Ranah

Rumah Makan Umega : Dari Usaha Menambah Gaji Jadi Landmark Lintas Tengah Sumatera

Rasanya tak ada orang minang yang tak tahu Rumah Makan Umega di Gunung Medan, Dharmasraya. Hampir semua bus-bus asal Sumatera Barat berhenti di rumah makan ini dalam perjalanan pergi dan kembalinya. Bagi penumpang yang hendak pergi, tempat ini adalah titik pelepasan terakhir sebelum menuju tanah rantau. Sedangkan bagi yang hendak kembali ke kampung halaman, rumah makan ini menjadi gapura ucapan selamat datang di ranah minang.

Rumah Makan ini didirikan di awal 1970an oleh Zubir Sutan Bagindo, seorang pegawai kejaksaan yang ditugaskan di daerah itu. Nama “Umega” sendiri berarti Usaha Menambah Gaji. Zubir melihat peluang besar ketika jalur lintas sumatera ruas Sijunjung-Lubuk Linggau resmi dinyatakan selesai. Berawal dari bangunan kecil, saat ini komplek rumah makan mini menjadi kawasan one stop service pelintas sumatera. Dalam komplek rumah makan, telah berdiri SPBU, Toko Swalayan dan Hotel.

Bagi saya, kenangan terbesar pemudik lintas sumatera pada Umega bukanlah pada megahnya bangunan rumah makan atau lengkapnya fasilitas di sana. Kenangan terbesar itu ada pada peniup saluang yang setia memainkan musiknya. Untaian musiknya seperti pesan terakhir sebelum pergi menuju rantau. Sementara bagi yang baru pulang dia jadi panggilan yang mendekap setiap jiwa yang merindukan kampung halaman.

Setelah bisnis penerbangan murah menghempaskan angkutan darat antar propinsi, ekosistem pendukungnya turut hancur. Rumah makan yang dulu mengalami masa kejayaan hingga awal tahun 2000-an sepanjang rute lintas Sumatera, perlahan-lahan jadi bangunan kosong berhiaskan semak.

Pengumuman khas dari announcer rumah makan setiap kali menyambut para penumpang turun dari bus semakin jarang terdengar. Wajah-wajah lelah yang turun dari bus ekonomi melirik iri dan kesal pada penumpang kelas super eksekutif juga tidak lagi terlihat. Kita menyaksikan tenggelamnya sebuah peradaban di lintas Sumatera.

Rumah makan Umega rupanya masih bisa bertahan. Tidak hanya itu, bapak tua tukang saluang pun masih setia memainkan musik di depan pintu masuk tidak kenal siang atau malam. Kita masih menjumpai wajah-wajah lelah manusia mencari peruntungan di perantauan. Meskipun jumlahnya tidak semasif dulu, paling tidak wajah jujur itu tidak punah sama sekali.

Umega mungkin tidak sepopuler dulu lagi tetapi di perlintasan Sumatera, rumah makan ini sangat layak untuk dikunjungi. Sebuah ziarah merasakan landmark dari sebuah peradaban yang nyaris punah. (UBE)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up