Ranah

Tak Ada Maksud

Tak ada maksud untuk menyakiti, tak ada maksud untuk merendahkan, tak ada maksud untuk menyinggung, tak ada maksud untuk menghindar dan tiada maksud, tiada maksud lainnya.

Teman-teman sering mendengar ungkapan ini tentunya, yakni ketika kita mempertanyakan sikap seseorang, baik yang menyinggung maupun kurang mengena. Misalnya, ketika ada yang mengatakan bahwa pelaku tahlil atau zikir atau pelaku shalawat, masuk neraka. karena perkara itu bid’ah, tak dilakukan nabi. tentu ada banyak orang yang tersinggung.

Ketika dikatakan, bahwa pernyataan itu menyinggung umat Islam. Biasanya, ia akan berdalih tak ada maksud untuk menyinggung dan hanya menyampaikan kebenaran.

Demikian pula ketika, ada orang meminjam buku dalam waktu yang lama. Lalu ditagih berkali-kali oleh si empunya buku, sehingga puncaknya, ia menyebut bahwa si peminjam selalu punya alasan. Dan karena ia tak lagi muncul dalam pergaulan.

Si peminjam, biasanya akan berujar, “Tak ada maksud untuk menghindar, saya sedang sibuk”. Hal yang sama pula kita, temukan ketika kasus Ahok, soal Al-Maidah. Lalu ada yang menyebut, “Ahok tak bermaksud menghina Al-Qur’an”.

Atau, ketika seseorang bercanda di hadapan khalayak ramai, lalu ada orang yang tersinggung dan protes, karena candaan yang berlebihan atau hal yang sensitif. orang ini pun akan berdalih, tak ada maksud untuk menyinggung. demikian seterusnya.

Dari mana kita tahu maksud seseorang? Secara bahasa, maksud itu ada dalam hati. dan tak ada siapapun yang tahu selain ia dan Tuhan. Meski yang lahir tak selalu menunjukkan yang batin seperti, koruptor yang selalu rapi, tetapi manusia menilai dari yang lahir.

Ingat, perkara yang dilakukan dengan sengaja, adalah maksud atau tujuan dari perkara itu sendiri.
yang menjadi fakta dan menyejarah adalah apa yang tampak lahir. Karena dari situlah kesimpulan diperoleh.

Misalnya, ada orang yang bilang, “Saya tidak bermaksud lari dari hukum, tapi mengelak untuk diperiksa” Itu artinya dia bermaksud untuk lari. Tapi pada akhirnya akan terpaksa nurut. Namun, mohon, jangan bilang patuh hukum karena memenuhi panggilan penyidik. Anda terpaksa kok.

Mungkin ada yang “Saya tidak bermaksud bikin kegaduhan, tapi antar satu lembaga dengan yang lain tak dikoordinasi dengan baik” ini berarti, ia bermaksud bikin gaduh. Kalau tidak, pastilah ia koordinasikan dengan baik.

Ada juga yang bilang “Saya tidak ada maksud untuk propaganda PKI, tapi Film G 30 S disuruh putar” Padahal dengan film itu, ia ingin propagandakan PKI.

Ada yang bilang “Tak ada maksud untuk menyakiti, tapi cintanya digantung terus atau tak bermaksud menyakitimu, tapi bilang cerai, putus, atau diam-diam dipoligami” Sakit tauuu.

Atau “Saya tidak bermaksud kriminalisasi ulama, tapi pemuka agama dicari-cari kesalahannya untuk dipidana” Mencari-cari kesalahan, itu artinya mau kriminalisasi ulama.

Atau “Kami tidak bermaksud dukung Meikerta, tapi iklannya diterima” Dan seterusnya, dan seterusnya.

Ingat, alasan muncul tidak hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, Waspadalah! Waspadalah!

Selamat jalan Bang Napi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up