Ranah

Menziarahi Puncak Tambora Yang Pernah Mengubah Sejarah Umat Manusia

Tambora merupakan salah satu gunung di Indonesia yang paling tersohor di dunia karena catatan sejarah dan berbagai keunikan yang dimilikinya. Tambora tercatat merupakan gunung dengan letusan terbesar dan mengeluarkan bunyi letusan terkeras sepanjang sejarah umat manusia. Suara letusannya terdengar sampai Singapura, dan Sumatera yang jaraknya ribuan kilometer dari Pulau Sumbawa.

Abu vulkaniknya mencapai Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan yang terjadi pada Bulan April tahun 1815 ini menimbulkan korban jiwa sekitar 92.000 orang, sebuah angka yang sangat luar biasa mengingat pada masa itu jumlah penduduk Pulau Sumbawa dan Lombok hanya sekitar 300.000 jiwa.

Yang paling fantastis, letusan Tambora mengakibatkan terjadinya perubahan musim dan cuaca di dunia. Satu tahun setelah letusan Tambora, tahun 1816, dikenal sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas” karena perubahan cuaca drastis di Amerika Utara dan Eropa, akibat debu vulkanik yang dihasilkan Tambora.

Perubahan cuaca yang drastis ini berakibat banyak panen yang gagal dan kematian ternak di belahan bumi bagian utara, yang memicu terjadinya bencana kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Letusan Tambora juga mengubah sejarah politik dunia, karena mengakibatkan Kekalahan Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte pada Bulan Juni 1815 pada pertempuran di Waterloo. Kekalahan Napoleon ini lebih disebabkan oleh kondisi cuaca yang sangat buruk dan ekstrim akibat pengaruh letusan Tambora, alih-alih karena ketangguhan dan kekuatan bersenjata dari Wellington dan pasukannya

Gunung Tambora, terletak di dua kabupaten di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut terletak di wilayah Kabupaten Dompu, sedangkan lereng sisi selatan hingga barat laut dan kaki hingga puncak di sisi timur dan utara terletak di Kabupaten Bima.

Meskipun Tambora sangat tersohor di dunia, namun jika dibandingkan Gunung Rinjani di Pulau Lombok, NTB, dan Gunung Semeru di Jawa Timur, Tambora masih belum begitu banyak dijadikan tujuan pendakian oleh para pendaki gunung dan pecinta alam baik domestik maupun manca negara.

Sarana transportasi yang terbatas, dan akses jalan yang masih buruk menuju desa terdekat ke kaki Tambora, membuat para pendaki harus berpikir berulang kali sebelum memutuskan mendaki Gunung Tertinggi di Pulau Sumbawa ini.

Untuk mendaki Tambora hanya ada satu jalur yang dikenal dan biasa digunakan para pendaki, yaitu melalui Jalur Desa Pancasila.

Ada jalur lain melalui Desa Doro Mboha, atau lebih dikenal dengan Jalur Bupati. Jalur ini bisa dilewati mobil jeep dan mobil bergardan ganda lainnya, dan hanya membutuhkan waktu satu jam untuk sampai ke kalderanya. Jalur Bupati ini, jarang digunakan oleh para pendaki.

Pada awalnya, rombongan kami sendiri berencana mendaki Tambora melewati jalur konvensional ini. Namun beruntung, ketika kami sedang menunggu bis di Terminal Ginte, Dompu, kami didatangi oleh seorang lelaki setengah baya yang ternyata seorang pemandu senior dan sesepuh bagi para pendaki di Pulau Sumbawa.

Pak Adun, nama lelaki setengah baya itu, dia menyapa kami dengan ramah, setelah berbincang hangat beberapa saat dia memberitahu kami bahwa selain jalur Desa Pancasila, masih ada Jalur lain menuju Puncak Tambora, yaitu melalui jalur Desa Doro Peti.

Setelah berdiskusi dengan anggota rombongan lain, akhirnya kami memutuskan untuk mendaki Tambora dengan naik melalui jalur Desa Doro Peti dan turun melalui Desa Pancasila. Pak Adun sendiri, belum pernah melalui jalur ini, namun dia memberi nama seorang pemandu lokal yang bisa menggunakan jalur Desa Doro Peti.

Perjalanan hari pertama kami mulai pukul 07.30 pagi dari desa Doro Peti, dalam perjalanan kami melewati Dusun Gunung Sari, dusun terakhir sebelum mencapai tepian hutan Gunung Tambora.

Mayoritas penduduk Dusun Gunung Sari bukanlah masyarakat asli Dompu, sebagian besar mereka merupakan transmigran asal Pulau Lombok, kebanyakan mereka masih menggunakan Bahasa Sasak untuk komunikasi sehari-hari.

Ketinggian Doro Peti sekitar 240 meter Dpl (Diatas Permukaan Laut). Dari Dusun Gunung Sari menuju pintu hutan, kami melewati hutan yang kondisinya dalam keadaan sangat memprihatinkan. Pada beberapa titik terlihat tumpukkan kayu-kayu siap jual hasil pembalakan liar.

Dari jauh terdengan raungan gergaji mesin yang sedang menebangi hutan, menurut pemandu kami, pihak yang melakukan pembalakan liar adalah masyarakat sekitar Dusun Doro Peti, dan hanya dalam skala kecil untuk pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari.

Keterangan Pak Adun lain lagi, pembalakan liar yang terjadi di wilayah cagar alam di Lereng Tambora, dilakukan secara sistematis oleh cukong-cukong besar dan mustahil bisa terjadi tanpa sepengetahuan pemerintah Kabupaten Dompu dan Bima.

Melihat skala kerusakan yang terjadi dan tumpukan-tumpukan kayu hasil pembalakan liar, saya percaya sepenuhnya dengan apa yang diucapkan oleh Bang Adun.

Setelah berjalan kaki hampir 3 Jam dari Doro Peti, tiba-tiba dari arah belakang terdengar deru mesin kendaraan yang menuju ke arah kami, setelah kami tunggu beberapa saat, ternyata bunyi mesin itu datang dari truk yang akan mengangkut kayu hasil pembalakan liar yang tersusun rapi di pinggir jalan yang kami lewati.

Awalnya, kami enggan untuk menumpang truk tersebut, namun atas desakan Pak Sumantri dan mengingat waktu yang semakin siang, kami akhirnya menumpang truk tersebut sampai ke pintu hutan.

Ternyata jarak ke pintu hutan tidak begitu jauh lagi dari tempat kami menaiki truk, hanya sekitar 15 menit di dalam truk akhirnya kami sampai di pintu hutan.

Tepat jam 12.00 siang kami memutuskan beristirahat makan siang di tempat yang biasa digunakan sebagai pondok istirahat oleh masyarakat lokal yang sedang berburu rusa dan ayam hutan di hutan lereng Tambora. Tempat itu biasa disebut Pondok Berburu. Di tempat itu juga kami mengisi jerigen dan botol-botol air kami untuk kebutuhan air selama pendakian.

Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan, kali ini jalur yang kami lewati cukup menantang, tanjakan-tanjakan yang panjang mulai sering kami lewati, hutan pun semakin lebat. Beberapa kali sepanjang jalan, saya melihat ular yang sedang melintas di jalur yang kami lewati.

Bunyi kepak sayap ayam hutan yang terbang, karena mencium keberadaan kami juga sering terdengar. Beberapa anggota rombongan mulai merasa kelelahan, dan mengeluhkan susahnya jalur ini.

Saya sendiri harus mengakui jalur Doro Peti ini bukanlah jalur yang mudah, dan bukan jalur yang tepat untuk digunakan pendaki pemula. Selain jalurnya yang panjang dan banyak tanjakan, jalur ini juga minim sumber air, karena itu dibutuhkan stamina prima dan semangat tinggi untuk melewatinya.

Selepas makan siang perjalanan kami lanjutkan non-stop dengan kesepakatan akan berhenti pukul 05.00 sore di Cemara Tujuh, batas vegetasi antara hutan dan kaldera tambora.

Kenyataannya pada pukul 05.00 Sore, rombongan terdepan baru sampai pada Cemara Satu. Kami memutuskan mendirikan tenda disana sambil menunggu anggota rombongan lain yang masih belum sampai di lokasi.

Beruntung sekali persediaan air kami masih cukup untuk memasak dan menyeduh kopi malam ini. Di Cemara Satu, lokasi pendirian tenda kami malam ini, tidak terdapat sumber air. Sumber air terakhir sebelum puncak baru dapat ditemukan lagi di Cemara Tujuh.

Selain persediaan air yang cukup, kami juga diuntungkan dengan suhu udara yang tak terlalu dingin malam itu. Akhirnya setelah selesai makan malam dan sedikit obrolan canda, kami masuk ke tenda masing-masing.

Keesokan paginya, setelah sarapan dan minum kopi, tepat pukul 08.00 pagi kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan menuju Cemara Tujuh, kami harus melewati tanjakan-tanjakan curam dan terjal.

Sementara dibeberapa titik kita harus melipiri punggungan yang di sebelah kiri atau kanannya terdapat jurang yang cukup dalam. Terlalu riskan jika melewati jalur ini dalam kondisi gelap.

Tepat jam 01.00 siang, kami mencapai Kaldera Tambora. Salah satu kawah terbesar di dunia, pemandangan Kaldera Tambora yang amat menakjubkan membuat hampir semua anggota rombongan terbelalak, dan membuat kelelahan yang kami rasakan selama pendakian seperti terbayar lunas.

Seorang teman mengamati jejak-jejak kecil di pasir dekat bibir kawah, dari jejaknya dia menduga itu adalah jejak seekor kijang gunung. Pemandu kami memastikan bahwa jejak itu memang merupakan jejak kijang gunung setelah ia mengamatinya lebih teliti.

Pemandangan fantastis dari Kawah Tambora, membuat kami betah berlama-lama disana, namun karena hari semakin senja sementara Puncak Tambora seperti menantang untuk segera didaki, setelah puas mengambil gambar, kami segera bergerak menuju Puncak Tambora. Tujuan dari pendakian ini.

Pukul 15.30, seluruh rombongan sampai di puncak, setelah melewati medan yang cukup sulit dan melelahkan. Namun, semua kelelahan seperti sirna, terbayar lunas, karena akhirnya kami bisa mencapai puncak gunung bersejarah ini.

Puncak Tambora sendiri hanya berketinggian 2851 meter dpl, membuat tambora tidak masuk kedalam tujuh puncak gunung tertinggi di Nusantara, namun medannya yang sulit dan panjang membuat tingkat kesulitan tambora masih diatas Rinjani atau Argopuro.

Sebelum meletus ketinggian Gunung Tambora diperkirakan sekitar 4300 meter, menjadikan Tambora sebagai Puncak tertinggi di Nusantara di masa itu.

Namun pasca letusan yang menumpahkan jutaan kubik magma dan debu vulkanik mengakibatkan ketinggian Tambora terpapas hampir 1500 meter, dan menciptakan kawah seluas 7 km2 dan kedalaman kaldera sekitar 1000 meter. Berdasarkan fakta-fakta ini, saya dapat membayangkan betapa dahsyatnya letusan Tambora di bulan April tahun 1815 itu.

Setelah puas menikmati keindahan dan kegagahan Tambora dari puncaknya, serta mengambil beberapa foto , kami segera bergerak turun melewati jalur Desa Pancasila. Sembari menyusun rencana pendakian berikutnya setelah Tambora.

Masih begitu banyak gunung di Nusantara yang harus didaki, masih begitu melimpah pelajaran dan kebijakan yang harus kita pelajari dari alam. “Alam takambang jadi guru” begitu menurut postulat Minang, dan saya setuju sepenuhnya dengan postulat itu.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up