Ranah

Dari Ruang Interograsi, Sisi Gelap Jakarta dan Chester Bennington yang Depresi

“Dimana lo dapat barang, anjing?!” seorang petugas berteriak di dekat telingaku.

“Saya tidak tahu, pak,” jawabku sambil menunduk tanpa memandangi aparat yang bertanya.

Lagi, ada panas yang menjalar hingga hulu hati, “Buuuhhkk!” kepalan tangan aparat itu kembali menghantam perut. Saya hanya menunduk menahan sakit dan perih, ini sudah tinju ketiga. Perlahan-lahan saya berdiri dibantu oleh teman yang juga sama nasibnya.

Pertengahan 2007, saya ditangkap di salah satu daerah Jakarta Pusat. Malam jahanam itu bermula saat saya nongkrong dengan teman-teman, menikmati malam minggu di salah satu pinggir jalan Komplek perumahan. Bersama dengan 4 orang teman lainnya, kami asik bercengkrama hingga datang satu orang teman dalam kondisi mabuk obat-obatan. Setelah beberapa saat dia ikut nongkrong, kemudian dia mengeluarkan satu linting ganja dari sakunya.

Saya dan teman-teman yang lain terkejut melihat dia mulai membakar ganja, hanya dua hisapan tiba-tiba datang mobil patroli polisi.

Sadar ada jebakan, kamipun mencoba untuk lari, “Lari lo anjing, gue tembak lo!!” teriak seroang polisi sembari memacungkan pistol ke udara.

Nyali kami ciut melihat pistol tersebut, lari pun urung dilakukan.

Kami berenam digiring ke kantor Polsek, tanpa ba bi bu langsung digiring ke ruang interograsi dengan merangkak tanpa baju. Persis seperti di acara berita kriminal televisi, inilah pertama kalinya saya diintrogasi oleh Polisi.

“Panggil orang tua kamu ke sini.” Perintah seorang petugas yang sudah tua.

“Orang tua saya di kampung, saya juga sudah 3 tahun tidak pulang. Saya merantau ke sini.” Ucapku kesakitan memegang perut.

Sekitar pukul 04.20 WIB dini hari, kami berlima keluar dari kantor Polsek, setelah 6 jam lebih berada di sana. Satu orang teman tinggal, ia terbukti memiliki satu linting ganja. Saya sangat beruntung dibantu oleh orang tua salah satu teman, kalau tidak, mungkin saja saya merantau ke dalam sel tahanan. 4 hari saya masih merasakan ngilu di perut, oleh-oleh dari Polsek.

Awal Oktober 2005 saya merantau ke Jakarta, tujuan pertama ke tempat saudara ayah yang mempunyai usaha catering dan pesta kawinan. Saya tak punya rencana hidup atau target di Ibukota.

Setelah lebih kurang 2 bulan berkeliling dan menghafal jalanan Jakarta saya baru punya rencana hidup. Tak serupa dengan para perantau lainnya yang ingin kaya dan sukses, saya punya rencana berbeda.

“Saya orang kampung, 3 tahun kedepan saya harus tahu apa itu Jakarta?” itulah rencana hidup pertama di Jakarta, gelora muda membuncah. Bermodal pendidikan 4 tahun SMA di 4 sekolah yang berbeda, saya hanya mempunyai skil menyopiri mobil.

Dari keahlian menyopir, walau tak seahli Vin Diesel dalam film ugal-ugalan mobil berseri itu, saya juga cukup mahir berkomunikasi ala-ala anak Jakarte. Dari sana pula perkenalan dengan dunia malam anak muda Jakarta bermula.

Pub, dikostik, dan klub malam saya masuki. Awalnya saya selalu membayar untuk masuk klub malam. Ketika berada di dalam klub, saya hanyut bersama dentuman musik di dada. Minuman di dalam klub sangatlah mahal. Saya mengakalinya dengan mabuk sejak awal. Sebelum masuk ke klub, saya menenggak minuman keras klasik khas kaum pinggiran Ibukota. Anggur merah cap orang tua.

Sebagai pekerja kelas bawah yang gajinya di bawah rata-rata, untuk menikmati dunia malam para clubbers Jakarta pastilah tak akan cukup. Gaji sebulan hanya cukup untuk membeli satu botol saja. Hari-hari berikutnya puasa jajan. Tak mau dikalahkan nasib, saya mengakali dengan mempersiapkan minuman yang sudah dibungkus plastik, dan diletakkan di gantungan motor. Jadi ketika “Kentang” (Kena tanggung), mabuk belum sampai di ubun-ubun, saya harus kembali ke parkiran motor, meneguk anggur cadangan.

Sembari menikmati musik, saya berkenalan dengan para clubbers. Dari berkenalan itu, satu persatu saya mendapat Invitation dan get list atau undangan party. Artinya acara gratis. Sejak saat itu saya kecanduan masuk club.

“Rabu malam lo datang ya ke acara gw,” sebuah pesan singkat masuk ke handphone. Seorang teman yang punya EO party mengundang.

“Gw lagi bokek abis nih!” balasku.

“Lo datang aja,” itu pesan terakhirnya. Sudah pasti, cukup modal dengkul, saya siap menari.

Meski menyopiri mobil box catering milik saudara ayah, saya tak pernah surut. Mobil box catering ini beberapa kali berjejer dengan mobil mahal milik muda mudi Ibukota.

Mobil box catering yang kaca depannya ada stiker indoclubbers.com itu pernah parkir di lantai 25 salah satu gedung di Gatot Subroto. Tak ada mobil jelek di lantai itu, tapi tidak bagi mobil box ini. Cukup dengan tambahan uang Rp20.000 saja  ke petugas parkir, mobil box catering tersebut sudah sejajar dengan mobil anak-anak gaul Jakarta.

Tak hanya dunia malam, saya juga suka keliling Jakarta sendiri dengan sepeda motor pada siang hari. Sesekali saya nongkrong di pinggir kali depan Pasar Rumput, Manggarai. Saya suka memperhatikan kehidupan orang-orang yang tinggal di bawah jembatan, mereka-mereka yang datang dari daerah dan tidak memiliki rumah di Ibukota. Sekali saya sempatkan untuk turun ke bawah jembatan, berinteraksi dengan mereka.

“Mau gimana lagi, terima aja nasib,” celoteh dari seorang bapak yang mata pencahariannya memulung, sudah 2 tahunan hidup di bawah kolong bersama istri dan satu anaknya yang masih balita.

kadang kala saya keliling jalan kaki pada dini hari di kawasan Kota Tua, mendengar dengkuran abang-abang ojek sepeda ontel di depan salah satu bangunan tua.

Mereka yang terlelap karena letih mengayuh sepeda untuk menyambung hidup, kadang saya penasaran Tuhan menghadiahi mimpi apa di dalam tidur mereka. Kalau sudah capek jalan kaki, saya ikut nimbrung tidur bersama mereka.

“Lagi nunggu istri, mas,” jawab seorang lelaki 40 tahunan, saat saya bertanya sedang apa ia di pinggir rel kereta yang tidak jauh dari lokalisasi prostitusi.

“Hidup seperti apa ini?” tanya saya dalam hati, seorang suami menunggu istrinya yang sedang menjajakan diri atau bercinta dengan orang lain.

Bapak itu bekerja sebagai kuli panggul di salah satu stasiun kereta api, dia memiliki 4 orang anak yang masih kecil.

“Emang bapak gak cinta sama istri?”, tanyaku

“Perut harus diisi mas, perkara cinta urusan belakangan” jawab lelaki itu pelan ada yang tak usai dalam dadanya.

Di tempat lain, saya pernah berkunjung ke kampung kecil di tengah lokasi pekuburan lama Tionghoa, orang-orang kelas bawah membangun gubuk dan ada juga makam di dalam gubuk.

Mereka yang tinggal di atas kerangka-kerangka manusia, yang tidak peduli dangan yang namanya hantu atau pocong. Kehidupan keras Ibukota memaksa yang sudah mati untuk berbagi tempat dengan yang masih hidup.

***

Perlahan matahari pagi keluar menyapa Ibukota, menikmati kicauan burung-burung. Ada Jerokcok atau cucak rowo betawi dan beberapa burung gereja bermain bebas di pohon kersen yang berada tepat di depan meja kerja.

Saya suka tersenyum sendiri mengenang kisah-kisah yang dihadirkan oleh Jakarta, satu persatu kisah ini saya tuliskan.

Inginnya saya ceritakan semua, namun ngantuk sudah meraja. Anehnya saya tak mampu memejamkan mata, setelah membaca berita yang sedang viral di sosial media. Chester Bennington vokalis Linkin Park, ia bunuh diri karena Depresi.

Lalu, seperti apa Depresi itu?

Apakah serupa lelaki yang menunggu bini selesai bekerja di lokalisasi?

Apakah depresi itu berdesakan dengan rumah-rumah pemulung di atas kuburan?

Mungkinkah depresi itu hadir dalam mimpi pengayuh sepeda ontel Kota Tua?

Atau depresi itu hinggap di pucuk pohon kersen di depan saya dan masuk dalam kepala?

Wallahu a’lam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up