Ranah

Jangan Panggil Om Sama Supir Bus Panggil Mereka Don Juan

Dulu saya menganggapnya misteri. Tapi sekarang mulai memahami satu per satu alasannya, kenapa sopir bus muncul sebagai sosok yang digilai perempuan. Julukan sebagai seorang yang SETIA (Setiap Tikungan Ada) mungkin terlihat benar. Bukan cerita yang jarang kita dengar, jika seorang sopir bus yang lulusan SD saja bisa memacari atau menikahi sarjana.

Paman teman saya, seorang sopir bus di bilangan Bukittinggi, menjadikan seorang guru SMA bergelar doktoranda sebagai isteri keduanya. Juga cerita yang lumrah kita dengar sopir bus Budiman berpacaran dengan mahasiswi kampus terkenal di Kota Bandung. Banyak yang penasaran ilmu pengasih apa yang mereka punya atau sekuat apa sepik-sepik iblis sang sopir sehingga mereka menjadi penakluk wanita yang hebat.

Sopir, apalagi bus antar kota antar provinsi, muncul menjadi sosok yang otoritatif. Apalagi selepas posisi cincu tak lagi ada. Mereka menjadi pemimpin perjalanan. Kendalinya atas awak bus dan tentu saja penumpang, mereka pegang penuh. Jaman dulu, hampir semua sopir muncul sebagai sosok yang jaim demi menjaga wibawa. Pecicilan tak ada dalam kamus sopir bus. Sifat ini mungkin hanya bisa kita temui di sopir angkot.

Dalam alam bawah sadar sopir, ketika sudah di kursi kebesarannya mereka langsung merasa hebat, dibutuhkan dan dihormati. Ketika perasaan itu, tak ada lagi rasa yang muncul selain rasa percaya diri. Ketika percaya diri muncul, memenangkan hati perempuan gebetan menjadi dimudahkan. Seperti kata Marcus Garvey, aktivis pejuang kulit hitam Inggris/Jamaica, “with confidence, you have won before you have started”

Di masa lalu nun di sana di lintas sumatera, ketika klakson mobil masih bisa memainkan nada-nada rumit. Sebagian besar sopir mati-matian untuk mempelajarinya. Awalnya mungkin hanya untuk membunuh rasa sepi ketika mengemudi. Namun lambat laun keahlian ini juga memberi manfaat lain, yakni sebagai alat mengekspresikan perasaan.

Sopir dengan mudahnya mengekspresikan perasaannya lewat instrumen musik, lalu dilanjutkan pada lirikan maut pada penumpang yang diincar. Mungkin sang sopir tak tahu Victor Hugo, tapi tahu betul dan merasakan ucapan Hugo yang terkenal “Music expresses that which cannot be put into words and that which cannot remain silent”.

Mobilitas yang aktif, apalagi dengan jarak yang jauh membuat sopir punya kesempatan melihat banyak tempat. Berinteraksi dengan banyak orang, dan tentu saja memahami banyak budaya. Pengalaman ini tentu saja memberikan pengetahuan yang cukup untuknya, ketika orang bertanya tentang sebuah tempat dan orang-orangnya.

Sebuah kemewahan yang tak banyak dimiliki laki-laki negeri ini, karena ia mengalami dan melihat sendiri semua itu. Tanpa perlu mengucapkan seeing is believing, sopir sudah bisa memberikan kesan hebat ke lawan bicaranya ketika bercerita. Dan perempuan lawan bicaranya, tanpa sadar sudah larut dalam cerita sederhana itu. Lalu terpikat….

Jaman dulu ketika bus belum memiliki power steering, sopir butuh otot lengan yang kuat untuk memutar setir untuk berbelok. Belum ketika mengganti ban atau memperbaiki mesin dilakukan sendiri. Sopir layaknya menjadi seorang yang rajin fitness.

Sopir juga memiliki gizi yang cukup, selama perjalanan karena selalu makan enak di rumah-rumah makan yang disinggahi. Kombinasi ini membuat sopir menjadi sosok yang enak untuk dilihat. Banyak yang ingin bersandar ke bahu bidang sopir karena sering terlatih memutar setir.

Fisik memang bukan segalanya. Tapi perempuan mana yang tak meleleh ketika bertemu seorang gagah yang punya percaya diri tinggi, teman bercerita yang hebat dan jiwa seni yang tinggi? Semua ini sudah cukup menjadi jawaban ketika kita melihat hampir semua sopir bus memiliki pasangan perempuan cantik. (UBE)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up