Ranah

Si “Burung Merak” Pantang Jinak

 

Penyair pamflet, bikin resah semua orang. Dari pemerintah hingga sesama penyair. Pria dengan suara sedikit serak ini, mengetok jidat para pembuat sajak. Ia bertanya, kenapa syair hanya untuk cinta-cintaan saja?

Lahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra, 10 tahun sebelum Republik ini diproklamirkan. Besar dalam kultur Jawa, Rendra kemudian menjadi perpaduan apik ayah dan ibunya. Ayah guru bahasa, Ibu seorang dramawan dan penari.

Rendra mencntai kata-kata, ia memakainya untuk protes pada keadaan. Sajak, puisi, cerpen, esai, dan lakon-lakon teaternya bikin gerah pemerintah. Ia diburu aparat jika mementaskan drama atau puisinya dibacakan.

Namun, sayangnya Rendra lebih dikenal para “penyair salon” sebagai “si burung merak” nan beristri banyak. Membuat jarak antara karya-karya Rendra dengan kehidupan pribadinya. Puisi-puisi Rendra masih berlaku hingga sekarang, tak banyak yang berubah.

Entah Rendra sudah melintasi waktu dan pergi ke masa depan, entah Republik ini sudah tak punya gaya baru? Sajak Rendra soal seruan bersatunya para pelacur-pelacur Jakarta misalnya, ya begitu-begitu saja hingga hari ini. Atau sajaknya yang bicara soal pendidikan di Indonesia?

Sajaknya merdeka, tak mau diintervensi apapun. Bahkan ia menolak mengimpor rumus-rumus dari asing. Selama 40 tahun berlalu sejak puisi “Sebatang Lisong”-nya, pendidikan Indonesia tetap begitu saja.

Tak berani, tak percaya diri, krisis identitas, dan lebih bangga dengan segala yang berbau luar negeri. Ini yang dikeluhkan Rendra dalam puisinya. Hingga kini, hal itu tak berubah jua meski sudah hampir setengah abad. Wajar jika pengamat semua sastrawan dari UI, Prof A Teeuw menyebut Rendra punya genre tersendiri. Tak serupa dengan para penyair angkatan 45, 60, ataupun angkatan 70-an.

Rendra pantang menyerah dalam berkesenian. Meski ia diburu pemerintah yang lagi berkuasa. Ketika selalu dimata-matai dan ditekan saat berteater di Yogyakarta, Rendra malah mendekati daerah kekuasan. Ia dirikan teater di pinggir Jakarta.

Hingga kini, teater di Depok itu terus berkarya. Bengkel Teater Rendra namanya. Dalam berkarya, sajak-sajak Rendra serupa seruan propaganda. Ia memang merak yang norak, mengembangkan sayap dan ekor saat ingin kawin. Melenggak lenggok dengan keindahan bulunya. Namun, merak sangat langka. Sama halnya dengan sastrawan serupa Rendra. Sudah langka.

Rendra menyudahi perjuangannya di atas dunia delapan tahun lalu. Tepatnya 7 Agustus 2009, Rendra pergi menuju Tuhannya pada usia 74 tahun.

Banyak yang mengurusi keimanan Rendra, menuduhnya pindah agama hanya karena demi cinta dan bisa poligami saja. Namun, Rendra menyimpan segalanya rapat-rapat dan membawa terbang bersama kematiannya seusai makan bubur.

Puisi, lakon teater dan tulisan-tulisan Rendra selalu mengusik kesadaran, mengetuk hati dan membukakan mata bahwa Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Rendra dengan garang bilang di depan para professor dan guru besar, ia menyebut dan bersaksi dengan puisinya. Selama hak hukum rakyat di Indonesia ini belum terlindungi, kemerdekaan serupa menulis di atas air.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up