Ranah

Prabowo Sisihkan Siapa yang Beriman Pada Jurnalisme dan Rekening Bulanan

Prabowo Subianto membuat beberapa jurnalis mengunggah foto mereka di Mall, Starbuck dan lain sebagainya. Entah sebagai bentuk perlawan atau hanya menghibur diri karena ketahuan bergaji kecil.

Prabowo, benar adanya. Gaji jurnalis itu memang kecil, tapi soal masuk Mall ini masih bisa diperdebatkan. Soal gaji kecil, memang H A Q I Q I adanya. Ndak usah bela diri lagi, sudah T E R C Y D U C K.

Bukan berarti meminggirkan perjuangan AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia), PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), IJTI, dan sederet komunitas jurnalis lainnya, dari komunitas jurnalis hijaber, sampai komunitas jurnalis pencinta pecel lele. Mereka sudah berjuang demi kesejahteraannya, bahkan di beberapa kantor media ternama ada jurnalis yang harus berkorban dan dikorbankan agar teman-teman seprofesinya mendapatkan gaji yang layak.

Di salah satu media online ternama, seorang koordinator liputan harus kehilangan banyak waktu bersama anak balitanya demi rekan seprofesi mendapatkan upah yang layak. Tapi ya begitu, biasanya HRD atau mereka yang biasa di kantor ber AC dan masuk mall tiap akhir pekan itu tak paham. Jurnalis di lapangan mempertaruhkan nyawanya demi sebuah berita.

Di grup-grup WA, Telegram, dan grup antah barantah yang anggotanya merupakan jurnalis, lagi ribut, hingga tulisan ini ditulis, sebuah infografis dari kumparan.com jadi primadona, di sana tertera gaji para jurnalis Jakarta. Entah membela, entah untuk apa, yang jelas, gaji para jurnalis memang kecil jika dibandingkan PPSU atau pasukan kuning bentukan Ahok. Apatah lagi gaji jurnalis di daerah, ndak usah disebutkan, kata sedih tak cukup untuk mengungkapkannya.

Jangan bicara soal keselamatanlah, seorang kawan berseloroh. “Ngapain kerja jadi jurnalis mati-matian, nanti kalau mati cuma dikirimi karangan bunga dan uang kerahiman, setelah itu elu dilupakan,” ujar lelaki yang merantau dari Timur Indonesia ke Jakarta dan terjebak jadi jurnalis.

Begitu jua pesan dari seorang jurnalis yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia bisnis informasi ini. Dia bilang “Jangan mati konyol saat liputan, matilah dengan terhormat, kena peluru teroris misalnya, atau mati dalam liputan bencana alam, namamu bisa jadi nama sebuah jalan,” katanya.

Mungkin ini lebih logis bagi manusia yang sudah mendarah daging di tubuhnya kata “Jurnalis” bahkan, kalau ditanya apa agamanya, ia akan menjawab “Agama saya Jurnalisme”.

Mau ke mall atau tidak, itu pilihan saja. Tapi, begaji kecil menjadi jurnalis, bukan pilihan. Lawan!

Bekerja jadi jurnalis, meski sudah memiliki jadwal, tetap saja tak ada yang pasti. Jurnalis bisa saja disuruh berangkat pada pukul 03.00 dinihari, atau harus mengikuti penerbangan tengah malam dan paginya langsung liputan, padahal itu jatah libur bersama anak istri.

Memang ada yang bergaji besar, tapi itu serupa bulu berwarna pirang di ketiak Jonru. Sedikit bos.

Tak usah ditutup-tutupi, mana sih reporter yang bergaji besar? Sehingga ia menikmati akhir pekan dengan mengajak keluarga ke kebun binatang atau? Gak sanggup bayar bos, apalagi kalau punya keluarga besar.

Maka, saya biasanya menghibur diri dengan liburan ke tempat wisata yang mahal, dan memamerkannya di media sosial, biar dianggap punya liburan berkualitas. Padahal mencoba menghibur diri, dari ruginya perdagangan. Rugi, iya. Jurnalis menjual waktu hidupnya, waktu untuk bersama keluarga, bersama pacar, ayah, ibu, anak dan istri. Semua harus direlakan  demi informasi berkualitas. Tetap saja, hoax merajalela dan lebih dipercaya.

Prabowo telah membuka tabir, ia sisihkan mana yang beriman pada jurnalisme dan mana yang beriman pada nominal akhir bulan di rekening.

Menjadi jurnalis, berarti bekerja untuk peradaban. Bahkan, jurnalis sudah serupa kerja BIN. Berhasil tak dipuji, gagal dicaci maki. Orang-orang mengira jurnalis hanya cukup menyodorkan perekam, menyorot wajah narasumber dan berbagi tikpetan.

Jurnalis lebih dari itu, kadang kepercayaan dan nurani anda diuji. Jika boleh sedikit bercerita, saya marah bukan main, rasanya mau mengajak semua wartawan di Jakarta untuk baku pukul saja. Bagaimana tidak, sebuah berita soal nenek yang katanya tak disalatkan jenazahnya karena memilih Ahok di Pilkada Jakarta.

Padahal, dalam agama yang saya percayai, jenazah tak harus disalatkan di masjid, tak harus dihadiri belasan orang. Disalatkan di rumah dengan satu orang saja sudah mencukupi rukun dan syarat penyelenggaran jenazah. Lalu, anda tahu apa yang terjadi?

Berita tolol itu viral, hanya beberapa jurnalis yang melakukan croscek ke lapangan. Dan sialnya mereka memberitakan air mata dari keluarga, bukan memberikan informasi yang akurat dan bertanggung jawab. Bukan karena jurnalis itu sekumpulan lulusan universitas ternama yang tak berfikir, tapi tekanan kantor menggantungkan mereka diantara pilihan. Beritakan sesuai pesanan atau kinerja dianggap tak memuaskan?

Jurnalis sejatinya adalah mereka yang paling merdeka, berdiri di atas segala agama dan kepercayaan. Mereka tak peduli, anda Islam, Kristen, Yahudi atau Atheis sekalipun. Mereka juga tak peduli, anda pria sejati, pria maco, gay, lesbi atau pencinta drama korea. Apakah itu memiliki nilai berita, sesuai fakta, teruji atau tidak, menarik atau tidak, berdampak bagi oang banyak atau tidak. Just that!

Jadi berhentilah menakar kesucian seorang jurnalis. Mereka juga mabuk dipinggir jalan, mereka juga ada yang berpakaian rapi dan ikut jamaah tabligh atau HTI. Jurnalis itu serupa dengan anda, mereka hanya diberikan sedikit keleluasan mencari informasi sehingga mereka tak ditilang polisi.

Soal gaji yang kecil, ini masalah yang tak pernah tuntas. Jika saja jurnalis-jurnalis di Indonesia memiliki gaji yang cukup, kemanan dan keselamatan yang terjamin, maka anda sebagai publik berhak menuntut informasi berkualitas. Jika itu tak terpenuhi, jangan berharap banyak pada media dan kerja-kerja jurnalis. Berharaplah agar jodoh jurnalis tidak itu ke itu saja, kalau tidak Humas, Public Relation, artis dan sesama rekan kerja, mereka akan menjomblo cukup lama.

Simaklah petuah Bill Kovach, di zaman tsunami informasi ini semua orang seharusnya sudah punya kemampuan jurnalistik yang baik. Bisa membedakan antara fakta dan hoax, mampu membedakan makar dengan kelakar, jeli melihat tujuan sebuah berita ditayangkan. Tidak harus menunggu berita hasil transkripan dan seragam di semua media massa.

Prabowo hanya keliru soal mall dan wajah kucel jurnalis saja. Mau ke mall atau tidak itu pilhan pribadi, soal wajah kucel itu sudah takdir dan nasib yang tak perlu disesali. Pakailah pembersih wajah “badak bareh” sebab tulisan ini disponsori bedak beras, pembersih wajah tradisional dari Pariaman.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up