Ranah

Tak Ada Air Kedamaian di Sayidan, Hanya Wedang Keplok

Pernahkah anda mendengar lagu Shaggy Dog dengan judul “Di Sayidan”? Mungkin ada yang sangat hafal malahan. Tapi, saat saya ingin membuktikan adanya air kedamaian di Sayidan, hanya kegagalan yang ada. Terlebih, tak ada yang namanya air kedamaian, hanya wedang keplok saja.

Ada yang mengerti, ada yang tidak soal air kedamaian ini. Namun, Shaggy Dog sengaja mencantumkan kata air kedamaian itu ke dalam lagunya. Masih jadi misteri bagi saya sendiri, apa yang  mereka maksud dengan air kedamaian dan kenapa Sayidan menjadi tempatnya?

Sejak menjejakkan kaki di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah, saya berniat untuk singgah di Yogyakarta. Selain berebut foto dengan ratusan orang di papan jalan Malioboro, menikmati makanan ala Jogja, saya juga ingin singgah ke Sa(rkem)yidan.

Semasa kuliah, setiap pergi karokean bersama kawan sebaya, saya selalu memutar lagu Shaggy Dog yang berjudul “Di Sayidan”. Walau suara cempreng serupa kaleng bekas ditendang, saya tetap pede dengan lagu itu.

Singkat cerita, setelah berjalan selama beberapa hari ke Yogyakarta, sampailah saya di Sayidan. Sebuah jembatan yang ramai dijadikan tempat berfoto. Sayapun bertanya pada warga sekitar. Pada tukang becak, pak ogah, mas pedagang angkringan, tukang ojek dan pada pedagang es durian. Mereka bungkam.

Hampir putus asa. Dengan kaki gontai, saya susuri gang-gang kecil di kampung Sayidan itu. Di dalam perkampungan saya sedikit canggung untuk bertanya soal air kedamaian. Terlebih, saya bukan warga sekitar, terlihat benar sebagai pendatangnya dengan bahasa Indonesia dialek Sumatera. Niat untuk bertanyapun jadi urung.

Tak putus asa, sayapun keluar dari gang-gang kampung Sayidan, lalu bertanya pada beberapa orang yang tengah asyik ngobrol dalam bahasa Jawa di sudut jembatan. Setelah berbincang agak lama. Saya baru tahu, yang dimaksud Grup Band Shaggy Dog itu adalah Lapen.

Sebagai generasi yang bergantung dengan Google, sayapun mencari literatur soal lapen ini. Tak usah berpanjang lebar, nanti juga dipotong sama editor ranah.id ini, silahkan cari sendiri soal lapen di Google.

Jembatan Sayidan

Tapi, bagi pendatang baru di dunia per-lapen-an, mungkin kita bisa saling berbagi cerita. Setelah mencari data soal lapen. Tukang becak, akamsi (anak kampung sini), tukang angkringan dan segenap makhluk di Sayidan coba saya tanyai kembali. Tentunya pertanyaan soal lapen, yang katanya cuma campuran alkolhol, air dan perisa rasa buah buahan.

Kali ini tak ada kernyit di dahi mereka. Banyak di antara mereka yang tertawa. Tak sedikit juga yang balik bertanya “Mas, ngejengan tau ndak lapen itu apa?” Atau “Ngejengan asalnya dari mana?” Kata mereka. Lalu berbasa basi dan menolak memberi informasi.

Entah karena terlalu pagi, entah karena memang lapen hanya dijual pada orang-orang tertentu saja. Namun, saya beruntung, salah satu mas penjaga angkrinan sekitar Sayidan berbagi cerita. “Masnya telat, terakhir itu sebelum ramadhan, kalau sekarang ya ndak tau apa masih ada yang jual atau ndak, coba cari ke tempat lain, kalau di sini saya ndak tau apa masih,” ujarnya dengan dialek Jawa.

Lapen tak jadi di dapat, sebelum senja, saya sudah meninggalkan Jogja menuju Gunung Kidul. Beberapa hari berdiam di Gunung Kidul, saya kembali punya kesempatan melintasi Jembatan Sayidan dengan keluarga angkat yang memang warga asli Yogyakarta.

Iseng, sayapun bertanya. Menurut keluarga angkat saya, taka da istilah lapen untuk minuman keras tradisional itu. Kata lapen terlalu vulgar. Mereka lebih mengenalnya dengan istilah “Wedang Keplok”. Sayapun diajari bagaimana mengucapkan kata “Keplok” dengan makharijul huruf ala orang Jogja.

Wedang Keplok sama saja dengan lapen. Namun, istilah ini membuat anda lebih familiar dengan warga Sayidan dan beberapa komunitas atau kumpulan pemuda yang biasa membeli lapen di jembatan Sayidan. Cara pemesannyapun lebih unik dan tak kentara. Anda hanya cukup melakukan “keplok”-an khas. Yakni melakukan tiga kali keplokan tanpa jeda dengan drusai perkeplokan yang berirama.

Usai anda keplok, menurut cerita mereka. Akan ada orang yang melongok ke arah atas jembatan dari kampung Sayidan ataupun dari kampung Ratmakan yang berada di sisi lainnya. Setelah ada yang muncul karena mendengar keplokan anda dari atas jembatan, anda harus melakukan keplokan lagi sebanyak tiga kali, atau langsung bicara saja mau lapen rasa buah apa.

Usut punya usut, menurut beberapa kawan di Jogja. Penamaan Wedang Keplok tidaklah lumrah, hanya beberapa komunitas saja. Mereka menamai wedang keplok karena lapen juga menghangatkan tubuh dan biasa dibeli saat malam berangsur pekat.

Tak puas dengan informasi itu. Hari terakhir di Jogja, say kembali mendatangi jembatan Sayidan. Mencari wedang keplok, lapen, air kedamaian, atau apapun namanya.
Tiga orang penarik becak yang tengah membantu temannya memperbaiki becaknya yang putus rantai di jembatan Sayidan jadi sasaran saya. Mereka menahan tawa saat saya tanya soal wedang keplok. Menurutnya saya salah alamat, harusnya datang beramai-ramai saat menjelang tengah malam. Bukan sore hari.

“Wedang keplok ya? Malam to mas, sekarang ya ndak ada,” kata penarik becak itu.

Karena jadwal perjalanan mengharuskan saya meninggalkan Jogja sore itu. Sayapun gagal lagi untuk kedua kalinya membuktikan nyanyian Shaggy Dog “Di Sayidan”.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up