Ranah

Surat Pertama Dari Calon Presiden Asgardia

28 tahun hidup dan ikut pemilu pertama (dan satu-satunya) dengan bismillah mencoblos PKS, saya tetap kecewa dengan Indonesia. Iseng-iseng saya mencoba menjadi penduduk luar angkasa. Sangat mudah, mendaftar jadi penduduk angkasa dari pada mengurus paspor melancong ke Malaysia yang tiketnya lebih murah daripada pesawat kelas ekonomi ke Padang sana.

Asgardia, sebuah website yang katanya mau menjadi Negara luar angkasa pertama. Ini adalah terobosan paling mutakhir sepanjang kehidupan manusia. Zaman dulu memang ada yang punya ide gila serupa. Sayang, internet belum ada, sehingga mereka tetap cerdas dan waras.

Mendaftar menjadi warga Negara Asgardia tidak perlu harus ikut gerakan separatis, tak perlu angkat senjata dan teriak “Bubarkan!” di media sosial lalu diburu polisi dengan UU ITE yang serupa karet kolor kuli bangunan. Bisa menjerat siapa saja, termasuk tulisan ini.

Ayolah… Republik ini terlalu serius. Pantas saja ada 20.306 pengguna email yang mengaku berada di Indonesia mendaftarkan dirinya untuk menjadi warga Negara Asgardia. Mereka adalah generasi pertama dari Republik ini yang mengamalkan rayuan seorang pacar yang tak punya uang untuk menikahi pasangannya “Orang di bumi jahat-jahat, kita pindah ke langit saja”.

20.000 lebih orang ini akan terus bertambah setiap bulannya, karena akhir Juli lalu, cuma belasan ribu. Mungkin setelah membaca ini Anda tertarik menjadi orang berikutnya?

Anda hanya membutuhkan, email, sedikit kuota internet untuk mengakses google translate. Sebab, meski Indonesia masuk Negara 7 besar populasi manusia yang ingin menjadi Asgardians (sebutan bagi kami para calon penghuni neraka Asgardia), tetap saja bahasa Indonesia bukan bahasa yang diakui di sana.

Jadi, sumpah pemuda dan nasionalisme yang mendarah daging itu tak berguna. Mau di bumi atau di angkasa, kita tetap tidak menjadi Indonesia Raya. Jangan berdebat, meski Indonesia  merupakan Negara dengan penduduk terbesar dan memeluk agama Islam di dunia, dalam bahasa saja kita tidak Kaffah.

Pada 17 Agustus 2017, Indonesia menempati urutan ke 4 sebagai Negara yang paling banyak penduduknya mau pindah ke angkasa, wajar kan? Negara ini benar-benar tak aman.

Cobalah sesekali tanyai diri sendiri, Negara dengan polisi yang selalu menghiasi media massa dan bisa menjaga kekondusifan aksi dari 7 juta orang (katanya) saat aksi bela agama, tapi tak mampu mencegah puluhan masyarakat yang tolol dan membakar tukang servis elektronik keliling?

Apalagi kebebasan berfikir, bisa saja beberapa bulan lagi Anda ditangkap karena mencoba menjadi Asgardians. Dengan tuduhan mengancam keamanan serta keutuhan NKRI.

Kita kembali ke topik, menjadi warga Negara Asgardia tak butuh kartu hijau serupa Amerika. Buka situs Asgardia, lalu klik pilihan untuk mendaftar, isi formulirnya. Tadaaaaa…. hitungan menit Anda akan menjadi warga Asgardia.

Soal bentuk Negara sudah dijelaskan dalam konstitusi, jika tak suka, maka Anda tak bisa jadi Asgardians. Benar kata Sukarno, bermimpilah setinggi langit, karena jika gagal kau jatuh pada Bir Bintang, eh bintang ding.

Setiap Negara pasti punya UUD (undang-undang dasar), begitupun Asgardia. Jika Indonesia punya 16 Bab dan 37 pasal pada UUD yang lama sebelum diamandemen, maka Asgardia punya 10 Bab, 50 pasal.

Bergegaslah menjadi warga Negara Asgardia, siapa tahu Anda bisa ikut mengamandemen UUD-nya dan bisa memasukkan pasal suka-suka. Pasal bentuk negara harus Khilafah misalnya. Ini juga solusi bagi HTI yang baru saja dibubarkan karena mau menjadikan negara ini Islam. Ah, kalian ketinggalan, saya mau menjadi presiden di Asgardia.

Anda bisa jadi Jenderal Sudirman, jadi Hatta sebagai bapak koperasi, atau mau jadi tetumbuhan saja di sana. Asgardia adalah Negara yang paling demokratis, Anda bisa jadi apa saja di sana. Sebab lambang, bentuk tentara, jajaran menteri, kepala dinas serta tetek yang bengeknya, belum dipunyai Asgardia.

Maka cita-cita para emak-emak di kampung saya yang ingin punya menantu PNS terlalu kecil. Wahai pemuda Minangkabau yang putus asa, Anda bisa dengan mudah mencalonkan diri menjadi kepala dinas di Asgardia, tanpa harus menunggu informasi bebas hoax soal rekruitmen CPNS.

Generasi emas orang Minang sudah mendirikan Indonesia, maka saya generasi pelanjut Minangkabau ini harus menjadi presiden di Asgardia. Ya, kalau gagal saya tetap bisa buka rumah makan padang di sana.

Untuk jadi presiden di Asgardia, tak perlu takut dengan pasal penistaan agama. Cuma butuh follower. Tak perlu Teman Ahok, tak perlu jadi tranding topic hingga orang-orang muak, tak perlu beresin Jakarta dan melejit jadi calon Presiden di Negara yang masih Impor garam padahal punya garis pantai hampir 100.000 Kilometer.

Saya selalu menggoda para wanita, bahwa suatu saat nanti saya akan jadi Prsiden. Hanya Asgardia yang mampu mewujudkannya. Saya sudah coba, dan hingga kini belum ada yang menjadi follower, gak tau kalau tahun depan (ala-ala Dilan-nya Pidi Baiq). Semoga saja di tahun ke 2 Asgardia, saya menang pemilunya.

Jangan risau, saya tak mengajak Anda bermimpi. Itu semua mungkin saja, terjadi. Hanya ada 298.684 manusia di bumi ini yang berminat menjadi warga Negara Asgardia.

Sementara, kita yang terlahir di Republik Indonesia ini, apalagi orang-orang Jakarta sudah biasa bersaing dengan 10 juta manusia lainnya setiap hari. Jadi, Asgardia terlalu mudah untuk ditaklukkan orang-orang Indonesia. Buktinya, hanya butuh waktu kurang dari satu bulan, populasi kita sudah bisa mengalahkan jumlah orang-orang Brazil dan Italia di Asgardia sana.

Kita memang juara dalam kuantitas, tapi kualitas tetap jeblok.

Dengan populasi terbanyak ke empat dari 226 negara di dunia yang berminat ke Asgardia. Bahasa yang dipakai tetap bahasa Inggris, yang cuma belasan ribu orang yang mau ke sana, lalu ada bahasa Jepang yang jauh tertinggal di angka 23 terbanyak.

Tulisan tentang Asgardia ini sempat terhenti sekitar 2 jam. Saat tengah asyik meneliti dan membahas Asgardia untuk Anda semua, seorang kawan datang mengetuk pintu ruangan kerja. Usai basa-basi, dia bertanya saya menulis tentang apa.

“Asgardia” saya jawab singkat saja.

“Gue udah donasi 50 dolar di sana,” jawabnya lugu.

Mulut saya menganga, dia adalah lawan terkuat saya jika mau jadi presiden Asgardia. Bagaimana tidak? Pengetahuannya jauh lebih luas dari saya, bukunya lebih banyak, uangnya lebi banyak termasuk juga selingkuhannya yang berasal dari berbagai Negara di bumi ini.

Oh, Tuhan!

Tidak di bumi, tidak di angkasa, tetap saja ada orang-orang menyebalkan yang ingin menghancurkan mimpi anak miskin serupa saya yang mau jadi Syahrir, Hatta, Tan Malaka dan Hamka ini.

Saya tak percaya, kamipun bercerita sedikit soal Asgardia. Ternyata ia punya lingkaran pertemanan yang sudah berdonasi ribuan dolar di Asgardia. Saya tak enak hati menuliskan namanya dan nama-nama orang di lingkaran pertemanannya. Mereka adalah orang-orang jenius, dari keluarga tajir, yang kalaupun mereka semua party tiap malam di semua klub mahal di Republik ini, duitnya masih tersisa banyak untuk beli sempak baru 3 kali sehari. Bukan serupa saya yang 3 kali setahun beli sempak baru.

Setelah puas berselancar di Asgardia, saya merenung. Meski menjadi penduduk Asgardia sangat mudah dan KTP-nya bisa jadi dalam hitungan menit tanpa harus bayar biaya administrasi. Tetap saja, KTP Asgardia tak bsa dipakai untuk menyicil rumah, sepeda motor dan handphone baru.

Saya sadar, KTP Republik Indonesia jauh lebih berguna dari pada KTP Asgardia yang negaranya ada di angkasa itu. Walau sudah menunggu 2 tahun lebih KTP itu tak juga saya miliki mungkin penantian ini bisa panjang, sepanjang siaran berita sidang Jessica korupsi E-KTP.

Ribuan manusia sudah membuktikannya, KTP Indonesia bisa dipakai untuk menyicil Macbook Air. Hingga para wartawan punya komunitas persatuan pemilik Macbook. Sedangkan, KTP Asgardia yang saya punya bahkan tak bisa digunakan untuk beli tiket pesawat pulang kampung.

Akhirnya saya tetap bangga menjadi warga Indonesia. Hal terpenting lainnya, di akhir tulisan ini harus dicantumkan kata “NKRI Harga Mati” dan “Merdeka!” agar tulisan ini tak menjadi propaganda anti Pancasila.

Tapi, ngomong-ngomong mimpi menjadi presiden Asgardia tetap saya simpan.

Kalau ini tidak lucu, Anda punya selera humor yang rendah, serendah bumi. Saya sudah berambisi menjadi Presiden Asgardia, negara yang ada di angkasa. Atau selera humor saya yang ketinggian, sehingga lupa antara gila dan lucu itu beda.

Jangan lupa pilih saya jika Anda mendaftar jadi penduduk Asgardia.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up