Ranah

Menggandeng Mimpi Bersama Vespa Gembel

Untuk apa selalu bermimpi, jika tak berani mewujudkannya. Dan aku bermimpi tentang Indonesia. Dalam mimpi itu, aku berdiri di ujung bebatuan cadas di samping tugu nol kilometer Indonesia, Sabang.

Kisah ini berawal dari 19 januari 2014, saat aku berada di ujung Barat Indonesia. Republik ini kuartikan berbeda, bukan suatu pencapaian, tapi mencoba menerjemahkan semua mimpiku untuk Indonesia.

Aku mulai mengingat setiap harapan dan mimpi yang kugantungkan di khayalku. Sebuah mimpi yang awalnya kurasa mustahil tuk ada di kenyataanku. Apakah mungkin seorang bocah ingusan sepertiku, yang ceroboh, pemalas, dan tak punya kemampuan apa apa, bisa menaklukan kejamnya jalanan negeri ini?

Dalam hati kecil ada teriakan. “Aku bisa..!!!!

Saat ketakutan sudah terlalu memuncak, keberanian itu datang. Akhir Januari awal 2014 itu aku berangkat untuk menulis takdirku.

Berteman vespa tercinta yang kuberi nama “Rosoneri”. Dari perkarangan Sumatera, aku menyusuri pulau Andalas, tak banyak cerita yang kupetik di pulau sendiri, hanya ada beberapa kejadian yang masih teringat jelas diingatan. Salah satunya, saat kehujanan beberapa kilometer sebelum masuk kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara.

Saat itu saya memutuskan untuk istirahat dan berteduh di sebuah warung yang sudah tutup, tak berselang lama datang beberapa pemuda membawa senjata tajam, dengan aroma alkohol yang begitu pekat keluar dari mulut mereka.

Mereka bermaksud meminta uang kepadaku, dengan kaki yang mulai gemetar. “Saya tidak punya apa-apa bang,” jawabku.

Lantas mereka menodongkan senjata tersebut ke arahku, sekali lagi mereka meminta saya menyerahkan uang. “Satu-satunya harta yang saya miliki, hanyalah vespa ini bang,” ujarku memberitahu.

Saat mereka melihat vespaku, cukup lama mereka tak bersuara, saat mereka kembali berbalik ke arahku, salah satu dari mereka, menyenter sekujur tubuhku.

“Coba lihat dia, rambut seperti sumbu kompor,” kata salah satu dari mereka.

“Jaket penuh tambalan, dan berlumur oli di mana mana, sandal pun kiri dua duanya,” Lalu seirama mereka semua tertawa keras kearahku, dan berteriak.

“Kita salah orang, dia hanya orang gila,” lalu mereka pergi begitu saja dengan tawa yang belum usai.

Dan meninggalkan saya dengan bibir yang masih pucat.

Hari bergenti Bulan.. Akupun bergeser ke pulau selanjutnya, pulau Jawa, sayangnya, tak banyak cerita di pulau ini.

Hanya beberapa bulan saja, terus menerus “kucing-kucingan” dengan oknum aparat yang tak pernah mau mengerti tujuan dari perjalanan ini.

Saya memutuskan menyebrang ke pulau selanjutnya, Kalimantan, menjadi salah satu tujuan utamaku, atas dasar ketertarikan saya dengan alam, suku, adat budaya dan bahasa di pulau yang sering disebut paru paru dunia tersebut.

Perjalanan saya di tanah Borneo bisa disebut yang tersulit, karena saya hampir dua tahun berjibaku, untuk bisa menikmati setiap jengkal keindahan di dalamnya, suka duka, darah dan air mata menghiasi perjalanan saya disana.

Tawa bahagia kala mendapati begitu ramahnya atmosphere persudaraan di sana, teman teman scooterist yang antusias untuk kedatangan saya, serta ramah tamah penduduknya.

Namun ada beberapa kisah pilu yang terukir, salah satunya, saat vespa saya hilang kendali di jalan turunan terjal, dan terjun bebas beberapa meter dari jalanan, vespa hancur, badanpun hancur, tapi tidak dengan harapan.

Karena saya percaya kehidupan takkan bisa menjatuhkan, ia hanya memberi pertanyaan. “Apakah kau akan menyerah atau bangkit kembali?”.

Bahkan perjalanan saya sempat terancam gagal saat vespa saya ditahan oleh seorang oknum kepolisian, dengan alasan yang tak cukup jelas. Surat menyurat lengkap, dokumen perjalanan lengkap. Safety riding lengkap.

Untung semua bisa diatasi. Namun dari semua rintangan tersebut , semuanya seakan terbayarkan dengan keindahan yang saya dapati di sepanjang perjalanan di pulau ini.

Pulau selanjutnya Sulawesi, tidak jauh berbeda dengan Kalimantan, Sulawesi menyimpan berjuta tantangan di sela sela keindahannya. Semakin dekat ketujuan saya, saya semakin bersemangat menjalani hari demi hari di jalanan di antara sejuta kejenuhan yang selalu membuntuti jejak kaki ini.

Di setiap perjalanan pasti kita temui hambatan terberat, titik jenuh. Ya di titik ini setiap pejalan akan merasakan rasa seakan tidak tahu arah, jenuh, lelah, bosan bahkan putus asa, dan di pulau ini saya rasakan titik itu. Makassar menyajikan sebuh histeria, namun di kota para “Daeng” tersebut saya merasakan hal yang selama ini saya hindari.

Saya merasa rapuh, takut, dan hanya satu hal di benak ini. Pulang, hanya rasa ingin pulang yang saya rasa kala itu, ketika hari raya kembali menyapa untuk kesekian kalinya di jalanan. Tanpa kehangatan keluarga yang begitu saya rindukan. Namun, kutetap berdiri di atas kakiku sendiri. Teringat akan cacian beberapa orang di masa itu, dengan terbata bata, roda ini terus berjalan pelan mendekati mimpi yang begitu mustahil mereka ucap ke arahku, dan aku akan buktikan itu.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya bisa sampai di tujuan utama dalam perjalanan ini, surga kecil yang jatuh ke bumi, ya, tanah Papua.

Dengan rasa bangga bercampur haru, akhirnya perjuangan selama 3 tahun ini tak sia-sia. Merauke , salah satu kota yang saya idamkan selama ini, dengan rasa setengah tidak percaya. Saat itu saya berdiri tegak di depan gerbang perbatasan Sota, cukup lama tanpa suara, saya hanya bisa mengingat betapa kerasnya perjuangan untuk bisa sampai kesini.

Kuhirup dalam-dalam udaranya, kukepalkan kedua tanganku sambil, kuangkat keudara, dengan lantangnya kuberteriak selepas mungkin.

“AKU BISA…!!!”

Semua rasa bercampur kala itu. Aku ingin meledak rasanya, dan kini mimpi itu telah tercapai. Hingga saat ini kumasih di jalanan, untuk merasakan betapa indahnya jalan pulang, karena apa guna nya pengalaman jika tak bisa untuk diceritakan, kini kumenatap harapan kedepan, aku akan masih berjuang untuk mimpi besarku selanjutnya, aku tau ini takkan mudah, tapi sesulit apapun rintangan untuk sebuah mimpi dengan niat dan kerja keras aku akan mewujudkannya, karena aku adalah para pejuang mimpi.

Terima kasih scooterist seindonesia.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up