Ranah

Mudik Dengan Astrea, Mereka Sebut Saya Gila

 

“Dasar gila” begitu kata orang-orang. Saat saya mudik dengan motor butut Astrea Grand buatan Jepang 20 tahun lalu.

Motor yang sudah hancur di beberapa bagiannya itu saya bawa mudik dari Jakarta ke Payakumbuh. Gila, adalah sebutan bagi orang-orang merdeka dari segala macam tetek bengek kehidupan yang fana ini. Saya membawa kegilaan itu untuk pulang ke ranah Minang.

8 September 2010, tepat saat pergantian hari. Saya menyela motor tua itu untuk bertualang di lintas Sumatera. Bermodal Peta, kunci busi (tanpa bawa busi cadangan), uang beberapa ratus ribu dan semangat menggebu-gebu. Hanya keyakinan saja yang saya andalkan untuk menaklukan perjalanan Jakarta – Payakumbuh.

Di Jakarta, saya berpamitan pada orang-orang dashyat yang pernah saya temui Andibachtiar Yusuf, Kamerad Edmond, Cemonkfais, Arista Budiyono dan Anggah.

Sebelum ayam berkokok, saya susuri jalanan Jakarta -Tangerang. Hampir imsak, saya mampir di sebuah warung pecel lele yang berada di depan pabrik di Kota Serang.

Usai mengisi lambung, seorang pegawai pabrik menghampiri. “Mau mudik ke mana mas?” tanya pegawai tadi, “Mau mudik ke Padang mas.” jawab saya.

Ia dan pegawai pabrik lainnya menatap serius pada motor saya yang sudah hancur itu.
“Mas yakin itu motor bisa sampe ke Padang?” Ia serius bertanya.
“Doakan saja,” jawabku berlalu dan membayar makanan tadi.

Belum sampai beberapa menit, setang motor saya macet tak mau dibuka. Saya mencoba memperbaikinya, tapi tak berhasil.

Antara ketawa dan malu, para pegawai pabrik itu beramai-ramai meriungi motor saya, mereka mulai mengotak atik setang motor saya hingga kembali normal dan saya cuma berdiri melihat saja. Indonesia bak surga, masih banyak orang-orang baik.

Jelang subuh saya sudah sampai d pelabuhan Merak dan mulai mengantre untuk membeli tiket penyebrangan dengan kapal Roro.

Melihat ratusan pengendara motor dengan aneka barang buat oleh-oleh keluarga mereka di kampung. Ada pula anak-anak balita yang terjepit di antara ayah dan ibunya, atau pasangan yang berboncengan mesra, mereka serupa dengan saya. Cuma punya satu tujuan, pulang kampung.

90 menit lebih mengantre, akhirnya saya bisa masuk ke dalam dek kapal bersama ratusan pengendara motor lainnya. Tangisan para balita mulai terdengar karena hawa panas dan asap kendaraan, kasihan itulah kata yang tepat buat para balita-balita yang dijajah orang tuanya buat pulang kampung atau mudik.

Setelah parkir saya naik ke atas kapal dengan harapan, semoga ada orang Padang yang pulang naik motor, lumayan ada teman di jalan. Sayapun berputar mengelilingi kapal, mencari keberadaan orang Padang dan hasil yang saya dapatkan cumo nol besar.

“Perantau Minang tak satupun naik motor buat mudik” saya membatin.

Sayapun berkenalan dengan orang-orang yang tujuannya ke Lampung dan Sumatera Selatan. Beberapa menit ngobrol sayapun merasakan ngantuk yang tak tertolongkan.

Pukul 09.00 WIB, kapal sudah merapat di dermaga Bakauheni, saya dibangunkan oleh para pemudik. Mereka bilang, sebentar lagi kita keluar kapal. Saya bangun dan menatap dataran Sumatera.

“Bonai, saya pasti datang,” ujarku sembari menatap sepeda motor dari atas geladak.

Keluar kapal, saya menikmati perjalanan. Dengan kecepatan dibawah 40 km/jam, akhirnya saya sampai di kota Bandar Lampung. Saya musafir, tak ikut berpuasa meski di hari-hari akhir Ramadhan. Di sebuah warung saya singgah.

Jam 2 siang, saya mampir di bengkel motor bersama-sama para pemudik motor buat berteduh dari hujan yang disertai angin kencang. Kira-kira pukul 18.00 WIB hujan berhenti, saya melanjutkan perjalanan.

Gelap sempurna pekatnya, sudah hampir tengah malam. Sebelum perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan saya mampir di kantor polisi buat menginap.

“Malam pak, saya mudik dan numpang nginap ya pak” kata saya pada polisi jaga.

“Silahkan mas, tidur di kursi panjang itu aja” kata polisi. Sebelum memejamkan mata, saya meminjam kamar mandi di pos jaga itu.

Kamar mandi yang saya lihat sangat gelap, tak ada lampu. Saya berjalan ke arah kamar mandi sembari menghidupkan handphone agar lebih terang, asik-asik nyari kamar mandi saya terkejut setengah mati! Ada kepala nongol dari balik kamar yang berjeruji besi yang ternyata ruangan tahanan.

Usai menyalurkan hajat alam, saya menuju kursi panjang dekat polisi tadi.

“Mau mudik ke mana mas?” pertanyaan kesekian yang saya dengar. Kali ini dari polisi.

“Ke Padang pak,” jawabku singkat
Tanpa komando, polisi itu mengoceh tak karuan.

“Anda gila? Mudik pakai motor kayak gitu ke Padang” katanya. Saya senyum dan terlelap saat polisi itu mengoceh.

Meski ia banyak oceh, polisi ini cukup baik. Ia bangunkan saya pada jam 8 pagi, 9 September. Setelah membasuh wajah. Saya terkejut saat melihat keadaan di sekitar. Pos jaga polisi ini berada di tengah-tengah hutan karet dan sawit!

Saat kembali ke pos jaga, ada beberapa polisi berdatangan. Mereka geleng-geleng kepala.

“Gila nih orang, naik motor kayak gini ke Padang” kata salah satu polisi.

Bosan dikatakan gila, saya angkat bicara “Pak, Belanda berbulan-bulan naik kapal dari Eropa sana ke Indonesia buat ngejajah kita, sedikitpun kita tidak pernah bilang Belanda gila. Ini saya di negara sendiri bapak bilang saya gila!” kataku dengan suara agak tinggi.

“Iya, ya. mudah-mudahan kamu selamat sampai di kampung kamu,” Jawab mereka.

Setelah bersalaman dan mengucapkan terima kasih, sayapun melanjutkan perjalanan. Sesampai di kota Baturaja, kira-kira jam 10 pagi, saya mampir ke warung makan dan mulai bertanya di mana daerah rawan bajing loncat atau bahasa gaulnya “begal”.

Tebing Tinggigi, Muara Rupit adalah daerah yang paling rawan bajing loncat, kata pemilik warung tersebut. Ia menyarankan jangan pakai helm, masker, dan tas diletakkan di depan badan. Terakhir, jangan pakai sepatu, cukup sendal jepit saja. Menurutnya itu adalah cara aman supaya tak kena begal.

Sayapun mengikuti kata pemilik warung dan mulai berjalan menyusuri lintas tengah Sumatera dengan berbagai macam lukisan hidup yang ditangkap oleh kedua mata saya. Bermotor, mampir di warung buat makan dan bertanya-tanya di mana saja daerah rawan yang akan saya lewati hingga sampai di perbatasan Jambi – Sumatera Barat.

Merasa aman, karena sudah melewati jalur rawan, sayapun bermotor hingga tengah malam dan akhirnya sampai di Pos Ketupat polisi di daerah sebelum kota Bangko. Saya pun mampir karena kelelahan.

Beberapa polisi yang bertugas langsung menyambut dengan kompak. Mereka bertanya. “Dari mana dan mau ke mana pak?” tanya polisi. “Dari jakarta hendak ke Padang pak” ucap saya.

Sama dengan polisi sebelumnya, mereka kaget dan langsung melirik motor yang sudah tak jelas rupanya itu.

“Gila juga kamu pakai motor ginian pulang kampung dari Jakarta” ucap salah seorang polisi.

Yap, ini ucapan gila yang kesekian.

Saya diberikan sekaleng botol Pocari Sweat dan semangkok mie rebus panas plus telor. Seumur-umur baru kali ini saya diperlakukan istimewa oleh polisi pikir saya dalam hati.

Hari berganti, 10 September. Komandan di pos jaga itu pulang, polisi lainnya mengeluarkan batu domino dan sekantong plastik minuman tradisional, tuak.

“Ayo kita main domino dan minum dulu.” ajak salah seorang polisi berinisial SM.

Lagi asik main domino pak polisi bertanya “Surat motor kamu lengkap nggak?” sayapun menjawab “STNK ada, pajak mati dan saya tidak ada SIM,”

Mendengar jawaban saya. Semua polisi itu tertawa terbahak-bahak.

“Dasar gila kamu, kok kamu jujur ngomongnya?” tanya SM. “Daripada saya bohong ntar saya kena tilang dan tidak bisa pulang kampung” jawab saya dan mereka semakin keras tertawa.

Pukul 02.15 WIB setelah main domino dan sedikit tegukan tuak, saya minta izin buat melanjutkan perjalanan, sayapun bersalaman dengan para polisi. Saat menyela sepeda motor berkali-kali, motor Astrea itu tak mau lagi menyala.

“Kenapa?” tanya SM. “Nggak tau nih kok tiba-tiba tidak mau hidup ini motor” jawab saya.

“Mana sini saya bantu” setelah diotak atik SM ternyata busi saya sudah rusak.
“Ini businya rusak, mana busi cadangan kamu?” “tidak ada pak” jawab saya.
Tanpa pikir panjang SM mengajak temannya buat mencari busi di tengah malam buta itu.

“Kamu tunggu disini” kata SM.

Setengah jam berlalu, SM dan temannya datang dan membawa busi baru untuk sepeda motorku. Setelah dipasang busi baru, giliran karburatornya yang rusak, saya sebenarnya tidak mengerti mesin. SM bersama teman polisinya juga tidak tinggal diam, mereka membantu memperbaiki motor saya hingga akhirnya hidup.

Saya cuma melihat saja tanpa membantu mereka sedikitpun.

“Waduh pak, pakai apaan saya bisa membalas kebaikan bapak ini?” tanyaku. “Sebenarnya saya menginginkan kaos yang kamu pakai!” ucap SM. Tanpa pikir panjang saya melepaskan kaos yang saya pakai, baju itu bertuliskan “Menyesal Jadi Orang Indonesia” lalu saya membuka tas dan mengambil baju kaos Saprtack’s untuk teman SM.

“Semoga kamu selamat sampai d kampung kamu dan ntar kalo balik jangan lupa mampir lagi di sini,” ucap SM.

Kamipun saling tukar nomor handphone dan bersalaman, sayapun melanjtkan perjalanan.

Pukul 06.00 WIB saya sampai di kota Muarobungo, menikmati sarapan pagi dan ngopi. Saya tidak tahu kenapa mata ini tak mengantuk sedikitpun. Semangat saya makin menggebu-gebu untuk bisa cepat sampai di kampong.

Setelah sarapan dan ngopi saya melanjutkan perjalanan hingga melewati perbatasan Jambi – Sumatera Barat. Kampung halama sudah dekat, di tengah-tengah perjalanan saya berdiri diatas motor dan berteriak sekuat tenaga” Ranah Minang, Adeeeen Tibooo,”

Suara takbiran bersenandung dari kampung ke kampung yang saya lewati, akhirnya lebaran juga. Sayapun berhenti di salah mesjid di kota Rumbai buat melakukan Salat id, setelah Salat saya mencari-cari jika saja ada bengkel atau toko oli yang buka. Akhirnya di Gunung Medan baru saya mendapatkan ada toko oli yang buka, sayapun menambahkan oli mesin pada motor yang pantang kalah itu.

Usai Gunung Medan, saya melewati kota Sijunjung dan mampir ke rumah salah seorang teman yang saya kenal setahun yang lalu tapi belum pernah bertemu.

Kami kenal lewat Facebook dan berkomunikasi Cuma di media sosial itu.Rshad Bouchari namanya. Kami janji bertemu di Sijunjung, basa-basi dan saling berbagi cerita. Tak lupa, ritual yang entah siapa memulainya. Kami bertukar baju kaos.

Rshad memberikan saya kaos Spartack’s hasil desain dia sendiri dan saya memberikan Rshad kaos bertuliskan, “I Fuck Better Than Ariel”. Setelah puas bercengkrama sayapun pamit. Tapi, lagi-lagi sepeda motor saya mati total.

Rshad menawarkan bantuan, sepeda motor saya dinaikan ke atas mobil bak dan diantar ke Payakumbuh. Saran baik, tapi saya tak suka.

“Saya dari Jakarta sampai Sijunjung pakai motor, sekarang saya dari Sijunjung ke Payakumbuh naik mobil bak. Saya tidak akan menyerah, tolong carikan bengkel sampai besok pun bakalan saya tunggu sampai motor hidup kembali dan saya tidak mau kalah di finish,” kataku pada Rshad.

“Baiklah, saya akan minta tolong sama saudara, kebetulan ia orang bengkel, bisa memperbaiki motor kawan,” jawabnya.

Sepeda motorku diletakkan di bengkel untuk diperbaiki. Jam menunjukkan angka 12. Rshad berpamitan karena dia mau salat Jumat. Gobloknya, dia lupa ganti baju. Rshad masih memakai kaos yang saya berikan. Saya hanya bisa tertawa membayangkan Rshad salat dengan baju yang sangat kontroversial kala itu.

Usai salat, Rshad mengaja ke rumahnya. Kami makan renang buatan ibunya. Ah, jadi juga berhari raya. Usai makan, kami kembali ke bengkel. Beruntung, motor butut saya bisa hidup. Payakumbuh sudah dekat dari genggaman.

Pukul 16.00 WIB saya sampai di daerah Labuah Silang, Payakumbuh. Saya kembali berdiri di atas sepeda motor dan berteriak serupa orang hilang akal. “Payokumbuaaah, aden tiboo,”.

Saya berhasil menaklukan jalur Jakarta – Payakumbuh selama 3 hari 2 malam dan melewati 5 provinsi. Itu terjadi pada tahun 2010 lalu.

Kini, saya masih dalam perjalanan mudik ke Payakumbuh, tentunya sudah tak disebut “gila” lagi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up