Ranah

Tentara, Dokter, Filsuf, Wartawan dan Iwan Berakhir Jadi Sastrawan

 

Pernah menjadi tentara, merasakan peluru berdesingan di telinga. Ia tak tamat SMA karena agresi Belanda. Pria asal Sibolga, lahir dengan nama lengkap Iwan Martua Dongan Simatupang. Namun lebih dikenal dengan nama Iwan Simatupang.

Usai perang, Iwan Simatupang masuk sekolah Kedokteran di Surabaya, tak puas dengan ilmu di dalam Negara yang baru merdeka. Ia berangkat ke Belanda untuk belajar Antropologi Budaya di Leiden. Ia juga belajar drama di Amsterdam. Iwan memang gila, ia juga belajar Filsafat Barat pada Prof Jean Wahl di Sorbonne University.

Usai berkelana, Iwan pulang ke Indonesia. Ia jadi penyair, novelis, sastrawan, guru dan wartawan. 15 lebih drama Iwan dijadikan sebuah buku. Empat buah novelnya diingat masyarakat, mulai “Merahnya Merah”, “Ziarah”, “Kering” dan “Kooong”.

Cerpen maupun novel itu mirip esai, tidak logis, irrasional, inkonvensional dan lain sebagainya. Ia lebih sering dianggap sebagai penulis realisme gaib. Ia senantiasa menimang kata-katanya, memilih kalimat-kalimatnya. Sehingga kata-kata dan kalimat-kalimat itu bukan hanya mendukung jalan cerita, tetapi juga mewarnai “keindahan” serta “filsafat” dalam cerita.

Bahasa yang ia gunakan tak boros dengan kata-kata. Kata demi kata, kalimat demi kalimat dibangunnya secara bagus. Karakterisasi pola pelakunya juga begitu dominan dalam novel-novelnya. Dalam menggarap perwatakan pelaku, kecenderungan yang diamati Iwan Simatupang memang bukan hanya sekadar melengkapinya dengan nama-nama pelaku.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up