Ranah

Dear Generasi Baby Boomer, Kami Rebut Dunia Kalian!

“Entah kemana kan kubawa diriku pergi..

Karena kuterjebak dalam sistem industri..

Lahir, sekolah, bekerja, mati..”

Begitulah lirik lagu S.O.S nya milik Bondan Prakoso. Lagu yang akrab bagi telinga anak muda kelahiran 1980 – 1995. Mereka yang mulai beranjak dewasa pada 2007 lalu, atau sekarang dinamai generasi Y.

Sadar atau tidak, masih banyak generasi Y yang terpenjara di dalam sistem sosial. Sistem yang dibangun oleh generasi “Baby Boomer”, generasi sebelum kami.

Generasi baby boomer adalah beliau beliau yang lahir pada tahun 1945 – 1965, mereka sudah jadi orang tua kita, termasuk presiden dan semua pemimpin kita.

Baby boomer ini adalah generasi yang paling bertanggung jawab dengan pola hidup dan sistem sosial yang baik (menurut mereka), yang saat ini dipakai separuh lebih dari umat manusia saat ini.

Wajar mereka menjadi konseptor, bahkan bisa menentukan mana yang bermoral dan amoral, mana yang suci dan berdosa. Mereka berpengaruh karena lahir dan besar saat dunia baru saja mengalami depresi berat akibat Perang. Mereka adalah obat penawar duka, tulang punggung perubahan tatanan sosial masyarakat yang luluh lantak usai perang besar.

Di zaman mereka remaja, hingga beranjak dewasa, para baby boomer dituntut untuk bekerja dengan sangat keras. Bagi mereka pekerjaan adalah hal yang utama. Sebab, hanya dengan pekerjaan yang jelas, status sosial diperoleh, gengsi, bahkan jodohpun ditentukan oleh hal itu.

Mereka besar di saat mesin-mesin canggih, baru berkenalan dengan dunia tetumbuhan yang manual. Setiap negara di dunia kala itu sedang bersemangat membangun berbagai hal. Hidup berdampingan dengan mesin, membuat sistem sosial bagi generasi boomer bekerja layaknya mesin. Pola hidup bagi baby boomer adalah lahir, mendapat pendidikan tinggi, bekerja dengan baik dan membangun karir, kemudian mati.

Serupa lagu Bondan Prakoso yang judulnya lumba-lumba tadi. Bukan, ah, lupa, S.O.S ternyata judulnya.

Sebagai generasi yang jadi penawar duka akibat perang dan dianggap berhasil memperbaiki dunia, membuat ego dari generasi baby boomer tinggi. Mereka masih menganggap sistem yang mereka bangun adalah sistem terbaik yang pernah diciptakan oleh umat manusia.

Sehingga, mereka cenderung memaksakan dan menanamkan sistem sosial ala-ala mesin, dengan semboyan “Lahir, sekolah, bekerja dan mati” itu adalah sistem yang sudah final bagi generasi-generasi yang hadir selanjutnya.

Saya tak menafikannya, mereka memang generasi yang berhasil. Keberhasilan ini membuat mereka cenderung egois, kukuh mempertahankan sistem sosialnya. Sehingga mereka masih berusaha mempertahankan era kejayaannya dalam mengatur sistem sosial pada generasi-generasi selanjutnya.

Contoh sederhanya, saat anda diberi nasehat oleh orang tua, untuk menyelesaikan pendidikan dengan cepat, mendapat pekerjaan yang layak, kemudian membangun karir yang jelas.

Atau ketika anda ditakut-takuti dengan berbagai pertanyaan menyebalkan seperti, “Sudah tamat?” , “Sudah kerja?”, “Kapan nikah?”, dan pertanyaan menyebalkan lainnya. Seolah, semua itu ukuran kesuksesan menjadi manusia.

Terlebih, saat para baby boomer itu bersemangat luar biasa untuk memulai cerita soal anak tetangga yang lulus seleksi jadi calon pegawai negeri.

Sementara mereka tak berkomentar apa-apa ketika kita bercerita bahwa barang dagangan di online shop milik kita berhasil terjual ke Amerika.

Dari sederet pertanyaan menyebalkan, tuntutan, bahkan sindiran-sindiran dengan membandingkan anak tetangga yang jadi abdi Negara itu. Sesungguhnya para baby boomer ini jadi mandor tanam paksa pada otak dan jiwa kita soal nilai-nilai baik menurut mereka saja.

Mereka tak sadar, zaman industri sudah beralih pada zaman teknologi informasi (Digital). Di mana segala hal sudah begitu cepat berkembang dan dinamis.

Pola-pola kaku dalam kehidupan sistem industri gagal diterapkan di dunia yang sudah serba digital ini.

Generasi Y yang aktif menggunakan internet, mudah sekali mendapatkan ilmu pengetahuan dari seorang profesor hanya dengan mengakses tulisan dan tutorialnya di internet. Orang-orang mudah sekali menjadi terkenal hanya dengan aktif di media sosial. Orang-orang bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya hanya dengan membuat akun di situs-situs perdagangan online.

Beruntunglah generasi Y, lahir dan tumbuh saat dunia sudah berada di pintu gerbang perubahan. Tak mau membanggakan diri sebagai generasi Y, namun kita adalah generasi yang paling ideal sebagai motor perubahan.

Peralihan dari sistem industri ke sistem digital memerlukan generasi yang bersedia untuk menciptakan pola tatatan sosial baru untuk generasi yang akan datang.

Era digital menuntut generasinya untuk senantiasa berfikir kreatif, terbuka, tidak kaku, dan dinamis.

Generasi Y tidak lagi dibebankan pada nilai gengsi yang harus didapat hanya dari posisi dalam pekerjaan, jumlah jam kerja, dan warna seragamnya.

Zaman layar sentuh saat ini, mempersilahkan generasi Y untuk mendapatkan gengsi dan status sosial di masyarakat dengan berbagai macam cara, tergantung seberapa keras dia memanfaatkan akses yang ada. Seberapa keras dia untuk terus berfikir kreatif dan bersahabat dengan teknologi, jika ingin bertahan dan mendapat tempat yang layak dalam sistem sosial.

Berkacalah pada seorang musisi yang memanfaatkan media digital dengan sebaik-baiknya. Ia lebih dikenal dan dihargai publik, daripada seorang politikus yang menampilkan mars partai politiknya di televisi setiap hari.

Seorang penulis muda cukup bekerja di balik laptop dari kamar kosnya saja, ia lebih didengar dan diterima pemikirannya. Walau tulisan konyol itu cuma menjadi status Facebook. Itu jauh lebih diikuti, ketimbang  himbauan seorang walikota di spanduk-spanduk yang bertebaran di ruang publik.

Masih belum cukup? Berkenalanlah dengan seorang youtuber. Mereka yang hanya bermodal kamera dan komputer seadanya, dapat melangsungkan pernikahan yang mewah dan megah layaknya anak pengusaha multinasional.

Lalu opini dan sistem sosial apalagi yang mau Anda (wahai para baby boomer) bangun? Jika seorang mahasiswa culun bisa membuat website penyedia forum diskusi gratis. Forumnya lebih penting daripada headline sebuah koran nasional, begitupun pendapatannya, jauh melebihi pendapatan iklan perusahaan koran nasional.

Dari contoh-contoh faktual dan terjadi di balik dinding rumah Anda. Itu hanya bagian kecil dari ribuan, bahkan jutaan upaya generasi Y mengubah sistem-sistem sosial warisan generasi sebelumnya.

Kami mulai menyadari dan berfikir bahwa interaksi sosial, mengumpulkan materi, dan mendapatkan status sosial tidak lagi harus dicapai dengan aturan-aturan lama.

Bagi generasi Y yang tak siap menerima tongkat estafet perubahan ini. Bagi mereka yang masih alergi  untuk menggunakan akses digital. Bagi mereka yang punya banyak kuota, tapi cuma download vokep saja. Bagi mereka yang masih terjebak dalam pemikiran lama warisan generasi baby boomer.

Maka kemasilah segala mimpi, kalian akan ditinggalkan zaman.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up