Ranah

Putu Wijaya Merekam Kisah di Sekelilingnya

Putu Wijaya, bercerita soal keseharian kita yang sangat simpel. Ia bumbui dengan filsafat, dengan rasa kemanusian, dengan pertanyaan pertanyaan pada diri sendiri. Cerpen-cerepnnya banyak berkisah soal kehidupan bertetangga, agama yang renyah, rasa saling memiliki, bercerita tentang berbangsa, menjadi sesuatu di Indonesia atau terserah anda bagaimana memaknainya.

Putu bahkan terus menulis meski dalam keadaan sakit. Ia berbicara dari ranjangnya di salah satu rumah sakit, dan omongannya dijadikan sebuah cerpen. Kesungguhannya dalam dunia tulis menulis teruji, cerpen yang didiktekan itu menyentak kesadaran soal apa itu keadilan. Ia dikenal gila menulis di antara kawan-kawannya. Jika ia menghilang dari pandangan, sudah dipastikan ia bertafakur di depan laptopnya dan mulai mengetik banyak kisah.

Putu tidak berceirta sesuatu yang besar. Ia hanya bercerita tentang seseroang yang merayakan ulang tahunnya sendirian, tetang seorang ayah yang kebingungan bagaimana mengartikan hidup di republik yang membuat keluarganya miskin. Atau kisah tentang seorang pedagang es keliling, sersan dan seorang lelaki tua, yang bertanya soal “keadilan” serupa apa yang ada di peristiwa peristiwa sederhana.

Ia tak hanya menulis cerpen, novel dan beberapa film merupakan karyanya. Putu juga berkunjung ke berbagai Negara dengan membawa serta kelompok teaternya.

Ia telah berkeliling Amerika dan beberapa Negara lainnya untuk mementaskan tetaernya. Tak hanya berkeliling, ia juga memperoleh banyak penghargaan dari berbagai Negara. Wartawan Tempo ini pernah pula menjadi Dosen. Meski lulusan fakultas hukum, ia lebih banyak berbicara soal kehidupan sosial dan potongan-potongan kisah yang mungkin luput dari pandangan.

Buku-buku Putu sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, Jepang, Arab, Belanda, Rusia dan perancis dan Thai. Jurnalis cum sastrawan ini menulis berbagai macam, esai, novel hingga sinetron.

Hinga saat ini kurang lebih ia telah menulis, 40 naskah drama ratusan artikel lepas, cerpen, puluhan novel. Dan puluhan penampilan di atas panggung bersama grup teaternya.

Lahir dengan nama I Gusti Ngurah Putu Wijaya 73 tahun lalu di Bali. Hingga hari ini ia masih bertualang sembari merekam beberapa kisah-kisah hidup manusia. Karya-karya Putu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun lebih meneror mental.

Putu kadang berkisah tentang siapa yang harus lebih dulu meminta maaf, atau tentang hayalan-hayalan seseorang di dalam kepala mereka. Karya Putu membuat pembaca bertanya, siapakah di lakon di dalamnya?

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up