Ranah
Featured Video Play Icon

Sutan Sjahrir Sosok Disruptif Pembeda Sejarah Republik

Saat seorang serdadu “andjing NICA” menodongkan sepucuk senapan, ia bergeming. Si kancil penuh muslihat ini bukan tanpa daya, tetapi ia tahu bagaimana caranya menghadapi serdadu-serdadu yang menyerbu atas nama kebencian pada Jepang dan Indonesia merdeka.

Romo Mangun dalam “Burung-Burung Manyar” memberi nama pada salah seorang prajurit yang mencegat sang Perdana Menteri itu Setadewa alias Teto yang bapaknya masuk interniran Jepang sementara ibunya yang Indo jadi gundik seorang opsir tentara Jepang lantas berubah menjadi gila.

Bagaimana Teto tidak kesal, lelaki kecil berwajah culas mirip tukang catut itu sekarang menjadi corong dari komprador-komprador Jepang Soekarno-Hatta yang meneriakkan kemerdekaan Indonesia. Niat Teto dihentikan serdadu Inggris yang sedang patroli.

Rasa hormat prajurit Inggris pada si kancil membuat emosi Teto semakin menjadi-jadi. Kejadian sebenarnya terjadi pada Desember 1945, saat kekuatan Belanda bersama sekutu mulai memasuki Jakarta.

Si Kancil, perdana menteri pertama kita, Sutan Sjahrir bukan tanpa cedera; mobilnya ditembaki, kepalanya dipukul dengan gagang pistol tetapi Sjahrir meminta kejadian itu tidak disiarkan. Sjahrir tidak ingin segenap pemuda, berperang untuk kebencian.

Anak muda mana yang tidak akan iri kepada Sjahrir, pada usia 36 tahun ia ditunjuk menjadi Perdana Menteri. Pada saat itu ia adalah salah satu pemimpin pemerintahan paling muda di dunia.

Ini tentu bukan tanpa sebab, Sjahrir punya kualitas untuk jabatan itu. Nama Sjahrir bersih di jaman Jepang, sebab berbeda dengan Soekarno-Hatta, ia memilih bekerja di bawah tanah menolak kerjasama dengan Jepang.

Ia adalah tipikal pemimpin yang mengandalkan kaderisasi bukan agitasi massa. Sjahrir mengedepankan akal sehat dan rasionalitas, sebab itu pula ia banyak dibenci. Penunjukan Sjahrir sebagai Perdana Menteri membuahkan hasil, perlahan dunia internasional bisa diyakinkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah rekayasa Jepang.

72 tahun yang silam, Republik ini benar-benar menjadi negeri anak muda, kita memiliki Perdana Menteri berusia 36 tahun dengan Panglima Besar Tentara berusia 29 tahun. Ini bukanlah utopia yang biasa ditampilkan lewat jaringan pertemanan internet.

Manusia-manusia ini dilahirkan oleh revolusi, bukan karena mereka menginginkannya tetapi kehendak zaman menginginkan mereka.

Berbicara tentang si kancil Sjahrir misalnya, ia tidak muncul begitu saja di tengah hiruk pikuk politik. Jauh di negeri Belanda sana, ia telah mulainya bersama Hatta pada saat masih berusia awal dua puluhan.

Pada usia 26 tahun, bersama Hatta ia merasakan neraka Digoel untuk selanjutnya dipindahkan ke Bandaneira. Pada zaman Jepang ia bergerak di bawah tanah, mengambil risiko dari intaian kempeitai Jepang. Bahkan setelah jadi perdana menteri pun Sjahrir mengalami penculikan pada 26 Juni 1946 dalam konflik politik internal republik.

Kenapa Sjahrir begitu mencorong dalam usia yang terhitung sangat muda? Karena ia tidak pernah melepaskan tabiat anak mudanya, selalu menampilkan pemikiran yang berbeda. Sjahrir adalah sosok yang menurut istilah sekarang bersifat disruptif.

Ia mengkritik konsep nasionalisme ala Soekarno, Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita.

Berbeda dengan kebanyakan pemimpin pada masa itu, Sjahrir juga memiliki cara pandang sendiri tentang persatuan, Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan.

Saya suka dengan Sjahrir karena ia bukanlah tipikal anak muda yang “bermanis-manis” untuk mendapatkan kekuasaan layaknya banyak anak muda sekarang yang mendaki jenjang lewat taktik “kritik-jilat”. Sjahrir juga bukan tipikal manusia Indonesia sekarang yang berusaha bermanja-manja dengan penderitaan yang dibuat-buat hanya untuk mendapatkan simpati dan dukungan.

Saya membayangkan betapa gagahnya Sjahrir pada saat berpidato dalam siding KNIP dan berteriak, “revolusi kita harus dipimpin oleh golongan demokratis yang revolusioner dan bukan oleh golongan nasionalistis yang pernah membudak kepada fasis-fasis lain, fasis kolonial Belanda atau fasis militer Jepang. Orang-orang ini harus dianggap sebagai pengkhianat perjuangan. Sekalian politieke collaboratoren dengan fasis Jepang harus dipandang sebagai fasis sendiri” Pidato yang membuat lebih dari separuh anggota sidang mengambil sikap oposisi terhadap kabinet Sjahrir.

Kita tahu dari sejarah, Sutan Sjahrir pada akhirnya juga mesti berakhir dalam penjara Soekarno, suatu hal yang tampaknya telah ia perkirakan jauh-jauh hari. Sjahrir yang meninggal pada tahun 1966 dalam usia 57 tahun tidak banyak meninggalkan warisan kecuali semangat muda yang riang gembira menikmati perjuangan.

Saya sering bertanya-tanya, bagaimana bisa Sjahrir menikmati episode berat kehidupan dalam usia yang masih sangat muda. Jawabannya saya temukan dalam sebait sajak Schiller yang sangat digemari Sjahrir, Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.

(Video oleh A Haris KS)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up