Ranah

Iwan Cepi “John Wick” Dari Kemayoran

Gara-gara menonton ulang film John Wick 2, saya terinspirasi untuk mencari mantan atau pembunuh bayaran yang masih aktif di Jakarta ini.

“lo mau cari pembunuh bayaran, lo cari aja di rutan Cipinang ato Salemba. Tapi kalo lo mau cari yang lagi beredar, susah bos. Mana ada pembunuh bayaran yang mau diwawancarai, cari mati!” ucap salah seorang teman melalui whatsapp.

Keinginan saya hanya untuk bertemu dan mendengar cerita langsung dari pelaku tentang dunia hitam tersebut, rasa penasaran itu menghantui beberapa hari hingga saya mulai mencari di mesin pencarian google. Dari beberapa nama dan kisah yang saya baca, juga masukan dari teman maka mengerucut satu nama. Mantan pembunuh bayaran era 1970-1980an, Iwan Cepi Murtado.

Berkat arahan dari Bang Jali, saya mulai menyisir gang-gang sempit Kawasan Kemayoran dengan berjalan kaki. Bertanya-tanya kepada orang yang saya temui, hingga akhirnya ada seorang Ibu muda yang mau mengantarkan saya.

Saya disambut oleh anaknya, Ade Naziha. Dari yang saya baca, mbak Ade ini lah faktor Iwan keluar dari dunia hitam. Saya dipersilahkan masuk, dan di ruangan tamu sudah ada Bapak Iwan Cepi Murtado dan cucu perempuannya tengah menonton berita di televisi.

Kumis dan rambut yang sudah memutih, tatapannya masih tajam. Saya mulai memperkenalkan diri, memberitahu dari mana saya dapat informasi tentang Iwan Cepi. Ada sedikit kecurigaan yang saya rasakan, karena saya bukan dari kalangan wartawan.

“Tolong ajari saya, tolong nasihati saya tentang kehidupan.” Ucap saya kepada Iwan Cepi sembari memperlihatkan smartphone yang berisi sedikit informasi tentang diri saya.

Iwan Cepi sering keluar masuk penjara anak-anak di Tangerang, “Bapak waktu kecil nakal, hobi berantem tapi tidak nyolong.” Ucapnya. Mengenyam pendidikan hanya di Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar, tidak membuat Iwan berhenti belajar. Mengambil ilmu dari orang hebat, mungkin itu yang ada di benaknya.

Iwan cepi berteman dengan Sayuti, adiknya Bir Ali Cikini. Dia sering nongkrong dengan Bir Ali, karena umur yang terpaut jauh jadi yang paling kecil untuk disuruh-suruh membeli rokok. Biarpun Iwan tidak pernah beraksi bersama Bir Ali, akan tetapi dia banyak belajar tentang dunia hitam. Bir Ali bersama Kusni Kasdut merampok dan membunuh Arab kaya raya, Ali Badjened di kawasan Kebon Sirih. Mereka juga merampok permata di Museum Nasional, dan menembak mati salah satu penjaga museum.

Sekitar tahun 1964, Iwan Cepi mendaftar jadi tentara. Kala itu ada pendaftaran untuk 20 ribu tentara, dan dia lulus. Iwan ikut juga memberantas komunis dari jawa hingga Jakarta, dia melakukan pemberangusan atas perintah atasannya. Sesampai di Jakarta, kegilaannya semakin menjadi. 1971 Iwan Cepi keluar dari TNI, dari sini Iwan mulai menggeluti dunia pembunuh bayaran.

Berlatar belakang seorang tentara, Iwan Menjadi pembunuh bayaran profesional. Dia juga mengidolakan salah satu penjahat legendaris Chicago Amerika, Al Capone. Melakukan aksi harus matang, kinerja otak juga sangat diperlukan. Pesanan dari bisnisman hingga pejabat negara datang bergantian kepadanya, dia menjadi Izrail berbadan manusia. Tidak hanya Al Capone, film The Godfather juga menjadi inspirasinya.

Pada zaman itu, berbagi hasil yang di dapatkan dengan fakir miskin dan anak yatim menjadi keharusan. Mayoritas penjahat era 60an hingga 80an melakukannya, sudah menjadi tradisi. Di saat zaman sekarang para koruptor merampok dan menipu rakyat, penjahat era silam terasa lebih manusiawi. Mereka menjadi Robinhood bagi rakyat kecil.

Belajar dari Al Capone, “bila ada penghianat di dalam organisasi, sebelum dia ngebongkar kita matiin dia dan gue lempar di mana rimbanya.” Ucap Iwan dengan mata mulai berkaca-kaca. Lagu lama, penyesalan datang selalu terlambat. Di hari tua Iwan menyesali kematian temannya itu, “Kenapa dulu gue matiin teman gue” sambungnya lagi dengan mata berair tapi tidak kunjung menetes.

“Bapak susah tidur, bayangan masa lalu selalu menghantui. Tidur malam pun susah, sempat bapak berdoa kepada Tuhan supaya cepat mati, biar habis penderitaan ini. Tapi Tuhan berkehendak lain, bapak diberi umur panjang. Bapak harus menerima semua ini.” Saya hanya bisa terdiam dan kaku mendengarkan penuturannya, inikah hadiah dari masa lalu di akhir senja? Siksa.

Suasana hening sejenak, saya masih kaku. Membayangkan siksa yang diterima oleh Iwan Cepi di hari senjanya, “ Peliharalah hidup yang baik, jangan sampai terjerumus ke lembah hitam.” Ucapnya dengan nada yang pelan.

Seprofesional dan sepintar apapun Iwan, korban terakhirnya yang dibuang tersangkut. Hingga ditemukan warga dan diusut pihak berwajib, Iwan ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Cipinang.

Iwan menjadi orang yang sangat disegani di penjara Cipinang, Kusni Kasdut, Johny Sembiring dan Edy Minang adalah seniornya. Mereka adalah tempat Iwan bertanya, bahkan tempat nongkrong yang paling asik adalah di depan kamar Kusni Kasdut.

Mungkin karena Kusni Kasdut adalah tahanan hukuman mati, agak diberi kelonggaran. Kusni kasdut membuat kolam ikan dan taman kecil dari susunan botol-botol bekas. Di sana Iwan sering minta petunujuk kepada Kusni Kasdut, “Kusni kasdut orangnya lempeng, juga pintar. Penjahat berkelas di Cipinang bawaannya tenang-tenang saja.” Ucap Iwan kembali semangat bercerita.

Di dalam penjara Iwan mulai berubah, dia merangkul semua tahanan. “gue bikin seperti di PBB, pendekatan terhadap para napi dengan rasa, gue mengerti bagaimana caranya.” Hobi bergaul dari kalangan bawah hingga atas memudahkan Iwan. Iwan mulai membuat Indonesia kecil di rutan Cipinang, setiap tahanan baru adalah tanggung jawab sesama etnis. Setiap etnis ada gubernurnya atau ketua, setiap permasalahan yang terjadi diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan harus tuntas.

Iwan sungguh beruntung, ketika operasi petrus dia berada dalam tahanan. “ada tahanan beberapa hari lagi akan bebas, dia menolak bebas karena takut. Ketika dia bebas, 2 hari sesudah itu nongol di koran sebagai korban petrus.” Ucap Iwan mengenang temannya.

Penjara dan memiliki anak perempuan akhirnya membuat Iwan benar-benar berhenti menjadi pembunuh bayaran, setelah bebas dia mendirikan Lembaga Macan Kemayoran (LMK) yang bergerak di bidang sosial. Dengan pengalaman bergaulnya, Iwan Cepi Murtado menerapkan indahnya perbedaan di LMK. Anggotanya tidak hanya orang Betawi saja, akan tetapi siapapun yang berdomisili di Jakarta.

“Kampung adek di mana?” tanya Iwan, “saya di Payakumbuh, bapak.” Jawab saya dengan sumbringah. Ternyata Iwan Cepi Murtado sempat pacaran dengan gadis Minang, Mariana gadis dari Sulik Aia. Kala itu Mariana sedang belajar menjahit di Jakarta, masih teringat jelas masa-masa Iwan menjemput Mariana pulang sholat di mesjid. Iwan Cepi bahkan sudah membayangkan kalau nanti menikah dia akan membelikan istrinya mesin jahit. “dia bisa jadi guru jahit atau menjahit pakaian, menjadi istri yang mandiri.” Kenang Iwan Chepi.

Kisah cinta mereka ditolak oleh kakak Mariana, Sutan Mudo. Dia tidak mau mempunyai adik ipar seorang preman, Mariana pun dikirim ke kampung dan dijodohkan dengan laki-laki pilihan keluarganya. Akan tetapi silaturahmi mereka tidak putus, ketika Iwan Cepi murtado melangsungkan pernikahannya dengan gadis Betawi. Mariana dan suaminya hadir di pernikahan tersebut, itu lah kali terakhir Iwan Cepi Murtado sang pembunuh bayaran melihat wanita Minang yang pernah dicintai.

Iwan Chepi juga belajar agama dari Almarhum KH. Zainuddin MZ, mendalami sedikit demi sedikit ilmu agama. Memang siksa masa lalu datang bertubi-tubi, akan tetapi kebaikan harus bertubi-tubi juga dilakukan.

Kisah-kisah yang pernah dilalui perlahan-lahan terbungkus dengan rapi, bungkusan itu suatu hari akan menggelinding ke diri sendiri. Baik atau tidaknya akan diterima kembali. Alam Takambang jadi Guru, belajar tentang kehidupan dari siapa saja. Dari yang terdidik hingga penjahat sekalipun.

Dan inilah pertama kalinya saya mencium tangan seorang yang masa lalunya berlumuran darah manusia, Iwan Cepi Murtado.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up