Ranah
Featured Video Play Icon

Pada Bung Hatta : Begini Inilah Kami Bung

Tugas sejati para pecundang adalah mengenang. Itulah bakti terbaik yang bisa kami berikan pada penyuluh zaman. Lainnya, kami hanya menghabiskan waktu untuk cita-cita pendek dalam rentang usia yang terus memanjang.

Kami yang hidup sekarang, tidak mau mempersulit diri untuk hal-hal yang berada di luar kepentingan pribadi. Yang kami butuhkan hanyalah kehidupan yang normal; rumah, mobil, tabungan lebih dari cukup, anak-anak yang bersekolah internasional dimana pelajaran sejarah dihapuskan, istri dan kalau bisa dua atau tiga orang simpenan mahasiswi.

Itulah kehidupan yang sebenarnya Bung, bukan jenis impian muluk-muluk yang kau miliki. Dan coba bayangkan; mana mungkin kami mau membujang sebagaimana kau hingga usia 43 tahun hanya demi cita-cita Indonesia merdeka? Hahaha Bung, di zaman sekarang ini, kami akan mencurigaimu menyukai sesama jenis.

Intermezo dari rutinitas hidup Bung, adalah liburan bukan penjara. Makanya kami tidak habis pikir, kenapa kau sia-siakan hidupmu di Belanda dengan menentang semua kesenangan yang tersedia disana? Kenapa pula kau mau menginap di hotel Prodeo hanya untuk sebuah impian Indonesie Vrij.

Ah pleidoi mu di masa sekarang tidak akan mengubah apa-apa. Sebab, yang kau tidak akan pernah mengerti di zaman kami ini, hukum sudah pasti bisa diperjualbelikan. Bagi kami Belanda adalah surga, bukan neraka dimana api penyucian bisa mengantarkanmu ke nirwana.

Kami tidak akan menentang kesenangan yang tersedia, kami akan menikmati sehabis-habisnya. Canabis, ecstasy, mushroom; semuanya tersedia untuk saudara tua. Jadi tidak salah kan Bung, bila sekarang kami bertanya-tanya; kenapa dulu semua kesenangan ini kau lewatkan hanya demi sebuah absurditas Indonesia Merdeka?

Exorbinte Rechten, hak-hak istimewa gubenur jenderal, telah mengirimmu ke neraka Boven Digoel. Bukan tempat yang enak, bahkan hingga saat ini. Tetapi kau ini Bung, memang gandrung menyiksa diri.

Kau biarkan kapal putih menyeret dirimu menuju camp interniran itu. Kau habiskan hari-harimu bersama orang-orang terhukum lainnya sembari memelihara cita-cita yang absurd tadi. Kau bunuh rasa bosan dengan bercocok tanam. Dan yang aneh, kau ulurkan persahabatan dengan suku asli sana, orang kaya-kaya. Kau menolak bekerjasama, berasmu dijatah, laukmu cuma ikan asin.

Sungguh, bagian hidup yang tidak akan pernah kami cita-citakan. Dengar Bung, bagi kami Boven Digoel dan Papua itu bukan lagi tempat pembuangan tetapi sumber pemasukan. Belanda telah lama pergi, gubernur jenderal tidak ada lagi; kami lah pemegang tunggal hak-hak istimewa Exorbinte Rechten.

Itu sebabnya kami bebas tanpa kendali di Papua. Kami tidak perlu mengulurkan persaudaraan dengan manusia Papua, sebab kami hanya butuh alam nya. Jakarta saat ini Bung, hanya butuh tembaga, gas, emas dan hutan; coba lihatlah, manusia Papua tidak masuk dalam komoditas yang kami butuhkan.

Kalau ada yang keberatan tinggal kirim polisi dan tentara; seenak hati kami bicara, “hei, ko OPM ya! Kitorang kasih mati baru ko tau rasa!” Bung, pada zaman kami ini, yang menang adalah yang praktis bukan yang idealis.

Kau akan menjadi orang gila yang asketik di zaman kami ini, Bung. Dan itu jelas akan membuat kesal semua orang. Kenapa sih, kau tabah betul berlama-lama di Banda Neira. Bersama Sjahrir kau jadikan tempat pembuangan itu sebagai tempat plesiran. Kau hanya membuang-buang waktu sembari terus mengulang-ngulang makan malam bersama Tjipto Mangunkusumo, terus mengulang-mengulang…ya ampun…apa kalian tidak bosan seperti itu?

Kau dan Sjahrir sama saja, betah berlama-lama dengan anak-anak sana, mengajari mereka dengan ilmu yang standarnya jauh di bawah sekolah internasional. Itulah mimpimu yang tidak masuk akal; di zaman ini yang perlu kau sadari Bung, bahwa bekal ilmu itu tidak berarti banyak bila kau tidak punya uang yang cukup untuk anakmu.

Ya, semua anak perlu sekolah tetapi hanya sedikit anak yang mendapatkan pendidikan yang baik. Sisanya, ya Bung, kita masih perlu lebih banyak kuli dari mereka yang tidak terdidik. Kita perlu cukup massa demonstran bayaran dari orang-orang bodoh.

Itu sebabnya, pendidikan itu harus eksklusif, tidak terjangkau, setiap kursi ada harganya sebab bila tidak demikian; bagaimana mungkin segelintir manusia bisa tetap memperbudak lebih banyak manusia di bumi Indonesia tercinta ini?

Jadi, bila kau hidup di zaman kami ini Bung, solidaritasmu hanya akan berakhir di kolong jembatan. Kami yang wangi ini, tidak akan sudi menjengukmu.

Di Pegangsaan 56, kau dan Soekarno pada bulan puasa itu membikin gara-gara. Ah, proklamasi, omong kosong itu bikin revolusi. Dan revolusi itu bikin pembangunan koloni terhenti lima tahun lamanya.

Mari Bung, kami ajarkan cara kami; tidak usah ada proklamasi seharusnya sehingga revolusi tidak perlu terjadi. Biarkan tangan terampil Belanda merawat bangsa ini, memang mereka mendapatkan semua kekayaan alam kita tetapi masa sih kita tidak dapat sisanya? Dan itu jumlahnya bukan tidak sedikit kan Bung? Demikianlah cara pintar kami mengelola nusantara ini Bung. Yang mulia bukanlah proklamasi tetapi investasi.

Dengan cara seperti itu kami tidak perlu keluar keringat, biarkan bangsa asing yang menggali, biarkan mereka membawa hasilnya ke negeri mereka dan kami, tentu saja masih bisa menikmati sisa-sisanya. Tetapi kau dan Sukarno menolak kompromi, betapa angkuhnya.

Kau tidak akan bisa hidup di zaman kami Bung. Kami tidak perlu mengenang proklamasi, dan yah, kami sudah mulai melupakannya. Upacara bendera sudah tidak wajib lagi di sekolah-sekolah yang telah mengganti kata “merdeka” dengan “Yes Sir”. Anak-anak kami tidak perlu lagi hormat pada Sang Saka Merah Putih, biarkan mereka memuja Sang Sakaw Meraih Putaw.

Bung Hatta, bagi kami hidupmu adalah rentetan mimpi buruk yang sekuat tenaga akan kami hindari. Bagimu prinsip adalah harga mati sedangkan bagi kami, prinsip itu tergantung pada kompromi.

Hanya karena prinsip yang kami tidak peduli, kau mundur sebagai wakil presiden. Bah, mengundurkan diri demi prinsip? Itu sama sekali tidak ada dalam kamus manusia Indonesia modern. Sekarang eranya kompetisi, plutokrasi yang indah bagi kami yang berduit.

Kau tidak harus mundur karena prinsip, sebab pada prinsipnya, ya, tidak ada prinsip. Kami tidak akan pernah mau mengorbankan kehidupan nyaman kami yang dibiayai oleh rakyat berakhir begitu saja karena makhluk aneh bernama prinsip.

Tidak, kami dan tentu saja, anak, istri dan simpanan-simpanan kami tidak siap untuk hidup melarat. Di zaman ini, mereka yang melarat tidak akan terpandang. Dan itulah anehnya zamanmu itu Bung, orang-orang melarat kok banyak mendapat posisi terhormat di mata rakyat?

Bila saja pada tanggal 12 Agustus 1902 di kampung Aur Tajungkang, bukan anak yang kelak diberi nama Mohammad Attar yang keluar dari perut Ibunda Saleha. Tentunya seratus tahun lebih berjarak waktu ini, kita tidak terjebak dalam penyesalan mendalam.

Kita hanya mampu mengenang, pertanda kita masih jadi pecundang. Kita tidak memberi tempat hidup bagi nilai-nilai Hatta dalam keseharian kita. Kita menginginkan surga tetapi enggan melewati api penyucian bernama pengorbanan. Kita menghirup nafas kemerdekaan tetapi jiwa kita terpenjara. Kita enggan menengok sejarah sebab itu hanya akan menghambat rutinitas kita.

Kita satu bangsa, tetapi sudah berbeda lingua franca; yang berkuasa menumpahkan darah demi seceret air. Bila pada hari ini, jalan hidup yang telah ditempuh oleh Hatta tidak masuk akal bagi kita maka selamanya kita akan menjadi kuli dari kuli bangsa lain. Sampai saat ini, begini inilah kami, Bung!

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up