Ranah

Jalur Alternatif ke Yogyakarta

Setelah pemanasan dengan mendaki gunung Guntur di Garut, saya melanjutkan perjalanan ke timur pulau Jawa. Awalnya, kami berdua mendaki gunung Guntur, usai turun gunung pada 28 Juni 2017 sore. Kami berpisah. Jadilah saya seorang diri menyusuri jalur selatan Jawa menuju arah timur.

Perjalanan iseng saja. Tanpa peta, tanpa bekal, tanpa uang, tanpa kendaraan, hanya ransel besar di punggung. Handphone yang saya miliki mati total. Setelah powerbank dicuri orang saat perjalanan, Jakarta – Garut.

Setelah berpisah dengan kawan di terminal Garut, saya menumpang mobil truk menuju arah Cibanjaran, Tasikmalaya. Asep, si pengemudi bermurah hati memberi tumpangan. Pria 40 tahunan ini baru saja mengantarkan pasir ke kawasan Kota Garut. Awalnya ia bercerita soal jalur yang macet, selebihnya soal perempuan saja.

Bujangan ini, menyopiri mobil dengan kecepatan tinggi. Walau di jalur kanannya dipadati mobil para pemudik yang ingin balik ke Kota. Di Cibanjaran, ia menurunkan saya. Asep menawarkan singgah di rumahnya, untuk makan malam.

Usai makan, saya berpamitan. Melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju arah Ciamis. Di kawasan Tasikmalaya, saya berkali-kali ditipu oleh tukang ojek dan warga sekitar, mereka menunjukkan arah yang salah. Bahkan saya harus balik setelah berjalan 5 kilometer karena menuju arah yang salah. Karena sudah terlalu larut, saya istirahat di pos polisi yang kosong.

Paginya, 29 Juni, berkali-kali saya mencoba menumpang berbagai kendaraan yang lewat. Mereka berlalu begitu saja.  Namanya juga perjalanan iseng.

Jalur Tasikmalaya – Ciamis cukup ramai. Selepas magrib, menjelang jalur protokol Ciamis. Saya mendapatkan tumpangan, setelah mengacungkan jari telunjuk ke puluhan mobil pickup dan truk.

Mobil pickup pembawa sayur mayur, berhenti belasan meter dari tempat saya berdiri. Sopir tampaknya rem mendadak dalam kecepatan tinggi.

Ibeng, sopir mobil itu menuju Banjaran. Ia membawa sayur dari Garut. Ah, kalau saja Ibeng bertemu saya kemarin sore, tentu tak perlu berjalan kaki sejauh 25 kilometer dari Cibanjaran ke Ciamis ini.

Di dalam mobil, saya sempat berpikir akan menghentikan perjalanan iseng ini. Menelepon seseorang, dan pulang dengan transportasi normal. Tapi, saat bercerita dengan Ibeng, saya semakin tertarik untuk melanjutkan perjalanan iseng tak ada tujuan ini.

Ibeng bilang “Ya gitu A’ kayak nyopir ini, kalau ketemu jalur baru dan belum pernah kita lewatin, rasanya asyik, kan gak tau bakal ketemu tikungan atau tanjakan kayak apa,” kata Ibeng dengan dialek Sunda.

Ibeng menurunkan saya di depan pos polantas Jembatan Baru, Kota Banjar. Saya mampir untuk minum kopi dan makan mi rebus. Bercengkrama dengan dua petugas polisi yang wajahnya sudah lelah, kantung mata mereka menghitam.

“Saya udah 24 jam lebih belum istirahat A’, untung berdua, bisa gantian, nyuri-nyuri waktu buat tidur,” ujar seorang lantas berinisial DN.

Pada DN saya bertanya soal jalur menuju timur pulau Jawa. Ia menyarankan untuk beristirahat di pos saja, dan baru melanjutkan perjalanan esok paginya. Menurut DN, jalur menuju di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah kebanyakan hanya hutan belantara dan jalur sunyi hingga perkampungan terdekat.

“Gak kayak jalur Sumatera, jalurnya itu, ada kampung trus hutan… Trus kampung lagi, trus hutan lagi,” kata DN.

Usai membersihkan diri di toilet pos polisi. Saya putuskan untuk lanjut berjalan kaki. Jalur dari pos polantas itu memang sepi, walau banyak bangunan di kiri kanannya. Saya mencoba menghentikan beberapa kendaraan, seperti biasa, mereka lewat begitu saja.

Seorang pengendara motor, Ilham namanya menghampiri. Ia menawarkan tumpangan hingga SPBU terdekat. “Jangan nyetop mobil di sini A’, ini daerah rawan kejahatan, nanti mas dikira modus begal, Aa’ coba numpangnya dari sini saja,” kata Ilham sesampai di SPBU.

Di SPBU Banjar. Tak ada tumpangan. Pukul 7 malam, saya berjalan kaki. Benar kata DN. Ini jalur sepi. Ada perkampungan memang. Tapi, setelahnya adalah hutan karet

Kendaraan yang lewat juga memacu lajunya. Mereka tak melambat sedikitpun. Jelang pukul 12 malam, saya sampai di kantor Polsek Majenang. Di depan kantor itu, lebih terang cahayanya.

Saya kembali mencoba menumpang. Mobil grandmax hitam berhenti. Poniman, nama sopirnya. Ia mengira saya adalah penumpang yang ingin mencarter mobil sewaannya.

“Saya gak punya uang,” jawabku saat Poniman menyebut total ongkos dari Majenang ke Kutoarjo.

Ia malah turun. Saya menyangka ia marah karena memberhentikan travel, tapi tak jadi menyewa. Poniman malah membukakan pintu.

“Naik Mas,” kata Poniman.

Kami saling diam. Setelah sebuah tikungan tajam, dan mobil yang saya tumpangi ini hampir bertabrakan dengan Pajero Sport yang mengambil jalur kanan terlalu lebar. Poniman mulai bercerita.

Poniman baru pulang mengantarkan penumpang ke Bandung. Ia terjebak macet 10 jam lamanya. Ia hendak ke Kutoarjo, dan mulai mengantuk.

“Kalau berdua kan ada teman ngobrol,” katanya dalam dialek Jawa.

Mantan sopir taksi di Jakarta ini baru saja meninggalkan kota. Ia benar-benar mudik ke Kutoarjo setelah di Jakarta “Ndak ada manusia lagi di sana Mas,” katanya.

Poniman berpendapat, sejak pemerintahan Megawati, uang adalah Tuhan. Tolong menolong dan kebaikan pada sesama benar-benar hilang di Jakarta.

“Memang Jakarta kota keras, tapi sampai Gus Dur, masih banyak orang baik. Abis Gus Dur, aku ne tetap berpikiran, masih ada orang baik, tapi nyatanya lain ta,” kata Poniman.

“Segalanya diukur sama uang, dulu di Jakarta walau duit dikit tapi berkah, sekarang makin gede duitnya, makin gak ada harga,” ceritanya.

Memasuki jalur Gombong, Poniman mulai terkantuk dan berhenti bercerita. Di jalur kanan, kemacetan mengular panjang. Sebuah mobil Avanza keluar dari antrean. Mobil kami yang berkecepatan 80 Km, hampir bersenggolan dengan mobil pemudik itu karena Poniman sangat mengantuk dan mobil Avanza itu tak sabar mengantre.

Setelah menepi dan menenangkan diri. Saya mengecek alat pemutar musik di mobil Poniman. Ternyata tak berfungsi. Kami melanjutkan perjalanan, dengan suara serak-serak banjir. Saya paksakan bernyanyi.

“Nah ini.. aku ndak ngantuk lagi,” kata Poniman.

Saya minta diturunkan di Kota Kebumen. Ada kawan di sana yang harus disinggahi. Setelah mengucapkan terimakasih kasih. Saya berpisah dengan Poniman. Semoga ia tak mengantuk dan mengalami kecelakaan.

Di Kota Kebumen, tak ada tanda-tanda kehidupan. Saya menuju pasar sayur. Sebab, menurut tiga pemuda yang tengah mabuk di persimpangan jalan, hanya di sana ada keramaian.

Singkat cerita, saya bertemu kawan di dekat pasar sayur Kebumen, setelah embun meninggalkan daun. Kami bercengkrama hingga pukul 3 sore.

Ia pamit, saya kembali berjalan kaki hingga Kutoarjo. Niat hati hendak bertamu ke rumah kawan lainnya. Apa daya, ia sudah balik ke Jakarta. Di Kutoarjo, saya mengisi baterai, ke ATM, karena lapar sudah terasa di tenggorokan.

Dari Kutoarjo, saya menumpang truk. Bak truknya kosong. Saya tak sempat berkenalan dengan sopir dan seorang penumpang di sebelahnya. Mereka hanya mengatakan, truknya sampai Yogyakarta.

Di dalam bak truk saya tertidur. Entah berapa lama. Matahari pagi di kawasan terminal Condongcatur, Yogyakarta membangunkan saya. Truk sudah berhenti, sopirnya tak ada. Semoga sopir truk ini dapat pahala.

Saya menghampiri masjid di kawasan Condong Catur. Mandi, mengisi baterai handphone, lalu berjalan kaki menyisir Kota Yogyakarta untuk mencari angkringan dan menuliskan cerita ini.

4 hari 3 malam yang mengasyikkan. Entah perjalanan iseng ini akan diteruskan atau memilih pulang. Hanya mas angkringan ini yang menjual tahu.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up