Ranah

Dari Suporter Musiman Hingga Bertaruh Nyawa Demi Persebaya

 

Bermula sebagai supporter musimannya Gresik United (GU), saya yang masih polos ini bertandang ke Stadion untuk mendukung GU vs Arema Cronus pada tahun 2013 lalu. Datang ke stadion sepulang sekolah. Aku bersama semua teman satu sekolah berkumpul dan berunding untuk persiapan berangkat ke stadion Petro Kimia. Setelah bermusyawarah, kami sepakat untuk berangkat naik truk. Ini bukan menyewa truk, tapi menumpang-numpang truk dengan sistem estafet dari satu truk ke truk lainnya.

Saat itu saya masih sangat polos, saya berangkat memakai baju Bonek. Jujur kala itu, saya belum mengenal rasa rivalitas kedua element suporter tersebut, antara Aremania dengan Bonek. Di tengah perjalanan kami turun dari truk karena ada persimpangan menuju tol. Di situ saya diteriaki sama polisi “Mas sampean goblok yah, cepat ganti pakaian”. Saya berpikir keras, kenapa disuruh ganti pakaian? Karena kelamaan mikir, polisi lebih dulu membubarkan kami dari persimpangan tol tersebut.

Aku beserta kawan lainnya lari ke dalam desa Singapadu, karena kebetulan di sana ada rumah teman yang kami kenal. Di rumah teman itu, saya meminjam pakaian suporter GU (ultras mania) tapi dia tidak mempunyai atribut sama sekali. Lantas saya meminjam baju polos supaya bisa lancar berangkat ke stadion. Sesampai di stadion kami berputar putar mencari celah gerbang yang tidak ditutup, karena tidak ada sama sekali yang membawa tiket.

Akhirnya setelah lama menunggu di luar, kamipun bisa masuk pada babak ke dua pertandingan. Dan itu pertama kali saya merasakan berdiri di antara ribuan suporter. Hari berganti, bulan berlalu. Berkali kali kami berangkat ke stadion mendukung GU bertanding tiada lelah & mengeluh. Karena pada saat itu Persebaya mengalami dualisme sehingga teman teman saya beralih ke Ultras Mania.

Tak terasa, saya sudah SMK. Saya sudah mulai berhenti dan tidak pernah lagi masuk Stadion Petro Kimia, kecuali menyambut saudara yang away di Gresik. Pada waktu itu saya sedang praktik industri (kegiatan sekolah) dan saat itu banyak momen demo untuk membela Persebaya (surabaya) saya ikut aksi demo yang dihadiri puluhan ribu Bonek Mania (suporter Persebaya) saat itu kami berjalan kaki dari Gelora 10 November sampai Tunjungan Plasa.

Di situ para bonek mania rela kepanasan, kelelahan demi tim kebanggaan mereka. Di situlah saya mulai menaruh kesetiaan saya kepada Persebaya, banyak aksi demonstrasi yang saya hadiri, mulai dari demo di TV One, ke Manajemen klub, hingga demo terakhir saat di Pengadilan Arjuna juga saya ikut berdemonstrasi.

Pada akhir Agustus 2016, saya dengar akan ada demo besar dan banyak bonek yang akan berangkat, saat itu perasaan saya simpang siur antara berangkat atau tidak. Akhirnya saya memilih berangkat ke Jakarta tanpa persiapan apapun, hanya membawa uang Rp50.000 teman yang berangkat bersama saya juga tak banyak, kami hanya 10 orang.

Saat di daerah Batang, Jawa Tengah kami dikejar oknum tak dikenal dan kami pun lari kocar kacir karena kami kalah pasukan, keadaan saya saat itu kaki sedang keseleo. Kami ditolong oleh warga sekitar. Karena sudah separuh perjalanan kami lebih memilih berangkat dari pada pulang membawa malu. Panas hujan pun kami tempuh demi Persebaya. Disana kami dibantu oleh TNI yang lagi bertugas. Beliau memberi kami minum & uang transport menuju tujuan utama (Jakarta Utara).

Di Jakarta Utara kami ditampung dan dijamu oleh warga sekitar Stadion Tugu. Diberi makan, diberi makanan ringan, diberi tempat istirahat dan masih banyak kebaikan lainnya. Saat itu saya sudah kelas 12 dan saya bolos sekolah 4 hari.

Sidang ditutup dan kami pulang dengan membawa kecewa. Semua bonek 80% diangkut keluar dari Jakarta menggunakan bus-bus besar dan turun masih di daerah jawa barat, selanjutnya kami pun di carikan truk oleh aparat. Dan kami pun berangkat.

Sampai daerah Tuban truk kami berhenti karena ada yang tidak beres. Rombongan kami disweaping oleh polisi karena sudah banyak bonek yang bawa batu. Polisi sedang siaga dan tak mau tragedi Lamongan terjadi lagi. Meski begitu, saat melewatu tengah kota Lamongan kami dilempari oleh oknum berjumlah 3 orang lalu lari lagi masuk kampung. Begitulah cerita saya saat di Jakarta masih banyak cerita lain yang bisa saya ceritakan lain waktu.

Ilham Aji Pangestu, Bonek Gresik.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up