Ranah

Jalan Panjang Pertunjukan Seni Sumatera Barat

Perdebatan antara idealisme dan permintaan pasar dalam panggung seni pertunjukan ternyata tidak hanya ada di kedai-kedai kopi dan forum-forum terbatas di Taman Budaya yang kebetulan saya hadiri. Namun Ternyata hal ini juga menjadi bahasan yang paling seru di sebuah forum yang digagas oleh Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia).

Kebetulan saya mendapat undangan untuk menghadiri acara sosialisasi fasilitas pembentukan Badan Hukum untuk Penggiat Ekonomi Kreatif Sumatera Barat yang digagas oleh Kabupaten Agam bersama Bekraf. Pesertanya adalah sebagian besar penggiat ekonomi kreatif dan pelaku seni pertunjukan di Sumatera Barat.

Pada sesi diskusi ringan itu, masalah perdebatan antara mempertahankan idealisme atau mengikut selera pasar bagi penggiat seni pertunjukan kembali mengemuka. dan ini cukup menggugah selera berfikir siapapun yang perduli dengan kesenian Sumatera Barat.

Ya, meskipun dalam sesi tadi malam saya hanya mendengarkan, sembari menghabiskan kopi dan cemilan saja. Tapi ada baiknya saya tuliskan di sini tentang opini saya pribadi, solusi yang mungkin dapat digunakan oleh pemerintah (bekraf) dan seniman pertunjukan untuk memajukan geliat seni pertunjukan kita.

Ada dua cara berfikir para seniman atau penggiat seni pertunjukan di Sumatera Barat yang sering menimbulkan perdebatan sengit.

Pertama. Ada seniman yang memiliki idealisme yang tinggi dalam berkesenian. Mereka tetap mempertahankan kaidah seni pertunjukan yang sesuai dengan marwah estetika dan konsep. Namun, mereka justru mengesampingkan audiens (pasar), yang merupakan faktor penting dalam sebuah seni pertunjukan.

Dengan ini, penonton awam (umum) yang memiliki pasar dominan menjadi kesulitan dalam memahami dan menikmati sebuah seni pertunjukan yang ditampilkan oleh seniman tadi.

Kedua, ada pula seniman yang meminggirkan idealisme dengan segala marwah estetika dan konsepnya, demi mendapatkan atensi dan potensi pasar. Mereka membuat sebuah seni pertunjukan yang sedikit ringan dan gampang dinikmati, asal dapat merangkul penonton yang banyak.

Kadua cara berfikir di atas tentu tidak salah. Keduanya kembali berpulang pada si kreator tadi. Dan tentu ada konsekuensi dari masing-masing cara berfikir yang mereka pilih.

Membuat sebuah pertunjukan seni yang idealis, dan memberi kepuasan pada si kreator. tentu konsekuensi nya mereka tidak dapat menjamin akan mendapat atensi penonton umum yang banyak.

Kemudian Membuat sebuah pertunjukan seni yang mengikuti selera pasar. Meski mendapat atensi dari penonton umum yang banyak, namun konsekuensinya, itu tidak akan memuaskan hasrat sebagai seniman. Karna proses kreatifnya tentu selalu bergantung dengan selera pasar. Dan banyak seniman tidak menyukainya.

Nah, perdebatan-perdebatan seperti inilah yang selalu hadir dan tidak akan pernah habis untuk dibahas. Bahkan, dalam diskusi ringan tadi malampun, menurut saya belum dapat dikatakan selesai.

Memang, ketika kita mencoba memasukkan seni pertunjukan kedalam orientasi bisnis, itu tidak mudah. Tapi, tidak mudah bukan berarti tidak bisa.

Banyak seniman pertunjukan di luar negeri yang masih mempertahankan idealismenya dalam berkesenian, dan sama sekali tidak mengikuti pasar, namun mereka bisa sukses. Ribuan dolar dan bahkan lebih, dapat mereka raup dari panggung seni pertunjukan yang mereka buat.

Namun, kenapa kita tidak mampu seperti mereka?! Atau kah dari segi ide dan kreatifitas, kita tertinggal?

Tidak!

Hal yang tidak dilakukan seniman seni pertunjukan di sini tapi dilakukan oleh seniman di luar negeri adalah, mencari dan menemukan penonton yang tepat untuk karyanya.

Pertunjukan seni kita, cenderung lebih mementingkan sisi artistik sebuah pertunjukan daripada memperhatikan manajemen produksi. Manajemen produksi bagi kita hanyalah kerja remeh yang sebatas mengurus birokrasi venue, ijin, mencari sponsor, dan mendatangkan penonton sebanyak-banyaknya.

Padahal, ada kerja utama dari manajemen produksi seni pertunjukan yang tertinggal dan bahkan hampir tidak pernah dilakukan selama ini. Yakni, bekerja untuk Menemukan penonton yang tepat.

Contoh sederhana, kerap kali publikasi seni pertunjukan dilakukan dengan teknik umpan serak. Sounding di segala sosial media, menaruh media promosi di tempat-tempat umum, promosi di radio-radio, seolah-olah semua orang punya selera menonton seni pertunjukan yang sedang kita kerjakan.

Teknik umpan serak ini selain menghabiskan biaya publikasi yang banyak, juga membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.

Nah, selama ini kita tidak pernah berusaha untuk mencari dan menemukan penonton yang tepat. Penonton yang punya latar belakang selera yang sama dengan karya yang kita punya. Ini yang membuat seni pertunjukan di sini menjadi sepi peminat.

Ada beberapa penonton umum yang bersedia datang dan menonton pertunjukan, namun setelah menonton, mereka tidak paham dan dibuat pusing bahkan kapok untuk kembali menonton pertunjukan di kemudian hari.

Lantas, bagaimana cara manajemen produksi untuk menemukan penonton yang tepat? Nah, di sanalah peran pemerintah melalui Bekraf dalam memberikan bantuan pada seniman.

Pemerintah melalui Bekraf pasti memiliki data base tentang individu atau kelompok-kelompok yang memiliki minat dan perhatian pada seni pertunjukan. Di sanalah harapan kepada Bekraf untuk dapat berbagi database kepada para manajer produksi seni pertunjukan, agar bisa dijadikan sebagai target penonton dalam publikasinya.

Jika hal itu dapat dilakukan, menemukan penonton yang tepat. berapa pun harga tiket seni pertunjukan, pasti akan laku terjual, dan seni pertunjukan tadi akan mendapat atensi yang baik.

Atau jika database itu belum dimiliki Bekraf, ada baiknya jika Bekraf menggagas projek pengumpulan data base penikmat seni pertunjukan di seluruh daerah. Untuk nanti dapat dibagikan kepada seluruh penggiat seni pertunjukan.

Akhir kata, Sudah saatnya untuk kita di Sumatera Barat dapat menggunakan cara berfikir yang Idealis namun Realistis. Tidak meminggirkan idealisme yang kita percaya demi pasar, namun dapat meraup atensi penonton yang tinggi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up