Ranah

Kita Tidak Akan Mudah Mengeluh Jika Tahu Perjuangan Supir Truk Cabe

Cabe mahal dan kita pun langsung resah. Menurut Bank Indonesia, cabe menyumbang 16% dari komponen inflasi 2016. Cukup besar untuk “single product” bisa memberikan kontribusi seperti itu.

Beberapa kali cabe mengalahkan beras dan BBM sebagai penyumbang terbesar komponen inflasi. Cabe, dengan segala variannya, memang sudah lama menjadi sendi utama masyarakat Indonesia. Sambal adalah kita dan kita adalah sambal.

Hampir setiap daerah di Indonesia punya kebun cabe dimana beberapa daerah muncul sebagai penyuplai utama cabe. Daerah dimana masyarakatnya menanam cabe dengan hamparan kebun yang luas. Di Pulau Jawa, daerah penghasil cabe adalah Tegal dan Brebes. Sementara di Sumatera adalah Solok dan Agam.

Menariknya, sering daerah ini bergantian mengisi lapak-lapak pedagang cabe di Sumatera dan Jawa. Padahal mereka terpisah jarak 2000 kilometer ini.

Bukan cerita langka, cabe keriting untuk membuat rendang di Padang berasal dari Brebes. Atau cabe untuk warung tegal di Pulau  Jawa berasal dari Sumatera.

Mereka akan memberi ketika ada yang sedang panen berlebih dan menerima ketika ada yang sedang kekurangan panen. Truk, terutama jenis Colt Diesel ukuran sedang dan Fuso menjadi lakon utama pertukaran cabe ini.

Sedikit kita berbagi cerita pengiriman cabe dari Sumatera Barat menuju Jakarta. Biasanya truk cabe Sumbar berasal dari pasar Alahan Panjang, Solok atau Sungaipuar, Agam.

Kendaraan andalan mereka adalah truk Colt Diesel 120- 136 PS dengan muatan 6-8 ton. Beberapa ada yang nekat mengisi sampai 10 ton. Tapi resikonya, kendaraan kehilangan kecepatan dan kemampuan bermanuver.

Cabe adalah produk yang mudah busuk. Pengiriman jarak ribuan kilometer bukanlah pekerjaan gampang. Tantangannya besar. Apalagi kondisi jalanan lintas sumatra yg masih jauh dari kata ideal sebagai sebuah trans-national. Sopir diminta tiba tepat waktu sebelum cabe mulai membusuk. Dalam waktu 48 jam paling lama, cabe harus tiba Jakarta.

Demi tuntutan waktu ini, sopir tak punya waktu santai di jalanan. Truk harus selalu berjalan. Untuk itu, sopir pengantar cabe harus dua orang dalam setiap perjalanan.

Berhenti hanya ketika ada panggilan biologis datang. Sopir akan bergantian antara tidur dan menyetir. Bahkan, mereka terkadang makan nasi di dalam mobil, ketika temannya yang satu sedang menyetir.

Lalu bagaimana cara menghindari razia resmi atau razia pungli. Sopir cabe sudah punya kode sendiri dengan petugas dan preman sepanjang jalanan.

Polisi-polisi lintas sumatra sudah hapal bawaan truk yg lewat. Dari jarak 100 meter, mereka bisa mengetahui truk ini bawa kayu, nangka atau cabe.

Preman sepanjang jalan pun tidak begitu bawel pada sopir cabe. Mereka membiarkan lewat begitu saja tanpa ditanya ini itu. Beberapa sopir masih menaroh ranting kayu di bak truknya, sebagai kode agar tidak diganggu sepanjang jalan.

Jika bukan bawa cabe, sopir truk masih punya waktu untuk santai istirahat di rumah makan atau sekedar bermain kartu dengan sopir lain. Tapi kalau bawaan adalah cabe, untuk ngobrol dengan dengan teman sebelah duduk saja sudah tidak sempat. Mereka akan lebih memilih tidur ketika temannya menyetir untuk mengumpulan tenaga.

Perjuangan berikut adalah pelabuhan Bakauheni. Disini sopir sudah punya andalan tenaga bantuan penyeberangan. Calo ini tergantung daerah asal. Misalnya “Penyeberangan Marbun” untuk sopir asal Batak atau “Penyeberangan Buyung Rizal” untuk truk asal Minang.

Mereka bertugas membantu truk cepat naik ferry. Dan cabe biasanya prioritas utama mereka, disusul pisang dan bawang. Mereka juga membantu posisi truk di dalam lambung kapal Ferry.

Posisi yang diinginkan adalah di dekat pintu keluar, agar truk cepat keluar. Berada lama-lama dalam lambung kapal yang panas dan lembab akan mempercepat pembusukan.

Akhirnya truk meluncur tol Merak-Jakarta. Cabe siap diantarkan ke Pasar Induk Kramat Jati. Tapi perjuangan belum berhenti.

Sopir harus memastikan tempat dimana cabe akan dibongkar termasuk siapa pembelinya. Ini penting,karena beberapa kali terjadi cabe dibongkar tapi pembelinya tak pernah datang memberikan uang.

Hal lain yang harus dipastikan adalah posisi parkir di Pasar Induk untuk menunggu muatan balik. Kapling parkir menunggu muatan ini juga berdasar asal wilayah truk. Truk Padang di sini, truk Jawa di sana. Disanalah untuk beberapa waktu ke depan mereka menunggu muatan balik. Masa tunggu yang kadang bisa berhari-hari.

Cabe yang hari ini kita makan, entah sebagai sambal atau teman kudapan gorengan, berasal dari sebuah perjuangan yang panjang. Mulai dari ketika bibit disemai petani di kebun mereka, sampai ke perjuangan sopir truk di kerasnya jalanan negeri ini. (UBE)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up