keputusan yang lebih bijak, berkomunikasi secara lebih efektif, memecahkan masalah, dan memberikan kontribusi bermakna bagi orang-orang di sekitarnya.

Dalam pengertian ini, pengetahuan tidak membuat kehidupan domestik menjadi lebih kecil atau remeh. Pengetahuan justru dapat menjadikan kehidupan domestik lebih penuh pertimbangan dan dijalani dengan tujuan yang jelas.

Baca Juga  “Bak Dunia Kabau Anyuik”: Adat Minang di Ruang Live TikTok

Dapur itu sendiri bisa menjadi tempat di mana pengetahuan mewujud dalam bentuk praktis. Gizi, ekonomi, manajemen waktu, kebersihan, komunikasi, dan bahkan kreativitas dapat diterapkan dalam lingkup rumah tangga. Menyiapkan makanan bukan sekadar aktivitas mekanis.

Kegiatan ini bisa melibatkan pengambilan keputusan terkait kesehatan, anggaran, budaya, preferensi keluarga, dan bentuk kepedulian. Fakta bahwa pengetahuan semacam itu dipraktikkan di dapur tidak menjadikannya lebih rendah secara intelektual.

Sayangnya, percakapan modern mengenai perempuan terkadang menciptakan bentuk tekanan lain. Perempuan didorong untuk membuktikan bahwa mereka bisa sukses di luar rumah, namun mereka juga bisa dinilai negatif jika memilih untuk memprioritaskan keluarga.

Hasilnya adalah sebuah paradoks baru: perempuan diberi tahu bahwa mereka bebas memilih, namun pilihan-pilihan tertentu masih dianggap lebih bergengsi dibandingkan yang lain.

Seorang perempuan tidak seharusnya dituntut untuk membuktikan kecerdasannya dengan cara meninggalkan segala hal yang secara tradisional dikaitkan dengan feminitas. Ia juga tidak boleh dipaksa untuk tetap berada dalam batasan domestik semata-mata karena ia seorang perempuan.

Persoalan utamanya bukanlah apakah ia bekerja di kantor atau di dapur. Persoalan utamanya adalah apakah ia memiliki kebebasan, martabat, dan kapasitas untuk menentukan bagaimana pengetahuan serta kemampuannya akan digunakan.

Ada pula bahaya dalam mengagung-agungkan kehidupan domestik secara berlebihan. Pernyataan bahwa perempuan dapat menemukan makna dalam tanggung jawab rumah tangga tidak boleh dijadikan alasan untuk menghalangi mereka mendapatkan kesempatan pendidikan, kemandirian ekonomi, atau partisipasi dalam kehidupan publik.

Kontribusi perempuan terhadap keluarganya patut dihargai, namun demikian pula aspirasinya di luar lingkup rumah tangga. Menjadi utuh tidak berarti harus terkungkung.

Baca Juga  Kecantikan Tumbuh dari Kata-Kata

Demikian pula, pendidikan bagi perempuan tidak boleh dipahami sebagai persiapan untuk melarikan diri dari tanggung jawab keluarga. Pendidikan seharusnya membekali perempuan untuk menyikapi tanggung jawab secara lebih bijak, termasuk mengetahui kapan harus memimpin, kapan harus bekerja sama, kapan harus mendelegasikan tugas, dan kapan harus berkata tidak.

Nilai seorang perempuan terpelajar tidak berkurang karena ia mengurus keluarganya; justru, ia menjadi lebih sadar mengenai bagaimana ia ingin berkontribusi.

Mungkin masalah yang lebih mendasar terletak pada bagaimana kita mendefinisikan kesuksesan. Masyarakat cenderung mengagungkan pencapaian yang terlihat nyata: gelar akademis, promosi jabatan, publikasi karya, posisi penting, dan keberhasilan finansial.

Sementara itu, berbagai bentuk kepedulian dan pengabdian sering kali tidak terlihat. Anak yang tumbuh dengan merasa didengarkan, keluarga yang belajar berkomunikasi dengan penuh rasa hormat, atau rumah tangga yang dikelola dengan bijaksana jarang tercantum dalam riwayat hidup (resume). Padahal, hal-hal tersebut memiliki dampak sosial yang sangat besar.

Oleh karena itu, percakapan ini harus melampaui pertentangan sederhana antara “perempuan terpelajar” dan “perempuan yang berfokus pada urusan domestik.” Kategori-kategori ini tidak harus saling membenturkan.

Seorang perempuan bisa saja memiliki ambisi intelektual yang tinggi sekaligus ikatan yang erat dengan keluarganya. Ia bisa menjadi seorang profesional sekaligus seorang ibu. Ia bisa menikmati diskusi akademis namun tetap merasa puas saat menyiapkan makan malam. Identitas manusia jauh lebih kompleks daripada label-label sosial yang kita ciptakan untuknya.

Perspektif ini juga mengajak laki-laki untuk meninjau kembali peran mereka. Beban mengurus rumah tangga tidak seharusnya secara otomatis jatuh ke pundak perempuan hanya karena pekerjaan domestik secara historis dikaitkan dengan mereka.

Baca Juga  Perempuan Merdeka: Jiwa Berakar, Langkah Berlayar

Jika perempuan didorong untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan dan dunia profesional, laki-laki pun seharusnya berpartisipasi penuh dalam pengasuhan dan tanggung jawab rumah tangga. Kemitraan yang benar-benar setara bukanlah tentang membuat perempuan bersikap seperti laki-laki; melainkan tentang mengakui martabat dari setiap bentuk kontribusi.

Oleh karena itu, pendidikan seharusnya tidak menghasilkan perempuan yang merasa malu dengan urusan domestik, ataupun perempuan yang kehilangan kesempatan di luar ranah tersebut.

Pendidikan semestinya melahirkan perempuan yang memahami pilihan-pilihan mereka, menyadari nilai diri mereka, serta memiliki kepercayaan diri untuk membangun kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Perempuan berpendidikan tidak seharusnya dipaksa memilih antara memiliki wawasan intelektual dan memiliki kehidupan rumah tangga.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti mempertanyakan mengapa seorang perempuan yang berpendidikan tinggi masih saja masuk ke dapur. Sebaliknya, kita bisa mengajukan pertanyaan yang lebih bermakna: mengapa kita berasumsi bahwa pencapaian intelektual dan peran domestik tidak bisa bersanding dalam diri seseorang?

Sebuah buku tidak lantas kehilangan nilainya hanya karena pembacanya bisa memasak. Pengetahuan tidak serta-merta lenyap saat seorang perempuan mengenakan celemek di pinggangnya.

Pada akhirnya, keutuhan diri seorang perempuan tidak dapat diukur dari seberapa jauh ia melangkah meninggalkan dapur, ataupun seberapa sukses ia berkiprah di dunia profesional.

Keutuhan itu terletak pada kemampuannya untuk mengembangkan intelektualitas, merawat hubungan, mengejar aspirasi yang bermakna, serta membuat pilihan secara sadar mengenai kehidupan yang ingin ia bangun. Buku mungkin membuka dunia baginya. Namun, hal itu tidak mengharuskannya menutup pintu bagi kehidupan rumah tangga.

*Penulis: Neneng Isnaniah (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas)