Ranah

Menikam Jejak Minangkabau di Gelanggang Festival

Bagi masyarakat Minangkabau kesenian adalah sarana penghubung antara kampung dan rantau. Melalui kesenian interaksi itu terjadi. Dalam penciptaan seni segala filosofi mengenai hidup dan prinsip masyarakat Minangkabau terangkum dikukuhkan menjadi teks dan bentuk. Dalam proses penciptaan seni tersebut juga kritisisme atas ke-Minangkabau-an tersebut dipernyatakan, dinyatakan, dan diejawantahkan.

Sebagai bagian dari dinamika kebudayaan, proses tersebut bisa terbentur dan berhadapan dengan dinamika sosial masyarakat. Seni tersebut kemudian kembali dipertanyakan kembali, sejauh mana fungsi utama seni hari ini bagi masyarakat Minangkabau yang tersebar di seantero negeri ini?

Minangkabau Art Forum melalui Minangkabau Culture and Art Festival mencoba menjembatani seniman-seniman Minangkabau di ranah dan di rantau dari berbagai disiplin ilmu dan lintas generasi untuk dapat menggali potensi lokal yang masih banyak belum diketahui masyarakat kita sendiri.

Kehadirannya merupakan wadah baru bagi dialektika seniman Minangkabau untuk berbagi dalam mengembangkan seni dan budaya, sehingga nanti akan lahir seniman-seniman yang cerdas, seniman-seniman yang dengan latar pijakannya mengerti dengan dasarnya.

Tahun 2016 lalu Minangkabau Culture and Art Festival telah mengangkat tema “Kembali ke Pangkal Jalan” yang diambil dari filosofi Minangkabau. Dengan arti kata, apabila kebimbangan dalam sebuah berjalanan sudah melanda, maka berbaliklah, kembalilah ke pangkal jalan (ke awal) agar kita merenungkan kembali untuk apa gunanya kita melangkah, untuk apa gunanya kita berjalan.

Agenda Minangkabau Culture and Art Festival kali ini akan mengangkat tema Manikam Jajak (Menikam Jejak) mengingat sejarah penciptaan seni di Indonesia tak pernah luput dari konstribusi seniman Minangkabau.

Sastra Indonesia moden ditandai peridoenya dengan karya-karya dari pengarang Minang. Perkembangan seni rupa Indonesia tak bisa dilepaskan dari capaian para perupa Minangkabau. Begitu juga tari kontemporer Indonesia, tak mungkin untuk tidak menyebut para seniman tari dari Minangkabau. Sebagaimana juga teater dan musik, para seniman Minangkabau memberikan tawaran-tawaran yang tak mungkin diluputkan begitu saja.

Tapi, menyempitkan sumbangsih tokoh Minang hanya dalam arena kesenian juga tidak cukup. Seni hanya salah satu gelanggang.

Masyarakat Minangkabau pun meninggalkan jejaknya di gelanggang lain, seperti politik, ekonomi, agama, pendidikan, dst. Dalam arena politik dan pendidikan, mungkin sudah terlalu sering kita mengulang nama-nama para pendiri bangsa.

Apapun ideologi yang pernah bertarung di gelanggang politik kita, selalu ada orang Minangkabau yang menjadi salah satu tokoh sentralnya. Begitu juga dalam bidang agama, kita tak pernah lupa dengan berbagai warisan pemikiran, sikap, dan karya dari para ulama Minangkabau.

Apalagi dalam bidang ekonomi, mulai dari ekonomi kelas bawah sampai kelas atas, orang-orang Minang telah lama menjejakkan kakinya.

Meskipun begitu, suatu hal mendasar yang sering dilupakan orang Minang hari ini: Faktor etnis bukanlah satu-satunya yang menyebabkan orang-orang Minang tersebut menjadi tokoh di gelanggangnya.

Sebagian kita hari ini cenderung mengetengahkan etnisitas untuk melihat capaian-capaian para pendahulu dan kemudian seakan-akan keminangkabauanlah yang menjadi sebab segala keberhasilan mereka itu.

Pandangan Minangsentris seperti itulah yang menjadi faktor utama mengapa saat ini orang Minangkabau seakan tak tampak lagi di setiap gelanggang. Kalau pun ada, cenderung tidak merata di setiap gelanggang.

Inilah pentingnya bagi kita hari ini untuk menelusuri kembali jejak para pendahulu itu. Tak hanya menelusuri, tetapi juga membuat tikaman pada jejak tersebut. Salah satu jejak yang masih bisa kita telusuri adalah bagaimana para pendahulu itu memposisikan Minangkabau sebagai kebudayaan yang mengakomodir kebaruan.

Sebab memang begitulah Minangkabau. Kita menjadi Minangkabau adalah dengan cara “tidak menjadi Minangkabau”.

Kebudayaan kita memberikan tempat bagi masyarakatnya untuk menerima kebaruan dari kebudayaan lain, bahkan untuk menjadi “warga” dalam kebudayaan lain. Itulah sebabnya, kita percaya pada tuah merantau. Kita yakin bahwa ada kebudayaan lain yang mesti kita masuki dan di saat yang sama melebur dengan kebudayaan asal-mula kita.

Kita tahu, kebudayaan Minang selalu “mengijinkan” masyarakatnya untuk “menjunjung langit” kebudayaan lain selama ia “menginjak bumi” kebudayaan lain tersebut. Inilah yang dimaksud dengan “menjadi Minangkabau adalah dengan cara tidak menjadi Minangkabau”. Suatu hal yang paradoks memang. Tapi, paradoksitas seperti inilah yang selalu kita temukan dalam kebudayaan Minangkabau.

Paradoksitas yang terus melahirkan dialektika. Minangkabau tanpa dialektika berarti mati.

“Menikam Jejak adalah suatu pertanyaan bahwa setiap yang berlalu pasti meninggalkan jejak, maka kita hari ini mesti memberi tikaman pada jejak itu: Sebagai pemberi tahu bahwa kita masih menemukan jejak mereka dan oleh sebab itu tak akan tertinggal dari mereka.” Terang Direektur Festival Minangkabau Art Culture and Art Feestival.

Dalam artian di setiap capaian para pendahulu, kita tak hanya mengambil apa yang terbaik dari mereka, tetapi juga menciptakan sendiri apa yang terbaik bagi kita di zaman ini.

Kita tak akan bisa bertahan kalau hanya mengandalkan warisan terbaik mereka sebagaimana kita tak akan bisa melangkah lebih maju kalau meluputkan apa yang terbaik dari mereka. “Hubungan kita dengan para pendahulu bukan lagi dalam hubungan tinggal-habis, tapi hubungan tikam-jejak,” tambah Aidil.

Agenda Minangkabau Culture and Art Festival akan dilaksanakan dari 9 – 13 Oktober 2017 bertempat di Graha Bhakti Budaya, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Waktu pertunjukan pukul 19.30 WIB s.d. selesai.

Beberapa seniman, akan turut menampilkan karyanya adalah Ery Mefri, Hartati, Jefriandi Usman, Anusirwan, Cilay, Armen Suwandi, Alfiyanto, Yaseer Arafat, Ali Sukri, Weendi H.S. Taufik Adam, Bebby Krisnawardi, Syahril Alek, dan S. Metron Masdison.

Selain itu akan ada agenda pameran lukisan di seepanjang agenda oleh FORMMISI-YK dan diskusi beertemakan “Minakgbau Meenghadapi Revolusi” tanggal 13 Oktober 2017 dengan pembicara adalah Afrizal Malna, S Meteron Masdison, Damhuri Muhamad, dan Heru Joni Putra.

Festival ini diselenggarakan oleh Minangkabau Art Forum yang digagas oleh penggagas Fasli Djalal bersama dengan beberapa seniman Minangkabau yang berdomisili di Jakarta yaitu M.Aidil Usman, Jefriandi, Hartati, Esha Tegar Putra, Heru Joni Putra dan beberapa nama lainnya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up