Ranah

Jangan Heran Sadap Menyadap Sudah Jadi Rutinitas Harian Orang Sijunjung

Orang kampung kami di Sijunjung menyebutnya “manakiak”, dalam KBBI menjadi menakik. Artinya torehan pada kulit pohon untuk mendapatkan getah.

Secara umum masyarakat negara ini menyebutnya menyadap. Bagi orang Banjar disebut manurih, dalam bahasa Indonesia menjadi menoreh.

Pekerjaannya sama. Mengeluarkan getah dari jaringan di bawah kulit pohon karet. Pekerjaan ini sudah dilakukan masyarakat negeri ini setelah masuknya gelombang investasi asing di bidang perkebunan di akhir abada 19.

Perkebunan karet muncul dimana-mana. Sumatera Utara dan Jawa Barat adalah daerah yang memiliki kebun karet terluas di masa itu.

Beberapa komplek perumahan yang kita kenal hari ini dibangun dari lahan yang dulunya adalah kebun karet.

Perumahan mewah Pondok Indah dulunya adalah kebun karet. Kakek saya masih menemukan Pondok Indah ketika masih berbentuk kebun karet.

Perumahan luas BSD dibangun di salah satu kebun karet terbaik negeri ini. Hari ini “land bank” mereka masih berisi kebun karet.

Saya pernah mutar-mutar tak jelas ke arah Rumpin, Bogor. Dan menemukan kebun karet tua bertuliskan tanah ini milik PT Bumi Serpong Damai. Dan saya senang bukan kepalang melihat hamparan kebun karet ini: feels like home.

Kampung halaman saya, Sijunjung adalah daerah karet. Hampir semua penduduknya menggantungkan hidupnya dari kebun karet. Di Sijunjung karet diusahakan oleh keluarga-keluarga. Bukan milik perusahaan perkebunan besar.

Ini berkah dari program perkebunan karet rakyat di awal pemerintahan orde baru. Dengan luas 1-2 Hektar, keluarga petani karet di kampung saya menggantungkan nasib mereka.

Urusan menyadap adalah keseharian orang sijunjung. Dari kecil mereka sudah terbiasa dan belajar melakukan ini.

Anak-anak kecil bahkan memulai belajar menyadap dari halaman rumah mereka. Pohon buah-buahan menjadi tempat mereka belajar, sebelum resmi menjadi penyadap di kebun sebenarnya.

Untuk menyadap tentu butuh alat, dan tentu saja alat khusus. Berbentuk pisau yang dimodifikasi ujungnya agar bisa memberi torehan pada kulit kayu.

Orang kampung saya menyebutnya “pisau takik”. Agar tersamar, banyak yang memberikan kode untuk alat ini. Kode yang dipakai biasanya “pena”.

Aktifitas menyadap biasanya dilakukan pagi hari. Selepas shalat subuh, mereka akan segera ke kebun karet. Biasanya jam 10 pagi, pekerjaan ini selesai. Dilanjutkan dengan nongkrong di lapau. Pekerjaan ini juga diberikan nama lain sebagai kode.

Jika pena untuk alat sadap, “ngantor” adalah kode untuk aktivitas penyadapan. Bagi yang muda-muda kadang menyebutnya “kuliah”. Hujan, baik semalam atau paginya, adalah kondisi yang akan membatalkan penyadapan. Ketika kulit pohon karet basah, getah tak akan keluar.

Jadi tak usah heran, pagi-pagi di warung kopi seantero Sijunjung kita biasa menemukan laki-laki berpakaian kucel khas petani sedang bercerita dengan bahasa penuh kode.

Misalnya, “tadi telat ngantor, nyari pena kelamaan”. Atau bahasa lain, “mau kuliah, eh hujan. Padahal udah siap-siap berangkat”.

Dengan menyadap, orang Sijunjung bisa hidup makmur. Pekerjaan 4 jam sehari ini bisa menghasilkan setidaknya 500 ribu sampai 1 juta seminggu.

Selepas menyadap pagi pun, mereka masih bisa berusaha lain. Tapi tak sedikit juga yang hanya nongkrong-nongkrong belaka. Berkedok mancing.

Menyadap adalah aktifitas lokal dengan pengaruh global yang besar. Krisis di Eropa akan langsung berpengaruh ke nasib saudara saya di Sijunjung.

Pergerakan harga minyak bumi akan berpengaruh langsung ke merek jeans yang akan dibeli sepupu-sepupu muda saya di kampung. Sebagai produk ekspor dan produk subsitusi minyak, harga karet terkait dengan kondisi global.

Buat kami orang-orang Sijunjung, sadap-menyadap bukan barang baru. Kehidupan di sana dimulai dari penyadapan. Jika kehidupan adalah sebuah drama besar, penyadapan adalah adegan kuncinya. (UBE)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up