Ranah

Pancaran Sinyal Seluler Tidak Kuasa Melawan Isolasi Cipari

Sinyal seluler bukan hal yang langka di kawasan perbukitan itu. Tidak hanya 3G bahkan sinyal 4G pun lancar di dapat. Internet menjangkau tempat itu lebih cepat dari kebutuhan mendesak warga sekitar yaitu akses jalan. Internet tanpa jalan seperti membangun imajinasi di tempat yang gelap.

Dibandingkan banyak kawasan terpencil lain di Nusantara, kampung itu sebenarnya masih layak jangkau. Desa Cipari terletak di kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Jarak antara Jakarta dengan Tasikmalaya sekitar 7 sampai 8 jam perjalanan darat. Bandingkan dengan wilayah lain di Nusantara yang hanya bisa dijangkau lewat laut dan udara.

Hanya saja, untuk menjangkau Cipari dari Tasikmalaya butuh usaha ekstra. Kita bisa menikmati jalan mulus hingga Parung Ponteng. Setelah memasuki desa Cibanteng, perlu usaha ekstra mengemudikan mobil melewati jalan bebatuan. Di antara tanjakan dan turunan, batu-batu seolah menggelinjang dihantam ban mobil.

Dalam kondisi normal, tanpa ada gangguan di jalanan, butuh hampir 2 jam untuk mencapai desa Cibanteng dari kota Tasikmalaya yang berjarak hampir 30 kilometer. Tetapi perjalanan untuk mencapai Cipari belum usai. Belum ada akses kendaraan roda empat untuk mencapai perbukitannya.

Jasa ojek dari penduduk setempat satu-satunya cara paling mudah untuk mencapai Cipari dari Cibanteng. Perjalanan juga bisa ditempuh dengan jalan kaki walaupun butuh tenaga dan waktu ekstra.

Motor akan membawa kita menuruni kawasan persawahan menuju tepian sungai. Satu-satunya penghubung antara perbukitan dan persawahan itu adalah jembatan gantung yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.

Untuk bisa melalui jembatan itu, kita terpaksa harus turun dari ojek. Meniti kayu demi kayu usang di tengah goyangan jembatan. Untunglah aliran deras sungai di bawahnya menawarkan kesegaran tersendiri.

Lewat dari jembatan maka ojek akan membawa kita pada tanjakan tanpa henti. Lalu kita menemukan rumah-rumah lengkap dengan kandang hewan di depan dan kolam ikan di belakangnya. Kita terasing tetapi tidak benar-benar merasa jauh.

Di Cipari tidak ada warung yang dijadikan tempat nongkrong oleh warga sekitar. Warung-warung kecil hanya menawarkan kebutuhan sehari-hari, beruntung kalau ada yang menyediakan gorengan di pagi hari. Perlu uang ekstra untuk mencari sarapan di warung kampung seberang. Sewa atau titip sama tukang ojek.

Pos Ronda jadi tempat kumpul warga di kala malam yang sepi di perbukitan itu. Mereka memesan kopi pada rumah terdekat lalu melanjutkan senda gurau sambil bermain kartu. Malam cepat datang di sana lalu sepi yang menyelimuti.

Bagi para pelancong yang tersasar, sinyal 4G menyelamatkan mereka dari rasa sepi. Sedangkan bagi penduduk setempat sinyal selular penting untuk memanggil tukang ojek ketika mereka ada keperluan di bawah sana. Mungkin itulah peran teknologi dalam menggenapi ganjilnya keterasingan mereka.

Teknologi memang menyiangi dunia dari keterasingan. Tetapi lebih daripada itu, pembangunan infrastruktur jauh lebih penting dibandingkan ilusi-ilusi yang ditawarkan oleh dunia maya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up