Ranah

Merokok, Obat Segala Gundah Gulana Dalam jiwa

Saya sangat membenci semua artikel yang mendisktreditkan rokok. Seolah-olah rokok adalah sumber masalah bagi negeri ini. Entah itu masalah kesehatan, masalah ekonomi, masalah sosial, dan budaya.

Bahkan hingga kemarin, ada seorang kawan di grup Whatsapp membagikan artikel yang menyatakan bahwa pendapatan industri rokok dalam seminggu, jauh lebih besar ketimbang penerimaan zakat nasional dalam setahun.

What?! Bagaimana ceritanya kita bisa memojokkan rokok dengan Agama?!

Jika saja ada forum yang menghimpun advokasi untuk kaum perokok, barangkali para perokok seluruh Indonesia akan turun ke Monas untuk melaksanakan demo bela rokok berjilid-jilid.

Namun tentu ini tidak dilakukan.

Selain tak ada organisasi yang mau menghimpun dan mendanai aksinya, kaum perokok sendiri biasanya adalah orang-orang cerdas yang selalu berfikir sebelum bertindak.

Saya heran, di tengah pemerintah yang sedang gencar menjadikan tembakau sebagai komoditas ekspor andalan nasional. Di tengah itu pula para oknum dan organisasi ngehek gencar membatasi pergerakan tembakau dan produk-produk turunannya.

Bagi banyak orang, rokok ini adalah sumber penyakit, sumber dari segala sumber. Mulai dari masalah kesehatan umat manusia, hingga kids zaman now yang kebanyakan micin atau generasi milenial yang rentan penyakit. Para perokok langsung menjadi tersangka, tak akan lolos praperadilan seperti Papa Setya.

Padahal, ada satu sumber penyakit yang sebenarnya menjadi pangkal masalah kesehatan, namun tidak pernah diperhatikan. Yaitu, masalah gangguan kejiwaan. Menurut pacar saya yang perawat, tak hanya tubuh saja yang harus diperhatikan. Kesehatan jiwa adalah yang utama, katanya.

Dear para jomblo, jangan banyak berharap punya kekasih perawat. Naiklah terlebih dahulu ke maqom makrifat, dan pahamilah lelaku dari bunyi batuk khas para perokok untuk melawan sepi yang keji.

Segala penyakit yang hadir di dalam tubuh manusia semua berasal dari jiwa yang tidak sehat. Gangguan kejiwaan yang paling ringan dikenal dengan nama stress. Nah, kenapa penanggulangan stress dan pemecahan masalahnya tidak seriuh saat orang membahas pencegahan terhadap rokok?!

Kalau orang bilang persoalan ekonomi adalah sumber stres, orang kaya juga banyak yang stres. Kalau orang bilang kepopuleran adalah sumber masalahnya, orang yang tidak populer juga bisa stres. Jadi, apa penyebab stress sebenarnya?

Persoalan stres yang utama adalah hati. Hati yang kosong oleh agama dan budaya. Karena itu masyarakat zaman dulu benar-benar serius memegang teguh agama, adat istiadat, dan budayanya. Di Minang ada sebuah pedoman yang katanya digenggam teguh hingga hari ini.

“Adaik basyandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Kira-kira artinya, Adat bersandar pada syari’at, syari’at bersandar pada kitab Allah.

Karna saya kira, hal yang paling mungkin dan bisa mengelola hati dan perasaan itu ya hanya agama dan budaya. Dan jika itu tidak dikelola dengan baik, maka stres dan segala masalah kesehatan jiwa umat manusia milenial akan dengan mudah terganggu.

Maka tidak mengherankan jika para pendeta dan pengurus gereja di Roma begitu sangat berpengaruh dan dihargai di Eropa. Maka tidak mengherankan jika para seniman-seniman dan pakar budaya di luar negeri dibayar mahal untuk memelihara kebudayaan. Karna mereka tahu, hanya agama dan budayalah pencegah segala penyakit yang paling utama.

Lantas, bagaimana cara mencegah penyakit hati di Indonesia? Ketika para ulama dan pimpinan adat hanya dimobilisasi untuk kepentingan politik sesaat, dan para seniman sangat kesusahan untuk mendapat apresiasi yang layak. Jangankan untuk makan, untuk membeli rokok sebatang saja masih harus membuat proposal.

Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia!

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up