Ranah

Menyingkir Ke Yogyakarta, Nasjah Djamin Menentang Jakarta

 

Nasjah Djamin, tak terlalu ternama. Bahkan dipandang sebelah mata oleh para sastrawan di Jakarta. Ia yang seangkatan dengan Chairil Anwar sering dipandang sebelah mata dalam sejarah kesusasteraan Republik ini. Nasjah Djamin, membuktikan kepongahan seniman di Jakarta. Di masa-masa akhir hidupnya ia habiskan di Yogyakarta melakukan perlawanan terhadap dominasi Jakarta dalam ementukan mana yang karya sastra mana yang bukan. Padahal, Nasjah mengetahui bahwa karya-karya yang dikirimkan para penulis di daerah tak pernah dibuka amplopnya.

Nasjah Djamin, memang sempat mereguk sesaat manisnya popularitas sebagai seniman di Ibukota yang dekat dengan para pendiri negara. Namun, entah dengan alasan apa, ia menyingkir dari riuhnya pusat negara yang baru saja memproklamirkan kemerdekaan.

Ia yang awalnya bergabung dengan para seniman di Jakarta menyepi ke pedalaman Jawa Tengah. Dari sana ia terus mengirimkan karya-karyanya dan memotivasi banyak penulis dan sastrawan agar terus berkarya.

Nasjah tak takut kompetisi, ia bahkan menulis novel “Hilanglah si Anak Hilang” hanya dalam waktu 5 hari saja. Dalam buku Sastra Indonesia Modern Kritik Postkolonial, Nasjah diceritakan menulis novel itu dengan tekun selama 5 hari tanpa jeda, sebagai upaya perlawanan dari daerah terhadap monopoli Jakarta. Kala itu, karya sastra dianggap sebuah karya jika lulus seleksi selera orang-orang Jakarta.

Dari tulisannya juga terungkap kisah Chairil Anwar, dia menuliskan “Hari-hari Akhir si Penyair” (Biografi Chiril Anwar). Di antara karyanya yang banyak dikenal adalah “Gairah untuk Hidup dan untuk Mati”, lalu ada “Ombak Parangtritis”dan novel “Bukit Harapan”

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up