Ranah

Desain Beradab, Peradaban Desain atau Peradaban yang Biadab?

Jika kita berbicara masalah desain. Tentu tidak akan ada habisnya. Semua akan berproduksi terus, anytime. So, we have everything for live. Kita pasti selalu berkarya.

Tapi guys, itu adalah bentuk keaktifan kita dalam membangun peradaban. Pertanyaannya, apakah karya kamu membangun atau justru meruntuhkan peradaban. So, peradaban itu bukan hanya sekedar budaya ya guys, bahasa dan bla-bla yang diangggap primitif.

Saya memang tidak ahli dalam peradaban. Karna memang dari saya mulai masuk jenjang pendidikan, tidak pernah saya mengenyam antropologi yang dikombain dengan sastra dan berpadu dengan sejarah. Maklumlah saya orang tak mampu. Tak mampu dari segi uang dan otak.

Tapi melalui dunia saya (desain) saya akan kupas proses peradaban. Walau nantinya juga mengambil teori para ahli.

Saya ingatkan untuk membuat kopi. Jika harus, maka sulutlah rokok sebatang dulu. Ini kajian yang berat, seberat kenangan bersama mantan.

Bytheway guys, berawal dari diskusi singkat dengan seorang professor desain, ia bilang bahwa “Ini adalah kegiatan manusia”. Maksudnya segala hal yang terjadi pada peradaban adalah kegiatan manusia, kegiatan yang kamu lakukan guys. Kita membuat sesuatu, berkarya, mencipta, hingga makan, minum, tidur. (Tidak termasuk coli ya guys. Haha). Itu adalah suatu peradaban dalam kaca mata desain.

Seperti dalam buku ‘Sequential evolution of human settlements in history’, Golany 1995.

Di dalam buku itu ada beberapa proses dari barang mentah ke barang jadi. (bukan proses yang itu, IYKWIM, Haha. Bukan bukan) Maksudnya, dari awalnya manusia hidup sendiri hingga smartcity yang gila ini.

Nomadism. Sebuah nama pada awal manusia menjalankan peradaban. Mereka tentu saja belum mengenal hari valentine, Facebook apalagi subscribe Youtube.

Nomadism memang menjadi perdebatan panjang. Karna kamera belom ada saat zaman itu dan anak alay belom lahir. Dengan minimnya info dalam penelitian, maka proses ini memasuki perdebatan panjang menjadikan ini peradaban pertama.

Seminomadism, tidak jauh beda. Kalau bagi saya mungkin cuma nama saja yang beda guys. Tapi, masyarakat sudah mulai berkarya. Tetap saja disana gak ada karya seperti Raditya Dika yang suka ngevlog.

Village. Dalam arti kata disini juga berarti desa atau Dusun. Masyarakat di periode ini sudah hampir mengikuti proses desain terjadi, proses pencipta. Di mana masyarakat sudah bisa mengubah element-element pada alam. Lahirnya culture dan kreatifitas.

Salah satu bentuk hasilnya bisa dibilang adanya rumah dan peralatan. Munculnya matrilineal mungkin muncul dari pola ini. Karna mungkin peralihan mencari makan. Dari berburu ke cocok tanam. Hingga perempuan sudah mulai untuk keluar dan bekerja.

Lalu ada namanya Regional Activity. Munculnya pasar dan keramaian. Nah, bagi kalian yang suka belanja di pasar, kalian harus tau guys bahwa pasar itu dulu terjadi di tepi tepi sungai dan laut. Fungsinya mempertemukan berbagai dusun atau desa. Bukan mempertemukan preman dan gadis kampung. Catat itu!

Towns, ini istilah ketika masyarakat mulai tumbuh. Urbanisasi mulai dan orang semakin banyak menuju suatu tempat. Maka tempat tesebut semakin menjadi besar dan pembangunan semakin banyak. Towns ini mulai terbentuk dari pasar dan tempat keramaian. Intinya towns dibangun sejak awal oleh perantau. Mereka disebut masyarakat urban.

Nah, ada yang mencengangkan juga. Bahwa sejarah kota di pinggiran maksudnya daerah laut itu populer semenjak kerajaan islam muncul. Karna dirunut sejarahnya kerajaan Majapahit di Islam jauh dari pantai dan bla bla sejarahlah. Kalian mungkin bisa mengkajinya lebih lanjut dengan anak sejarah.

Cities and ports. Setelah Towns, kemudian lahirlah Kota dan pelabuhan. Hingga mulai membentuk kota besar. Periode ini banyak orang melakukan perluasan wilayah. Di dataran dan lautan. Aktivitas tidak harus di daratan.

Metropolis. Pasti semua tau dengan Kota besar. Kemudian semakin banyak masyarakat dan pembangunan semakin meningkat.

Megalopolis atau biasa disebut Megapolis juga bagian dari pergerakan ruang kota. Karna dianggap tidak representatif lagi kemudian wilayah diperbesar. Yah, mungkin saja reklamasi salah satu dari masalah ini. Tapi saya suer, tak mendukung reklamasi. Benar loh. Jangan ciduk saya pak.

Future Settlement. Bagian terakhir peradaban ini sebenarnya adalah mencari jalan keluar, merebut masa depan.

Guys, itu adalah tingkatan peradaban yang mungkin kalian sudah tau. Tapi, datangnya masyarakat urban ke sebuah daerah berdampak buruk untuk daerah tersebut.

Kita lihat peristiwa budaya didalamnya. Pertama, kepentingan yang menggeser kepemilikan alami terhadap budaya asal. Lalu, masyarakat urban Lahir karena kepentingan. Tak mengenal “ibu alamiah” melainkan “ibu kepentingan”.

Ketiga, Teratomisasi, masyarakat urban memang bersatu tapi anonym, atau simpelnya hubungan sesaat yang seporadis. Serupa pria hidung belang yang datang ke lokalisasi. Sesimpel itulah hubungan manusia di masyarakat urban.

Keempat, tidak memiliki ikatan emosional dengan tanah dan lembaga-lembaga apapun. Tak percaya? Coba lihat Anggota Dewan Perwakilan Rakyat di kota-kota.

Ini yang lebih parah. Masyarakat urban adalah orang-orang yang krisis iendtitas mereka berlari pada identitas palsu dan dari sinlah lahirnya budaya-budaya populer. Sehingga para abege-abege labil dan kids zaman now tak tahu lagi harus bersikap serupa apa.

Dan yang paling klasik dari masyarakat urban ini adalah persoalan tidak meratanya pembangun. Sementara desa tidak pernah dibangun, kota-kota gedung-gedung tinggi terus tumbuh.

Jadi, entah wajar atau tidak. Masalah kota yang sembrawut dan kekacauan terjadi memang itu adalah proses peradaban. Tapi walaupun begitu, tetap kita harus beradab.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up