Ranah

Sepenggal Kisah Koteka Dari Tanah Papua

“Gunung-gunung lembah-lembah yang penuh misteri, kau ku puja selalu keindahan alammu yang mempesona.”

Penggalan bait dari lagu “Tanah Papua” membuat saya terus bernostalgia dan selalu ingin kembali ke sana, memanen rindu. 52 minggu saya mengelilingi tanah yang indah itu. Keluarga-keluarga angkat, saudara-saudara serta teman-teman di sana selalu bertanya “kapan kembali?”.

Banyak yang saya rasakan selama melakukan perjalanan di Papua, warna-warni kisah yang dianugerahkan oleh yang Maha Kuasa. Salah satunya adalah merasakan memakai Koteka, penutup alat vital laki-laki.

“udah pake Koteka blom lo?” pertanyaan yang sering saya terima dari teman-teman di media sosial, pertanyaan itu juga yang membuat saya semakin penasaran untuk memakai Koteka.

Ketika di Merauke, saya mencari tahu tentang suku-suku Papua yang masih memakai Koteka. Banyak orang yang ditanya menyarankan agar saya berangkat ke Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. Saya harus memutar otak bagaimana bisa ke sana, karena akses menuju ke sana hanya bisa menggunakan jalur udara.

“Kamu minta tebengan pesawat Hercules aja, ada yang dari Merauke ke Wamena.” Saran Gempol, saudara sesama pejalan, ia sudah 8 bulan mendekam di Merauke.

Dari kejauhan, saya melihat pesawat Hercules parkir di Bandara Mopah. Saya bergegas menuju kantor TNI AU. Sesampai di halaman kantor, seorang petugas bertanya. “Mau bertemu siapa?” saya langsung meminta pada petugas tersebut untuk mempertemukan saya dengan komandannya. “Saya penjelajah Nusantara, ingin bertemu komandan,” pinta saya.

Memang dibutuhkan keberanian untuk menghadap Komandan Lanud, gengsi benar-benar harus dibunuh. Keberanian juga harus dipupuk, dan kejujuran adalah mata uang yang berharga saat bertemu siapa saja.

“Sebagai anak bangsa sudah kewajiban saya untuk mengenal negerinya sendiri, minta tebengan ke Wamena Pak.” Pintaku kepada Danlanud Merauke.

Akhirnya ia mengizinkan. Hanya syukur yang bisa terucap, inilah pertama kalinya saya, yang hanya berniat ingin melihat Indonesia bisa nebeng pesawat milik TNI.

Saya tak membawa apapun, hanya baju di badan, uang yang saya punya juga tak seberapa. Uang itu hasil bekerja di gudang beras dan berdagang sendal. Dari perjalanan-perjalanan sebelumnya, saya belajar tentang mengikhlaskan kepahitan-kepahitan yang dialami menjadi kenikmatan yang wajib disyukuri. Begitupun perjalanan menuju Papua ini.

Setelah berpamitan dengan teman serta orang tua angkat di basecamp Sabang – Merauke, Gempol mengantarkan saya ke bandara. Setelah melapor dan diberi surat ijin naik pesawat, kaki mulai melangkah menuju pesawat Hercules. Ada beberapa petugas berbaju loreng sedang sibuk memasukkan karung-karung beras yang akan dibawa ke Wamena, setelah mereka selesai memuat semuanya saya pun masuk.

Keberadaan pesawat Hercules di Papua sangat membantu untuk mendistribusikan sembako, banyak daerah-daerah yang belum terhubung melalui jalur darat.

Saya terkejut di dalam pesawat tidak ada tempat duduk karena sudah dipenuhi oleh tumpukan karung-karung beras, dan juga ada seorang Mama Papua dan anaknya. Pesawat pun mulai tinggal landas, saya hanya bisa duduk di atas beras dan memegang erat karung yang saya duduki. Goncangan demi goncangan sangat terasa, saya hanya bisa pasrah.

Saat pesawat telah mengudara, dengan hati-hati saya berjalan ke arah kaca pesawat, kemudian melihat ke bawah. Hamparan hutan-hutan hijau serta sungai yang meliuk membuat bibir tersenyum, keindahan absurd yang mengalahkan kata-kata yang didengungkan para penyair.

Keindahan bumi Papua tak akan pernah membuat mata puas. Saya lalu menghampiri Mama Papua, ada kotak kayu yang lumayan besar di sampingnya. Setelah saya intip ternyata beberapa ekor babi isinya. Ini kali pertama saya melihat babi naik pesawat. Babi tersebut dibawa Mama Papua ke Wamena untuk dijual, saya semakin penasaran tentang harga babi di sana sehingga harus naik pesawat dari Merauke.

“Mama, ko pu babi jual brapa?” tanya saya dengan memaksakan bicara gaya Melanesia.

“25 juta 1 ekor, anak.” Jawabnya lagi.

“Ah, Mama tipu!” saya menimpalinya lagi.
“trada anak, babi d Wamena dia pu harga mahal” katanya.

Dari Mama Papua ini, saya baru tahu artinya Wamena, Wam berarti babi dan Ena berarti jinak. Babi sangat mahal karena budaya di pegunungan tengah Papua menganggap babi adalah bagian dari kehidupan mereka. Jadi dari acara kelahiran, pernikahan sampai kematianpun selalu ada babi untuk melengkapi ritual mereka.

“Mama, berapa lama kitong sampai di Wamena?” saya bertanya lagi.

“Nanti kalau pesawat su rasa goyang-goyang, itu Kitong su sampai.” Jawab Mama Papua dengan tertawa khasnya.

Sebelum pesawat mendarat, saya kembali duduk di atas karung beras. Berpegangan erat ke karung yang saya duduki, saya hanya tertawa sendiri merasakan pengalaman naik pesawat Hercules. Biarpun dengan sedikit ketakutan, ini adalah salah satu momen berharga yang tak terlupakan.

19 desember 2011 saya menginjakkan kaki di Wamena, barisan bukit-bukit nan hijau serta semilir angin sejuk menyambut kedatangan saya.

“Saya harus mencoba memakai koteka di sini,” gumamku dalam hati, Koteka adalah tujuan utama saya datang ke daerah ini.

Dari bandara saya menuju kantor Polres untuk melapor diri, sebagai warga baru dan tidak mempunyai satu kenalan pun. Berita-berita yang beredar tentang penembakan juga santer di media lokal maupun nasional.  Jadi kalau terjadi apapun pihak yang berwajib sudah mengantongi alamat kampung halaman saya.

Malam pertama di Wamena saya nebeng nginap di salah satu komplek pertokoan yang masih dalam tahap pembangunan, menerima kebaikan dari para tukang-tukang yang berasal dari Makassar.

Setelah 2 hari berada di Wamena, saya dicari oleh IMBS (Ikatan Minang Balien Saiyo) dan bertemu dengan ketuanya Bapak Am.

“Kita ini sama-sama orang Minang, sudah kewajiban kami di sini membantu orang Minang yang sedang berada dalam kesusahan.” Ucap Bapak Am yang membuat saya tidak bisa berkata apa-apa.

Saya tinggal di lantai 2 rumah makan Minang “Siang Malam” yang berada di jalan Irian, hari-hari saya lalui silaturahmi dengan masyarakat Minang yang berada di Wamena. Ada seribu jiwa lebih orang-orang Minang yang berada di pegunungan tengah Papua.

Mayoritas dari mereka adalah pedagang, biarpun beberapa kali terjadi insiden penembakan di pegunungan tengah, akan tetapi tidak luntur semangat berdagang mereka. Apalagi yang berdagang keluar masuk kampung dengan sepeda motor, nyali mereka saya acungi jempol.

Saya juga bekerja serabutan di rumah makan tersebut, dari melayani pembeli, membantu mengambil air buat masak hingga mencuci piring dan gelas kotor. Selang beberapa lama, saya bertemu dengan 3 orang perempuan bule dari Ceko. Yana, Ana dan Feronica.

Ana dan Yana masih berstatus mahasiswi di Unand, sedangkan Feronica tinggal di Bali. Mereka menjadi teman perjalanan saya mengeliling Lembah Baliem, mereka juga lumayan fasih berbahasa Indonesia. Menyusuri bukit-bukit di Lembah Baliem, sungai serta merasakan keramahan penduduk lokal.

“Selamat pagi Bapa, Selamat siang Mama, Selamat malam Ade,” adalah sapaan wajib kala bertemu siapa saja. Budaya sapa yang sangat tinggi serta senyum manis orang-orang yang saya temui di sepanjang perjalanan membuat berita-berita negatif tentang Papua serasa cerita dongeng saja.

Puisi dan sajak-sajak indah tentang kehidupan terhampar di depan mata, Bapa-bapa serta Mama-mama yang masih menggunakan pakaian tradisional melengkapi puisi dan sajak itu.

Setelah 3 hari 3 malam berjalan kaki, kami akhirnya sampai di desa Ugem. Warga desa Ugem masih memakai koteka. Di sini suku Dani bermukim, kami menemui seorang guru di sekolah SD yang tak layak disebut sebagai sebuah sekolah. Namun merah putih berkibar di ujung tiang kayu.

Kami menginap di Honai milik Bapa guru. Paginya warga kampung Ugem bersiap untuk melakukan acara adat di desa Syokoshimo, saya meminta Bapa Guru untuk meminjamkan kotekanya. Dia mengira saya bercanda, akan tetapi saya ngotot untuk mencoba memakai Koteka.

Dari Bapa guru saya mendapat informasi bahwa Koteka yang bebeda setiap ukuran menentukan suku, bukan dari besar kecilnya alat vital. Setelah Koteka terpasang, ada tali bulat seukuran 2 kali uang logam 500 rupiah. Tali itu ditempel dekat testis, lalu kulit testis ditarik keluar. Bola testis naik ke atas perut, gunanya supaya tidak hernia.

“Bapaaaaaaa!!” saya berteriak kesakitan.

“A, sedikit lagi anak” jawab Bapa guru dengan tawa khas Papuanya.

Setelah Koteka terpasang, hanya ngilu yang saya rasa. Kemudian Bapa guru memasang bulu-bulu burung di kepalaku, ia juga meminjamkan tombak kasuari.

Saya pun keluar dari Honai, saya terkejut melihat orang kampung yang berkumpul di depan Honai.

Ana, Yana dan Feronica serta orang kampung tertawa melihat saya. Kemudian saya berlari memakai koteka dengan tombak kasuari di tangan, saya berteriak-teriak ala Papua, mengikuti intruksi dari Bapa guru. Saya tak peduli. Melihat mereka tertawa terbahak-bahak membuat saya sulit mendiskripsikan kata bahagia.

Cuma 30 menit saja saya mampu pakai Koteka, udaranya terlalu dingin. Hembusan angin pegunungan membuat ngilu merajai tulang.

Selama berjalan di Lembah Baliem, saya juga tidak menemukan penduduk yang memakai minyak babi untuk melindungi mereka dari hawa dingin. Mereka benar-benar menyatu dengan alam, para penduduk juga banyak yang tidak memakai alas kaki.

Di acara adat, ada ritual bakar batu. Mereka memisahkan batu-batu yang dibakar. Di antara batu-batu yang dibakar itu berisi cuma ubi jalar. Mereka khusus membakarnya untuk para tamu yang beragama Islam.

Kata toleransi tak cukup untuk menggambarkannya. Hanya saya seorang yang Muslim, saya merasa tersanjung. Mereka sangat menghargai tamu yang berbeda keyakinan, saya menjadi yakin bahwa interaksi bisa menumbuhkan rasa untuk saling menghargai dan menghormati.

Setelah keliling Lembah Baliem, saya bersama 3 gadis dari Ceko tersebut berangkat ke Danau Habema. Danau yang berada di 3225 mdpl adalah danau tertinggi dan terdingin di Indonesia, saya juga melihat puncak Wihelmina atau Trikora yang menjulang. Dimana salju khatulistiwa bermukim. Di sekitar danau banyak dijumpai sarang semut, pohon-pohon yang dibalut oleh warna warni lumut serta hamparan bunga edelweis.

Sebelum keluar dari pegunungan tengah, saya berkunjung ke Desa Kurulu melihat mumi keluarga Mabel yang berumur lebih dari 3 abad. Saya kembali memakai koteka di sana, merasakan sakit yang nikmat kembali. Setelah itu saya pergi ke pasir putih yang berada di atas bukit, masih di desa Kurulu.

Tidak ada orang-orang primitif yang saya temui, semuanya sangat baik menerima kedatangan saya. Ada orang-orang modern yang menganggap Primitif saudara-saudara yang memakai Koteka dan Salli, tapi bagi saya mereka adalah orang-orang yang hidup secara Tradisonal.

“Tidak perlu menunggu mati untuk menikmati sorga, kamu sudah menimati sorga itu.” Kata seorang penulis terkenal kepada saya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up