Ranah

Masjid Istiqlal Kami Yang Tidak Dibangun Oleh Frederich Silaban

Istiqlal. Nama yang berat untuk sebuah mesjid kecil di kampung yang terletak di kaki Bukit Barisan. Dulu nama ini pun jadi olok-olok teman-teman sebaya dari kampung lain. Membandingkan Istiqlal kami dengan Istiqlal Jakarta tentu bagai langit dan bumi. Itu sebabnya kami senantiasa menahan diri untuk tidak membahas mesjid ini dalam pembicaraan sehari-hari.

Andai saja saat kecil dulu, kami mengetahui sebuah rahasia kecil tentu sikap malu itu akan berubah jadi kebanggaan. Sebabnya mesjid Istiqlal kami ternyata dibangun pada tahun 1958. Berselang tiga tahun sebelum Bung Karno memancangkan tiang pertama dari mesjid nasional yang didesain oleh Arsitek Frederich Silaban.

(Al)Istiqlal artinya kemerdekaan. Nama yang menjadi jiwa dari terbentuknya bangsa ini. Kami tidak tahu apakah semangat serupa yang muncul saat mesjid kami dibangun pada tahun 1958. Apakah untuk kemerdekaan Indonesia atau PRRI?

Tahun 1958, kampung kami adalah salah satu basis tentara PRRI. Para petualang yang enggan berperang itu bersembunyi di balik terjal dan rimbunnya bukit barisan. Saat malam hari mereka turun untuk memastikan kaum perempuan mempersiapkan masakan untuk dikirim ke rimba. Siangnya giliran tentara pusat yang masuk.

Masjid Istiqlal kami dibangun persis di tengah-tengah pergolakan tersebut. Jangankan Frederich Silaban, sekedar arsitek amatir pun mungkin tidak terlibat dalam pembangunannya. Mesjid yang lama dibangun dari kayu bercampur tembok kasar dan tentu saja tanpa menara.

Dulu saat kanak-kanak, mesjid itu adalah pusat peradaban kami terutama sekali di bulan ramadhan. Sepanjang siang sholat lima waktu berjemaah diselingi beragam permainan dari halaman hingga loteng mesjid. Malamnya kami menginap di mesjid. Di awali tadarusan, mengantar anak-anak gadis ke rumah masing-masing, sesekali mencuri buah di kebun dan diakhiri dengan membangunkan orang sahur.

Tentu saja kami tidak sempat mendalami sejarah mesjid ini sebab kami lebih mengkhawatirkan rotan yang disimpan guru mengaji kami Inyiak Naik di lemari dekat mimbar. Rotan itu banyak mengubah hidup kami. Pukulannya menyakitkan di masa silam tetapi membangun kesadaran sepanjang usia.

Saat bangunan lama mesjid Istiqlal tidak lagi layak, kampung kami tidak punya uang untuk membangunnya. Maka muncul pikiran-pikiran mencari dana. Mulai dari mencari bantuan orang rantau, gotong royong hingga menjadikan sungai kecil yang melintasi kampung kami sebagai sungai larangan. Dilarang memancing selama sekian waktu lalu kemudian diadakan pesta menangkap ikan yang ditarik bayaran untuk setiap pesertanya.

Kampung kami bernama Bancah, mesjid kami bernama Istiqlal. Generasi sekarang tidak lagi perlu malu dengan nama itu.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up