Ranah

Masjid Langgar Tinggi : Buah Cinta Arab dan Cina di Pekojan

Etnis Cina dan Arab sudah berkelindan sejak lama di Jakarta. Ada kisah sedih, perang, cinta dan kebhinekaan, jauh sebelum Indonesia merdeka. Dua etnis yang sering dianggap berseberangan dan bahkan cenderung diidentikkan dengan permusuhan itu ternyata sangat mesra dalam hal agama. Tak saling mengganggu, mereka tak saling menghujat. Malahan mereka saling melindungi, bertarung bersisian melawan penjajah.

Datanglah ke Pekojan. Di sana, bukti kasih sayang, hormat menghormati, kebersamaan dan toleransi antara Cina dan Arab abadi. Saya menyusuri Pekojan. Tepat di samping kali Angke yang hitam pekat, tempat bau tinja, bau sampo, sabun dan bangkai binatang jadi satu.

Sebuah masjid bernama Langgar Tinggi tersamarkan oleh bangunan-bangunan sekitarnya. Jika anda melewati jalan Bandengan​ Selatan, masjid Langgar Tinggi hanyalah sebuah bangunan tua hampir rubuh, dinding batu di lantai satu dan jendela-jendela kayu di lantai duanya sudah teramat kusam.

Ada dua jalur jika hendak berkunjung ke masjid itu. Anda bisa meneruskan dari jalan Bandengan Selatan menuju fly over Pasar Pagi dan berbelok ke arah kiri. Anda akan langsung menemukan masjid Langgar Tinggi di sebelah kiri.

Bangunan tua dengan atap bergaya Tiongkok bergenteng merah akan terlewatkan jika anda tak cermat memperhatikannya, sebab kawasan itu kini dipenuhi truk yang bongkar muat.

Jika hendak menyebrangi kali Angke secara langsung, anda harus melewati jembatan Kambing. Jembatan bersejarah bagi kaum Arab Pekojan. Jembatan yang menghubungkan antara Jalan Bandengan Selatan dengan Pekojan Raya itu tak berubah selama 100 tahun lebih. Jembatan itu memang bau kambing sekali.

Di ujung jembatan jalan Pekojan Raya, anda akan disergap bau tahi kambing. Di kiri dan kanan jembatan itu, puluhan kambing mengembik, mereka dijual. Di depan mata, sebuah gerbang masjid menyambut Anda. Masjid​ Annawier.

Anda bisa memilih, apakah akan berziarah ke Masjid Annawier lebih dahulu, atau belok kanan menuju masjid Langgar Tinggi. Sekitar 100 meter dari jembatan Kambing itu, masjid Langgar Tinggi berada di sebelah kanan.

Masjid Langgar Tinggi, saksi bisu betapa etnis Cina dan Arab bergandengan erat. Masjid yang dibangun  pada tahun 1829 masehi itu, masih berdiri kokoh. Bukan saja atapnya, menurut teman saya yang jadi Wakil Ketua Ikatan Arsitek Indonesia, Ariko Andikabina, masjid Langgar Tinggi itu bukan saja dipengaruhi oleh corak bangunan khas Tiongkok.

“Memang atapnya dipengaruhi oleh Tiongkok, tapi kita tak bisa mengesampingkan hal lainnya, ornamen, dinding, ukiran, dan ciri bangunan lainnya,” kata Ariko

Jika Tiongkok (Cina) berada di atapnya, Arab ada mengisi bata dan pola bangunannya. Dengan susunan khas bata merah, dipoles dengan warna krem di dindingnya.

Bahkan, dekat mihrab Masjid, saya mendapati sebuah plakat penghargaan “Bangunan Berlanggam Tionghoa 2016” dari Kecapi Betara (Kelompok pencinta dan pemerhati bangunan tua Nusantara).

Masjid Langgar tinggi, adalah bukti nyata yang tersisa. Di Jakarta, hanya ada dua masjid besar serupa. Satunya berada di kawasan Sudirman, tenggelam oleh gedung-gedung tinggi dan satunya lagi ada di Pekojan​.

“Kalau musala atau langgar-langgar kecil banyak di Jakarta, tapi kalau yang besar, ya cuma dua itu. Selebihnya hal serupa ada di Palembang,” terang Ariko.

Sementara itu, salah satu seorang keturunan Arab yang berpengaruh di Pekojan, Dikki Basandid. Menguraikan, etnis Arab dan Cina di kawasan Pekojan sudah bersatu dalam kerukunan dan saling menghargai.

Ia menyebut, dari cerita yang ia dapat sejak turun temurun, masjid Langgar Tinggi memang dipengaruhi oleh etnis Cina dalam pembangunannya.

“Dulu, ujung jalan itu merupakan penghubung jalan ke perkampungan Tionghoa, jadi kawasan itu tempat menyelundupnya pejuang dari kami (etnis Arab) dengan dari Cina Glodok, mereka berjuang demi kemerdekaan, bahu membahu,” terang Dikki saat berbincang dengan saya di kampung Pekojan.

Dikki menerangkan, demi menekan perlawanan. Pemerintah kolonial Belanda memang sengaja memisahkan masyarakat komunitas Cina dan Arab. Cina di Glodok, Arab di Pekojan. Tapi, sayangnya kata Dikki, itu sia-sia. Masyarakat Cina dan Arab kala itu secara sembunyi-sembunyi menggalang kekuatan, mereka bersatu padu melawan Belanda, demi kata merdeka.

Huub de Jonge dalam esai Sebuah Minoritas Terbelah, Orang Arab Batavia di buku Jakarta Batavia, Esai Sosio-kultural. Menyebut etnis Arab dan Cina digolongkan sebagai Vreemde Oosterlingen, Timur Asing. Menurut Huub, orang yang masuk dalam kategori ini menyandang status resmi “setara” dengan golongan Pribumi (Inlanders).

Walaupun menurut Huub, dalam beberapa hal mereka tunduk pada peraturan perundang-undangantersendiri dari Belanda. Tujuan pembedaan dalamperaturan perundang-undangan ini adalah untukmelindungi golongan pribumi dari pengaruh berbahaya.

Karena alasan ini kata Huub para imigran Asiadiwajibkan tinggal di kampung tertentu hingga 1919 dan tak diperbolehkan meninggalkan kampung dimaksud tanpa izin hingga 1914.

Sistem pemukiman dan perizinan ini membuat ruang gerak orang asing Asia tak bebas. Karena sebagian besar dari mereka adalah pedagang, pembatasan kemerdekaan bergerak dan tempat tinggal sangat mengganggu volume dan skala bisnis mereka. Dalam tulisan itu Huub menyebut ada indikasi sangat kuat bahwa orang Arab didiskriminasikan lebih ketatketimbang anggota kelompok minoritas lainnya.

Dari Remco Raben dalam esainya berjudul seputar Batavia, menyatakan dua etnis ini. Cina dan Arab, dan bahkan etnis-etnis lainnya. Melawan dan menolak untuk mengkristal sesuai harapan Kompeni. Batas-batas etnis yang diakui secara resmi oleh masing-masing kelompok etnis tak pernah ditegaskan oleh etnis-etnis tersebut. Remco menyebut mereka lebur dengan pribumi dan membuat mereka tak lagi berbeda. Hanya ciri fisik yang tak mampu mereka ubah. Namun, mental dan persaudaraan sebagai korban senasib dijajah. Mereka bersatu dan kuat.

“Jadi, kalau bicara Bhineka, di Pekojan sudah lama itu ada, hingga kini itu tetao terawat dan terjaga, meski belakangan politik kita gak sehat, kami tetap akan saling mengormati dan menghargai,” kata Dikki Basandid, yang juga guru agama di Pekojan ini.

Tak jauh dari Masjid Langgar Tinggi, dalam sebuah gang di kawasan Pekojan, Hio cukup besar berwarna merah terbakar di depan sebuah patung dewa. Saat melintas, bau Hio yang terbakar di udara disambut Azan Zuhur dari pengeras suara yang berasal dari Masjid dan musholla sekitar Pekojan​. Kampung Arab-nya Jakarta.

Pekojan, sebuah kampung Arab yang tak lagi ramai dihuni etnis Arab. Perkampungan yang dulunya tempat mula pendidikan modern di Batavia itu kini hanya gudang-gudang. Truk besar rajin bongkar muat di kawasan bersejarah ini.

Kawasan itu tak lagi hanya dihuni etnis Arab. Pekojan, kampung yang menurut sejarawan berasal dari bahasa Koja, suka kata untuk sebutan bagi pendatang dari Gujarat dan juga dipakai untuk menyebut orang-orang yang berasal dari pesisir Coromandek dan Malabar.

Daerah ini, menurut Deliar Noer dalam bukunya soal Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 – 1942, mencatat Pekojan sebagai asal mula pemberontakan secara intelektual. Puluhan orang di Pekojan menyusun siasat mereka mendirikan perkumpulan Jamiat Kheir, yang kelak jadi cikal bakal Muhammadiyah dan berbagai lembaga pendidikan modern.

Namun, kini. Pekojan hanya satu dari sekian lokasi pemukiman di Jakarta. Pemukiman yang tak lagi membatasi orang sesuai suku, ras, agama, kepercayaan dan pilihan politiknya.

Sesuai dengan pemberontakan kaum Arab di Pekojan, mereka tak mau tunduk pada kekuasaan yang mengotak-ngotakkan masyarakat sesuai dengan ciri fisik, agama, ras dan sukunya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up