Ranah
Featured Video Play Icon

Setelah 13 Abad Mitos Nasionalisme Nusantara

Mitos Nusantara seringkali dimulai dengan keberadaan kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Kerajaan maritim yang diperkirakan berdiri pada abad ke-7 Masehi tersebut meluaskan pengaruh kekuasaannya dari Sumatera, Jawa hingga semenanjung Malaya. Berbagai temuan prasasti dari Sumatera hingga Kedah di Malaysia dan catatan-catatan kuno dari Tiongkok memperkuat mitos kerajaan nasional pertama di Nusantara tersebut.

Pada saat pengaruh Sriwijaya surut, berjarak sekitar 1 hingga 2 abad kemudian muncul kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Daerah kekuasaaan Majapahit jauh lebih besar dibandingkan Sriwijaya walaupun banyak yang menganggap sebagian besar daerah itu bukan taklukan tetapi hanya pengaruh. Keraguan itu tidak mengurangi mitos yang dikalungkan pada Majapahit sebagai salah satu akar nasionalisme Indonesia.

Runtuhnya Majapahit baik karena perang saudara dan menguatnya pengaruh Islam menghasilkan kerajaan-kerajaan baru yang pengaruhnya tidak sebesar Majapahit. Di Jawa misalnya, dinasti demi dinasti berganti menghasilkan kerajaan Demak, Pajang hingga Mataram. Masuknya VOC pada masa Mataram membuat kerajaan itu kemudian terpecah dan praktis berada di bawah kuasa kongsi dagang tersebut.

Kerugian akibat korupsi di tubuh VOC akhirnya membuat kongsi dagang itu ditutup pada tahun 1799. Di tahun 1800, Kerajaan Belanda resmi menguasai Nusantara dengan sebutan Hindia Belanda. Selain mewarisi kekuasaaan VOC, Hindia Belanda terus meluaskan kekuasaannya di Nusantara. Satu demi satu kerajaan-kerajaan itu berjatuhan hingga diakhiri oleh perlawanan Aceh. Praktis di awal abad 20, Hindia Belanda telah menyiapkan wilayah yang jadi cikal bakal Indonesia modern.

Proklamasi kemerdekaan 1945 mengubah lagi lanskap kekuasaan di Nusantara. Indonesia mengklaim seluruh Hindia Belanda sebagai wilayah Indonesia, kecuali Papua Barat yang masih dikuasai oleh Belanda. Baru pada tahun 1962, lewat kampanye militer, diplomasi dan campur tangan PBB Papua Barat secara bertahap statusnya bergabung dengan Indonesia. Genap melengkapi warisan Hindia Belanda.

Revolusi di Portugal pada tahun 1974, memberi kesempatan pada rezim orde baru untuk menggenapi seluruh wilayah Nusantara dengan memasukkan Timor-Timur sebagai provinsi ke-27 Indonesia. Sebuah tindakan yang tidak pernah direstui oleh PBB tetapi secara diam-diam didukung oleh Amerika dan Australia karena kepentingan Perang Dingin.

Reformasi tahun 1998 akhirnya mengembalikan lanskap nusantara tanpa Timor Timur. Desakan internasional akhirnya memaksa Presiden BJ Habibie menggelar referendum di Timor Timur pada tahun 1999. Hasilnya rakyat Timor Timur menginginkan kemerdekaan dan membentuk negara sendiri Republik Demokratik Timor Leste.

Sejarah adalah pasang surut lanskap kekuasaan. Kita tidak pernah tahu akan seperti apa peta nusantara dan penguasanya dalam hitungan tahun dan abad ke depan. Mungkin pada akhirnya nanti Indonesia pun bisa jadi mitos yang diperdebatkan sejarahnya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up