Ranah

Rumah Hutan Drupadi, Oase di Palu

“Kami masyarakat Rumah Hutan Drupadi

Suka berteman, kami berteman dengan siapa saja

Penuh gembira dan cinta

Kami masyarakat Rumah Hutan Drupadi

Suka menanam, kami menanam segala macam tumbuhan

Alam hijau, hidup nyaman”

 

Potongan dari lirik mars Rumah Hutan Drupadi membuat saya kembali mengenang setahun yang lalu, saat merasakan denyut kota Palu.

Dengan hati-hati Rafa mengolesi punggung saya dengan minyak kelapa, kulit punggung saya melepuh. Gadis australia itu menawarkan bantuannya setelah kasihan melihat kondisi punggung saya. Ini Efek dari sering buka baju karena cuaca panas di acara Eclipse Festival, tanpa memakai sunblock. Bersama Bang Ian Alon, Haris dan Eko, kami adalah salah satu tim dokumentasi di acara tersebut.

Setelah acara usai, malam hari dengan mobil bak kami menuju Rumah Hutan Drupadi. Sebuah lokasi yang ada di belakang Universitas Tadulako Palu. Bersama dengan teman-teman panitia dari luar dan lokal, kami kembali membuka tenda di sana. dari hasil diskusi dengan 3 orang teman tim, saya memilih untuk tinggal di Palu. Menunggu punggung saya sembuh dan kembali melakukan perjalanan nebeng di Sulawesi Tengah, sedangkan mereka kembali ke Jakarta.

“Rumah Hutan Drupadi atau RDH adalah artspace para seniman di Palu, berproses membangun dari 24 oktober 2014” ucap Rio yang saya kenal di Eclipse Festival, dia salah satu panitia lokal acara tersebut. Proses membangun itu dilakukannya setelah pulang dari tanah perantauan Jawa dan Bali.

Hari pertama di RHD, bersama teman-teman, kami membantu Rio membersihkan reruntuhan Galerinya yang terbakar beberapa hari yang lalu. Bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu itu tidak hanya menjadi galeri, akan tetapi tempat wokshop seniman-seniman yang berkarya di sana. Banyak karya-karya dari teman RHD dan seniman Palu yang terbakar.

Ada satu bangunan bertingkat yang terbuat dari kayu-kayu yang tidak terpakai, karena dulunya ini adalah tempat pengolahan kayu hitam miik keluarga Rio. Ada gambar mural bagian atasnya yangmenjadi tempat duduk santai dan kamar, sedangkan bagian bawahnya ada dapur, kamar dan tempat nongkrong minum kopi atau teh yang menyerupai tempat bertender. Tutup-tutup kaleng bekas kaleng cat yang dilukis menambah indah bangunan tersebut, di depannya berdiri pohon besar yang digantungi bambu-bambu kuning.

Taman- taman kecil yang tertata dengan indah, goresan kata-kata indah yang dibuat oleh teman-teman yang berkunjung ke sana banyak dijumpai di berbagai sudut area RHD. Merimba di tengah betonisasi, begitulah motto tempat itu.

Kelse Bels, perempuan pirang dari Belanda bernyanyi merdu dengan gitarnya. Teman dari Jepang beratraksi bermain bola kristal ditemani bunyi suling yang di mainkan oleh Ancha, putra dari suku Kaili.  Sedangkan saya dan teman-teman menjadi penonton, saya juga melihat Haris tengah asik berdiskusi dengan Bang Ian, Bang Ade dan Lowdeck yang berasal dari Malaysia.

Saya sangat beruntung bisa berkumpul dengan teman-teman seniman pekerja festival, yang berasal dari berbagai macam negara dan daerah di Indonesia. Bercerita dan berdiskusi dengan mereka dari persoalan seni hingga semesta, mereka-mereka yang cinta damai dan anti kekerasan. saya juga sedikit demi sedikit belajar bahasa inggris secara otodidak.

Sembari mengatur rencana perjalanan berikutnya, saya iseng-iseng mencari tahu lebih dalam lagi tentang RHD.

“RHD adalah tempat alternatif berkesenian untuk teman-teman yang berada di Palu, ruang santai yang merdeka bagi teman-teman yang berkarya.” Ucap Rio sembari menyeruput kopi sore itu.

RHD juga menjadi rumah singgah bagi para pejalan atau traveller luar maupun dalam negeri, yang melakukan perjalanan di Sulawesi Tengah.

Setiap sekali dalam 2 tahun, RHD mengadakan acara “Komunalisme Festival”. Acara yang jadi tempat berkumpulnya seniman-seniman Palu, tidak hanya tampil mereka juga berdiskusi mereview pencapaian kesenian dalam 2 tahun terakhir.

Tak hanya itu, RHD juga menjadi “International Punk Networking”. Teman-teman Punk yang datang ke Palu bisa beraktifitas, membuat acara dan diskusi di RHD.

Apa yang dilakukan Rio dan teman-teman RHD bagi saya adalah bentuk “Bela Negara” dalam wadah berkesenian, bela negara tidak hanya tentang Militer. Bela negara dengan berbagai bidang, apakah itu kesehatan, pendidikan dan lain-lain. RHD bermimpi suatu saat Palu bisa menjadi destinasi laboratorium kesenian.

Setelah berbagai macam warna kisah yang saya alami di perjalanan, RHD menjadi salah satu tempat yang membuka mata saya tentang berkesenian. Dimana berbagi adalah suatu kebutuhan dalam hidup.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up