Ranah
Featured Video Play Icon

Film Indonesia Dari Gambar Idoep Jadi Gaya Hidup

Film bukan sesuatu yang asing dalam perjalanan sejarah Indonesia. Sejak diperkenalkan di Batavia pada awal abad 20 sebagai “gambar idoep” kesenangan menonton film pelan-pelan mengalahkan jenis pertunjukan lainnya. Mulai dari wayang hingga komedi stamboel.

Sihir film mampu membawa penonton ke dalam realitas yang diinginkan oleh si pembuat cerita. Sejenak membuat penonton lupa dengan realitas yang dihadapinya sehari-hari.

Sejak Loetoeng Kasaroeng diproduksi di tahun 1926, film Indonesia mulai menghadirkan realitas berdasarkan kisah-kisah yang berkembang di tengah masyarakat. Menghadirkan kisah-kisah itu dalam bentuk se-nyata mungkin jauh lebih menarik dibandingkan cerita dari mulut ke mulut atau pertunjukan panggung.

Pasca Indonesia merdeka, industri film nasional juga menunjukkan kedaulatannya. Tersebutlah “Duo Minang” yang membangun industri film tanah air, Usmar Ismail dan Djamaludin Malik.

Usmar Ismail yang kelak didaulat sebagai Bapak Film Indonesia adalah sutradara kelahiran Bukittinggi. Sementara Djamaludin Malik adalah produser kelahiran Padang yang memproduksi film lewat studio Persari.

30 Maret 1950 hari pertama Syuting film “Darah dan Doa” yang mengisahkan¬†long march¬†Siliwangi karya Usmar Ismail diperingati sebagai hari film nasional. Skenario Darah dan Doa ditulis oleh Usmar Ismail bersama dengan penyair legendaris Indonesia, Sitor Situmorang.

Selama 60 tahun berikutnya industri film tanah air mengalami pasang surut. Munculnya kutub politik sepanjang dekade 60-an. Mekar selama periode 70 hingga 80-an hingga mati suri selama dekade 90-an.

Tetapi film tidak pernah benar-benar bisa mati. Di awal millenium duo “Mira Lesmana-Riri Reza” menandai kebangkitan industri film tanah air lewat Film “Petualangan Sherina”.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up