Ranah

Mencari Diri ke Ruang Dalam


Sebagai penikmat kisah-kisah rekaan Dan Brown, novel-novelnya menjadi perkenalan awal saya dengan lukisan. Hingga saya percaya pada simbol-simbol yang sengaja diselipkan dalam sebuah lukisan. Bahkan saya curiga, jangan-jangan dalam sebuah lukisan ada kode rahasia, barangkali juga ada hasil komunikasi dengan mahluk dari dimensi lain. Apatah lagi cuma rahasia langit soal masa depan. Lukisan Monalisa membuktikannya, misteri tiada akhir.

Di Yogyakarta, gudangnya seniman. Tempat mural-mural keren terpajang. Bahkan mural-mural pemberontakan ala darah muda dengan mudah kita temukan di kota yang papan nama jalannya disertai abjad Jawa.

Angin dingin bulan syawal yang membuat kuncup rindu pada kampung mekar, memaksa saya berjalan. Entah kemana, yang jelas sempat berhenti lama di kota Gudeg ini.

Seorang kawan menyarankan. “Singgahi ruang dalam, orang-orang di sana teman ngopi nan asyik,” begitulah kira-kira pesannya jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ruang Dalam, tempat apa pula itu?
Kawan tersebut memberi alamat dan sebuah nama.

Malam ke dua di Jogja. Saya berjalan menuju Ruang Dalam. Menurut peta, tempat itu berada di Tirtonirmolo, Bantul. Arah barat daya dari jalan Malioboro.

Setelah berjalan kaki sekira setengah jam, saya mulai ragu. Jalanan mulai sepi. Di pos kamling, dua orang tengah asyik ngobrol sambil menghisap rokok. Mereka tentu lebih hebat dari Mbah Google soal wilayah ini. Saya bertanya, di manakah Ruang Dalam?

“Iya benar, mas gak salah alamat, tempatnya di balik tembok ini. Masuk aja, biasanya ramai di dalam,” kata seorang dari mereka.

Benar saja, setelah mencari jalan masuk. Ternyata pagarnya tak terkunci. Di balik tembok tadi, ada halaman yang lapang,  akar pohon yang menjuntai, ada cahaya berpendar dari bagian belakang. Seorang lelaki kurus tengah mengecat kanvas besar. Ia menggambar seekor badak.

Saya ucapkan salam, menanyakan nama yang diberikan kawan tadi, dan apakah benar ini Ruang Dalam. Bertamu tengah malam memang janggal. Lelaki tadi tampaknya memanggil tuan rumah.

Seorang perempuan muda muncul setelahnya. “Lewat depan saja, mas,” katanya.

Ia menghidupkan lampu beranda, sehingga tampaklah dengan jelas sebuah tangan besar menggapai jendela. Di samping jendela sebuah papan bertuliskan “In Material”. Perempuan muda itu membuka pintu, dan menghidupkan semua lampu dalam ruangan. Ruangan gelap yang saya lewati tadi ternyata dindingnya dipenuhi lukisan.

Kala anda memasuki RuangDalam Art House, anda langsung di sambut telur mata sapi selebar dua telapak tangan. Penasaran, saya sentuh telur itu. Ternyata hanya keramik.

Meski khatam berkali-kali beberapa novel Dan Brown yang bicara soal  lukisan, saya tetap tidak paham kenapa orang rela membeli lukisan hingga ratusan juta. Padahal gambarnya cuma corat coret saja, lebih  jelas gambar anak TK.

Tapi, di RuangDalam Art House inilah pertama kalinya saya merasa terganggu dengan sebuah lukisan. Perasaan ingin memandanginya berlama-lama. Bahkan saya ingin berdiskusi dengan siapa saja soal lukisan yang langsung terlihat jika anda masuk ke Ruang Dalam lewat pintu depan.

Lukisan itu menggambarkan seorang yang tengah duduk di sofa hitam, ia berkaus kaki, bercelana jeans biru, berbaju motif garis hitam putih.

Sedang kepalanya digambarkan meledak, ada potongan koran di dalam ruang ledakan kepalanya. Ini lukisan yang sangat menggangu mata dan isi kepala.

Salah satu lukisan di Ruang Dalam

Setelah berbasa-basi, dan menyebutkan nama seseorang kepada perempuan muda itu. Ia membiarkan saya menikmati beberapa lukisan lainnya, sedangkan ia asyik mengetik sesuatu di layar telepon genggamnya.

Di tembok lainnya. Sebuah lukisan panjang semakin membuat mata saya menyala. Gambar dalam lukisan panjang itu menampilkan seorang yang memainkan piano dengan cepat, hingga beberapa bayangan dirinya tertinggal di lukisan itu.

Piano itu juga meledak. Ledakannnya koran bergulung gulung, serupa ombak. Banyak headline berita yang terpotong dalam lukisan itu. Gulungan koran yang bersesekan serupa susun ikan sarden itu, membentuk banyak wajah. Ada wajah Jokowi, Ahok, dan Rizieq Shihab.

Ah, kepala saya semakin sakit, hati saya semakin suka. Pelan-pelan saya mulai mengerti, mengapa ada lukisan yang diperebutkan dalam sebuah lelang.

Di lukisan itu tercatat nama pelukisnya, Gusmen Heriadi. Ia banyak memakai warna biru, warna langit dan laut. Lukisan-lukisan yang dipajang juga banyak soal diri. Soal seseorang yang tengah bermeditasi misalnya. Atau seorang lelaki yang bersantai dalam pusaran warna cokelat pekat.

Namun, setiap saya memandang lukisan itu, terlebih dengan jarak yang dekat. Banyak kode-kode tertulis dalamnya. Ada tanggal, ada tulisan stenograf, ada beberapa pertanyaan, sebuah nama, sebuah inisial. Melukis menang bisa jadi sarana menyampaikan rahasia yang paling aman.

Di lukisan dengan judul the pianist itu misalnya. Lukisan dengan tanggal 2013 – 2017 itu memiliki gelombang koran dengan wajah Rizieq dan Jokowi di ujungnya. Tapi, di pangkal pemain piano, gulungan awal koran-koran itu memuat berbagai headline dengan isu seputar politik internasional.

Setelah menikmati beberapa waktu. Seorang lelaki kurus datang menyalami saya. Ia bertanya, “Tadi mau mencari siapa?”

Gusmen Heriadi. Saya cukup beruntung, bisa bertemu langsung dengan pelukis yang baru saja saya nikmati karya-karyanya. Kami menghabiskan malam di RuangDalam Art House.

Bercerita soal banyak hal. Soal lukisan, soal politik, hingga hal-hal mistis dari para pelukis.

Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia jurnalistik. Saya menemukan sesuatu dari lukisan-lukisan Gusmen. Ada ruang kosong yang saya lupa. Berita tak sekedar wacana dan laporan peristiwa saja.

Di beberapa lukisan Gusmen. Ia banyak menggambarkan efek dari media massa. Gambar koran mendominasi, ada yang tak usai dari lukisan Gusmen. Saat teknologi sudah dalam genggaman, ia melukis koran.

Entah sebagai lukisan misteri di ratusan tahun berikutnya, entah hanya jadi sejarah saja. Satu hal yang pasti, bagi jurnalis yang hidup dalam dunia tanpa koma menziarahi lukisan Gusmen merupakan satu dari sekian banyak cara menziarahi diri sendiri.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up