Ranah

Mencari Tunggangan Dewa ke Long Tuyoq

“Nanti kita akan melewati beberapa riam,” Ucap Bulan, salah seorang calon penumpang speedboat. Kami sedang menunggu speedbpoat reguler yang sedang mencari penumpang di beberapa kampung terdekat Long Bagun.

Pagi itu, saya kurang mendapat informasi bahwa ada angkutan umum sungai dari Ujoh Bilang ke Long Bagun, jarak darat antara daerah tersebut lebih kurang 5 Km. Pagi setelah sarapan 1 buah pisang, saya pamit kepada Pak Antonius yang menjadi orang tua angkat saya di Ujoh Bilang.

Kemudian saya berjalan kaki ke arah Long Bagun, jalanan yang naik turun bukit, cukup membuat saya mandi keringat. Udara pagi yang sejuk serta pemandangan perbukitan yang masih hijau serta melihat liukan sungai Mahakam dari ketinggian.

Biarpun saya bisa membayar ongkos ojek, tapi saya lebih memilih berjalan kaki. Mungkin jiwa miskin masih belum terobati, bahkan selama jalan kaki dari Ujoh Bilang ke Long Bagun saya tak menemukan penduduk yang berjalan kaki.

Penduduk lebih memilih menggunakan sepeda motor, modernisasi telah menyentuh ke daerah-daerah pelosok.

Saya hanya membutuhkan waktu 1 jam 47 menit sampai di dermaga Long Bagun dengan baju yang sudah basah karena keringat. Saya melapor ke pos Dishub untuk keberangkatan ke Long Tuyoq, salah satu desa yang berada di kecamatan Long Pahangai.

Di Kabupaten Mahakam Ulu transportasi sungai adalah yang paling utama, bagi yang warga yang memiliki KTP Mahakam Ulu mendapat ongkos subsidi yang mereka bayar 10% dari harga normal. Ongkos naik speedboat memang mahal bagi saya, akan tetapi melihat situasi daerah yang hanya bisa dijangkau oleh transportasi air saya jadi mengerti.

Tebing-tebing batu di kanan kirinya dipenuhi oleh tetumbuhan, di beberapa titik ada air terjun nan cantik-cantik. Seandainya speedboat bisa berhenti sebentar mungkin saya mengabadikan momen selfie ala traveller zaman now.

Sayangnya speedboat tidak bisa berhenti karena melawan arus yang lumayan kuat, riam-rian (jeram) menuju Hulu sungai Mahakam sangat terkenal. Tidak sedikit memakan korban jiwa, menurut penumpang yang duduk di samping saya.

Riam Udang, nama salah satu Riam yang akan kami lewati. Biasanya penumpang turun dulu di tempat pemberhentian yang sudah disediakan, lalu berjalan kaki sekitar 500 meter kemudian naik speenboat lagi. Tapi kali ini, sopir memutuskan untuk tidak menurunkan penumpang, kalaupun turun saya tidak akan ikut karena ini salah satu momen perjalanan.

Speedboat meliuk kanan kiri melawan arus riam udang, “Yaaaaaauuuuk” teriakan khas suku Dayak pun keluar dari salah seorang penumpang tatkala sppedboat standing.

Sayapun ikutan teriak yang sama, para penumpang tertawa melihat saya.

Setelah melewati Riam Udang, selang beberapa waktu speedboat pun masuk wilayah Riam Panjang. Teriakan demi teriakan ala Dayak sambung menyambung tatkala melewati riam panjang, sopir speedboat sangat agresif meliuk melawan arus riam.

Setelah melewati Riam panjang, kami disuguhi pemandangan air terjun yang lumayan besar. Saya melewati negeri surga hulu sungai mahakam, seloroh saya dalam hati.

Akhirnya saya sampai di kampung Long Tuyoq, kampung yang dihuni mayoritas Dayak Bahau Long Gelat. 3 jam lebih waktu tempuh dari Long Bagun ke Long Tuyoq, sayapun menuju rumah Petinggi atau kepala kampung. Melapor kepada kepala kampung atau kepala adat adalah keharusan bagi saya dalam perjalanan menyusuri kampung-kampung, menjalin silturahmi dan juga keamanan bagi diri sendiri.

Saya menerima keramahan kepala kampung Long Tuyoq, Yustinus Nyuk, namanya. Saya juga diberikan tebengan menginap di rumahnya, kembali menerima kebaikan di perjalanan.

“Dulu serba susah, bensin bisa sampai 50 ribu harganya perliter di sini,” Ucap Pak Yustinus membuka percakapan setelah makan malam, sembari menghisap rokok filter.

Saya mulai fokus mendengar ceritanya, terkadang perut kenyang membuat otak agak bego sedikit.

Dari sekolah dasar hingga Mengah atas, dihabiskan oleh Pak Yustinus di Samarinda. Masa mudanya dihabiskan merantau ke tanah jawa, setelah berumah tangga memutuskan untuk tinggal dan mengabdi di kampung halamannya.

Pak yustinus menjadi kepala kampung sejak 2008, tantangan demi tantangan dilaluinya sebagai kepala kampung. Dia sadar akan mutu pendidikan di kampungnya harus ditingkatkan, serta kampanye berhenti berladang dengan pola lama atau ladang berpindah.

Butuh proses waktu menyadarkan masyarakat, karena tidak gampang menghentikan sebuah tradisi bercocok tanam yang sudah turun temurun. Sekarang masyarakat sudah tidak berladang pindah lagi, mereka sudah menanam kakao, jagung, umbi-umbian serta padi.

“Dulu kalau air sungai besar, kita bisa menunggu air surut 2 sampai 3 hari di riam udang dan teman sejati hanyalah sabar,” sambung Pak Yustinus dengan pandangan melihat ke atas, saya hanya bisa menyimak ceritanya. Dia juga bersyukur dengan adanya persamaan harga bahan bakar oleh pemerintah, itu sangat membantu masyarakat yang tinggal di kampung-kampung Mahakam Ulu.

“Saya mau lihat masyarakat Manugal, Pak?” tanya saya, Manugal adalah nama dari bercocok tanam padi ladang.

“Besok masyarakat Manugal di ladang Pak Kawit, kamu ikut saja,” Ucap Pak Yustinus memberi tawaran.

Dinginnya air cukup memberi kesegaran bagi tubuh pagi hari, saya bersiap-siap berkumpul di sudut lapangan bola. Beberapa orang masyarakat kampung telah berkumpul dan juga mobil proyek yang membantu mengantar masyarakat ke ladang, jaraknya lebih kurang 3 km dari kampung.

Setelah cukup, kamipun berangkat menuju ladang Pak Kawit. Sudah tradisi Manugal secara gotong royong di masyarakat Dayak Bahau, setelah satu ladang selesai merekapun bergantian Manugal di ladang penduduk yang lain.

Setelah berkenalan dengan yang punya ladang serta masyarakat yang lebih dulu datang, saya dipersilahkan sarapan pagi di dalam pondok. Di atas meja sudah ada nasi yang dibungkus daun pisang, ketan bakar serta lauk daging babi.

“Masih ada lauk yang lainkah? Saya tidak makan babi, saya Muslim,” Tanya saya agak polos.

Mereka sontak tertawa karena dikira keyakinan sama, “ ini nah ada lauk ikan patin dan telurnya!” ucap seorang Ibu yang datang dari dapur dengan piring berisi lauk. Sayapun makan pagi dengan lahapnya, daging ikan patin dan telur-telurnya sungguh sedap sekali.

“Nanti kamu tunggu di sini, kami ada ritual sebelum Manugal. Orang luar serta yang terlambat tidak boleh ikut, nanti kami kembali.” Ucap Pak Iboh adiknya Pak Kawit.

sayapun menunggu di bawah tenda terpal pinggir ladang.

Selivit, nama ritual sebelum Manugal Dayak Bahau Long Gelat. Tujuan dari ritual ini adalah supaya semuanya lancar dari musim tanam hingga musim panen, saya hanya bisa melihat dari kejauhan.

Sekitar 10 menit mereka kembali ke tenda, berkumpul dengan beberapa orang yang telat datang lalu bersama melakukan aktifitas Manugal. Ada kebun kakao yang cukup besar, serta ladang yang baru dibuka dengan cara dibakar yang akan ditanami padi.

“Kami disini tidak sembarang membakar hutan, harus tepat hitungan kalau tidak bisa membahayakan kelangsungan kehidupan hutan,” Ucap salah seorang penduduk, mereka memulai membakar hutan dari dalam dengan arah angin ke jalanan tidak arah hutan. Harus ada yang berjaga menjaga api, dan lahan yang dibakar hanya secukupnya saja.

Mereka membuat dua barisan panjang, baris pertama yang memegang Ugal atau kayu panjang yang ujungnya dibuat runcing yang akan digunakan menusuk tanah, kemudian baris kedua memasukkan benih ke dalam lubang-lubang lalu yang telah ditusuk dengan kayu. Mereka tidak menutup lubang tersebut, “nanti hujan yang akan menutupnya” ucap pak Kawit.

Tidak ada pemupukan di padi ladang, kayu-kayu serta daun-daun bekas pembakaran menjadi pupuk kompos bagi padi yang tumbuh. Mereka hanya menunggu lebih kurang 6 bulan untuk panen dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan Alam, selama ini hasil panen cukup untuk kebutuhan selama 1 tahun tanpa harus membeli beras.

Alam memberi tumpahan kasih sayang kepada penduduk, kalau mereka butuh lauk cukup pergi memancing ke sungai dan berburu babi di hutan.

Tanpa saya sadari waktu sudah menujukkan pukul 11 siang, dengan informasi dari penduduk saya harus melanjutkan perjalanan. Perjalanan saya menyusuri sungai Mahakam dalam rangka mencari “Tunggangan Dewa” dan “Tempat berkumpulnya para Dewa-Dewa”. Sayapun pamit dan kembali berjalan kaki menuju kampung Long Tuyoq.

Ada atau tidaknya yang dicari di dalam perjalanan, saya yakin Tuhan akan terus menggoreskan kisah-kisah yang tidak akan disangka oleh umatnya. Mari berjalan, kawan!

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up