Ranah

Tradisionalitas

Hal yang tak dapat dipungkiri adalah perubahan. Dahulu engkau muda sekarang sudah menua. Dahulu mandi ke sungai sekarang mandi di dalam bilik. Dahulu pakai pita kaset sekarang dalam bentuk digital. Perubahan itu bisa saja dilalui pun tanpa disadari.

Belakangan ini kita memiliki kegandrungan khusus untuk dunia tulisan dan tulis menulis. Sepertinya kesempurnaan dan titik tertinggi peradaban ini adalah mengenai kemampuan dalam menuliskan sesuatu. Dan orang hebat pun ditandai dengan apa-apa saja yang sudah dia tulis.

Tak aneh lagi, jika ada orang yang sukses walaupun dalam bidang yang tak ada hubungannya dengan tulis menulis, sepertinya belum hebat kalau belum menulis seperti menulis di Koran atau mencetak buku.

Seorang politisi misalnya, atau seorang yang kaya raya karena hebat berniaga. Dan yang lebih menarik lagi adalah ada juga orang yang berperan dalam dunia kepenulisan ini selaku tukang tulis. Bahasa lainnya adalah penulis hantu. Dia yang menulis, tapi dibuat atas nama orang besar yang membayarnya. Kalau anda tidak senang dan kurang sepakat dengan sesuatu, tulis lah di Koran, semua bisa buncah. Dan kebanyakan orang pun jadi segan dengan wartawan yang bisa menulis untuk media, media yang berpengaruh.

Coba lihat, dengan perubahan zaman hari ini, kemajuan teknologi komputer dan informasi, tulis-menulis menjadi begitu menentukan. Ada, mungkin, suami istri yang lebih banyak berkomunikasi lewat elektronik dari pada berbicara langsung. Lewat tulisan. Dan jika mereka berceraipun, lebih kuat jika ada surat cerai karena menikahpun lebih kuat dengan ada surat-surat. Tertulis lagi. Hukum yang kuatpun adalah yang ada dalam bentuk tertulis. Sebaliknya jika anda berada pada basis lisan, maka anda adalah yang tertinggal. Kuno.

Ketika belum ada tulisan, ya ketika tulisan tidak begitu populer, di mana kah sesuatu seperti undang-undang, peraturan-peraturan, tata-tertib, dan petunjuk penggunaan serta segala sumber pengetahuan diletakkan. Tentunya pada lisan. Di mana dan bagaimana semua konten tersebut dipelihara, ditransmisikan, serta disebarluaskan. Jawabannya ada pada sastra lisan.

Sebahagiannya menyebutnya dengan sastra tradisional karena ingin mengatakan bahwa tulisan adalah sastra modern. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu yang ditulislah yang disebut dengan sastra, literatur. Kitab suci pun, bagi mereka yang percaya agama, awalnya diterima berbentuk lisan dari malaikat kepada nabi-nabi dan kemudian dituliskan, dan itu lah karya tulis (boleh dibaca literatur) yang sangat mempengaruhi peradaban di dunia. Hingga hari ini.

Namun hal yang menarik yang dapat kita cermati adalah, kemajuan manusia dengan peningkatan kadar kompleksitas kehidupan mendorong penggunaan tulisan sebagai media penyimpanan ide dan komunikasi ide, dan ketidaklangsungan dalam berinteraksi adalah sebuah bentuk keefektifitasan dimana secara fisik manusia tidak bisa berada di dua tempat berbeda. Manusia hari ini sangat komplek seperti ide dan tingkah lakunya, dan ketika saya mencoba VR (virtual reality), saya percaya manusia bisa menyelesaikan masalah ruang. Lalu bagaimana dengan waktu.

Inilah yang menjadi keunikan sastra tradisional. Pengarang-pengarang sastra lisan tidak ada diketahui secara pasti, tentu saja di mana pula akan disematkan nama pengarang pada sebuah kelisanan dan bagaimana meraka akan mengkalakan waktu secara rinci. Dan itu bedanya dengan karya sekarang, heboh dengan plagiarism. Produk sastra lisan merupakan kesimpulan alam yang tidak terbantahkan dan menjadi hukum yang lekang karena memiliki unsur generik yang tinggi.

Pada umumnya, sastra tradisional Melayu seperti pantun memiliki ketahanan makna yang lebih kuat hingga ini hari sesuai dengan ketahanan geologisnya, dan entitas pesan berpadu dengan entitas alam melalui kesatuan sampiran dan isi.

Kekuatan utama dari beberapa jenis sastra tradisi, seperti pantun dan teka-teki, adalah kelekangan peribahasa yang menjadi unsur pembangunnya. Peribahasa ini adalah kristalisasi pemikiran dan sistem implementasi pemikiran (alam) tersebut dalam realitas sosial yang disebut dengan budaya atau sistem ide. Walau anda mengetahui ada beberapa lagu dan syair dalam bahasa Melayu atau bahasa ibunya bahasa Minangkabau, belum tentu itu adalah sastra tradisional.

Selain pada bentuk, salah satu ciri lain dari sastra tradisional Melayu adalah ketidak-langsungan (indirectness). Di sinilah salah satu indikasi yang diberikan oleh kehadiran sampiran, selain dari penggunaan metafora yang lebih umum dan dapat ditemukan di genre lain. Ketidak-langsungan inilah yang menjadi toleransi terhadap waktu, dia cendrung relevan dan kerenggangan ini yang menjadi hunian musim.

Tidak semua yang kuriak itu kundi, tapi di mana bertemu kundi itu kuriak.
Sastra traditional itu melekat kepada tradisi. Genre-genrenya hadir pada setiap prosesi, ritual dan seremoni seperti perayaan kelahiran, perkawinan dan ritual kematian serta proses-proses yang ada di dalamnya.

Selain itu, perlu diingat, bagaimana orang tradisional mewariskan ilmu kepada generasinya dan bagaimana mereka menyimpannya, yang tidak kenal dengan istilah edisi revisi dan hal-hal yang diakibatkan oleh pengkonritan sesuatu. Bagi yang masa kecilnya terutama dibesarkan tradisi tentu mereka sangat paham.

Sastra lisan itu bersarang di kepala tidak di perpustakaan. Apakah sastra tradisional itu berubah?

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up