Ranah
Featured Video Play Icon

Mengenang Kejayaan TNI AU Sebagai Kekuatan Udara Terbesar Di Belahan Bumi Selatan

Awal dekade 1960-an puncak Perang dingin. Banyak peristiwa yang menyertainya. Mulai dari tertembaknya pesawat mata-mata U-2 Amerika oleh Uni Sovyet, pembangunan Tembok Berlin hingga krisis misil di Kuba.

Pertarungan pengaruh antara Amerika dan Uni Sovyet benar-benar dimanfaatkan oleh Bung Karno. Dalam  upaya merebut Irian Barat dari tangan Belanda, modernisasi alutsista jadi syarat mutlak. Dominasi kekuatan udara perlu dibangun.

Setelah upaya mendapatkan alutsista dari Amerika gagal, Indonesia berpaling ke Uni Sovyet. Negeri Beruang Merah itu menyambut dengan tangan terbuka. Uni Sovyet tidak tanggung-tanggung “menyerahkan” deretan pesawat mutakhir yang mereka produksi.

Dari deretan Helikopter Mi-1, Mi-6 dan SM-1.    Pesawat tempur Mikoyan : MiG 15, 17, 19 dan paling mutakhir MiG 21. Pesawat pembom Tupolev :  TU-2 dan pesawat pembom strategis yang mampu terbang Jakarta-Sydney-Jakarta TU-16. Untuk pesawat angkut TNI AU diperkuat oleh  Ilyushin : IL-14 Avia dan IL-28.

Selain barang-barang Sovyet, TNI AU juga diperkuat oleh pesawat-pesawat buatan Amerika. Pesawat angkut Hercules C-130 yang konon merupakan kompensasi dari pembebasan pilot CIA Allen Pope. Pesawat pembom B-25 Mitchell dan pesawat tempur P-51 Mustang peninggalan Perang Dunia Kedua.

Total pada saat itu, wilayah udara Indonesia diamankan oleh sekitar 300 armada tempur TNI AU. Sebagian besar pesawat-pesawat mutakhir yang belum dimiliki banyak negara lain. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai kekuatan udara terbesar di belahan bumi Selatan.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up