Ranah

Romo Mangun, Arsitek “Pembangun” Kepedulian

Sepanjang hidupnya, rohaniwan ini tak hanya berjuang dengan seruan agamanya saja. Ia turut turun dan berdiri di sisi si miskin yang butuh rumah. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, arsitek yang menjadi penulis, aktivis dan budayawan yang dikenal dengan nama Romo Mangun.

Namanya mulai diingat masyarakat luas sejak novelnya “Burung-burung Manyar” laris di pasaran. Perjuangan Romo Mangun membangunkan kesadaran terhadap rasa peduli berbuah manis. Ia mencurahkan ilmu arsitekturnya pada sektor pembangunan pemukiman. Ia mengubah sudut pandang masyarakat soal pemukiman kumuh.

Ia mendapat penghargaan Aga Khan, penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang, untuk rancangan permukiman di tepi Kali Code Yogyakarta. Perjuangan Romo mangun tak hanya lewat tulisan dan pembangunan pemukiman saja.

Penulis novel ini juga mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi, yayasannya memberikan akses pendidikan khusus bagi korban penggusuran di beberapa wilayah di Jawa Tengah.

Selain menjadi arsitek untuk beberapa Gereja, arsitek ini juga merancang pembangunan pemukiman warga di tepi Kali Code Yogyakarta, Biara di Semarang dan Gedung Bentara Budaya di sekitar komplek Kompas.
Ia memperoleh penghargaan di bidang Sastra salah satunya dari Ramon Magsaysay untuk novelnya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up