Ranah

Dari Ruang Ganti Stadion Hingga ke Hulu Sungai Mahakam

“Bayangkan orang-orang yang kalian cintai, orang tua, istri dan juga anak-anak kalian.” Semua yang ada di ruangan ganti membentuk lingkaran, memejamkan mata dan saling merangkul. Marcel, Cassio, Jandia, Hengky, Fino, Irsyad dan lainnya sedang khusuk mendengarkan ucapan Nil Maizar.

Mereka bersiap menuju lapangan dan menghadapi pertandingan. Pemandangan yang sangat menarik dan ini pertama kalinya saya melihat kegiatan para pemain di ruang ganti, dari ganti pakaian, sholat hingga candaan sesama mereka.

Di Balikpapan, pandangan ini terjadi. Ini kunjungan ketiga kalinya saya ke Balikpapan, kali ini tujuan saya adalah bekerja sebagai Pixer Film Dokumenter. Kedatangan saya bertepatan dengan pertandingan Persiba melawan Semen Padang FC.

Dari bandara Sepinggan saya langsung menuju hotel tempat menginap Semen Padang FC. Sebelumnya saya sudah menghubungi Nil Maizar dan Jandia, sesampai di Hotel saya pun menuju kamar Jandia yang juga sekamar dengan Cassio.

Sebagai suporter sarok kuaci saya beruntung bisa mengikuti kegiatan para pemain, dari hotel hingga stadion. Sore hari semua anggota tim melakukan meeting di salah satu ruangan hotel tersebut, saya duduk di lobby hotel dengan tamu-tamu hotel yang tidak saya kenal.

Setelah meeting selesai, semuanya bersiap-siap naik bus menuju stadion Batakan. Di atas bus saya duduk dengan Fino, pemain Semen Padang FC asal Payakumbuh.

“Abis pertandingan mau kemana lagi Bang?” tanya Fino.

“Mau ke Mahakam Ulu.” Jawab saya. sesekali bercanda dengan Jandia yang duduk persis di belakang bangku saya.

Melihat Balikpapan dari atas bus mengingatkan saya kepada Chibe, teman perjalanan saya dari Balikpapan hingga Tarakan di Kalimantan Utara sana. Saya juga ingin bertemu lagi dengan teman-teman Vespa Balikpapan yang dulu pernah memberikan tebengan tempat tinggal kepada saya dan Chibe.

Jalanan masuk ke area stadion Batakan memang sedang tahap pembangunan, stadion ini baru 2 kali dipakai. Bus pun berhenti di depan pintu masuk pemain, satu persatu pemain turun dan ditunggu oleh wartawan serta kameramen yang sibuk mengambil gambar.

Ketika saya turun, banyak kamera mengarah kepada saya. Mungkin mereka mengira saya juga pemain, “Begini rasanya jadi pemain” ucap saya dalam hati. Salah satu momen yang sering saya lihat di tv sebelum pertandingan.

“Mas.. Mas, id nya mana?” tanya seorang petugas lapangan, saya juga masuk ke dalam tanpa menggunakan ID karena saya memang tidak punya.

Saya memang tidak tau diuntung, sudah masuk ke ruang ganti. Terus masuk ke dalam lapangan merekam video seenak jidat, dan akhirnya diusir dari area lapangan.

Tapi tak apa-apalah bisa putar-putar 15 menit dan melihat sekeliling stadion. Kemudian saya dibantu oleh salah seorang polisi yang mengawal tim dari hotel ke menuju ke tribun penonton, dan sayapun menikmati pertandingan di tribun VVIP gratis.

Semen Padang FC ditaklukkan 1-0 oleh Persiba, saya meilhat wajah-wajah kecewa menuju ruang ganti. Musim ini Semen Padang FC bermain sering mengalami kekalahan, “Bakalan rame nih sosmed.” ucap saya kepada pelatih kiper, Da Zul.

“Tegakkan kepala kalian, jangan saling menyalahkan!” suara Nil Maizar bergemuruh di ruang ganti, membuat kaki saya tertahan di depan pintu dan mengurungkan niat masuk ke dalam ruang ganti. Saya jadi terbawa suasana, apakah Nil maizar memang harus diganti untuk mengembalikan permainan Semen Padang FC?”

Setelah makan malam bersama tim, saya pun pamit menuju Hotel Blue Sky Balikpapan.

“Bang Ucup dan Edmond lagi di Balikpapan, Dal.” Pesan dari Bang Aang kepada saya, Bang Aang adalah Kakak angkat saya di Balikpapan.

“Lo beli tiket gih tujuan kita sama, berangkat bareng kita ke Mahakam Ulu.” ucap ucup dan saya pun langsung membeli tiket pesawat Balikpapan ke Melak, Kutai Barat.

Tak ada janjian, saya bertemu dengan para filmaker dari Jakarta. Ada Irfan Ramly penulis skript film Cahaya Dari Timur, Surat Dari Praha, Filosofi Kopi 2 dan Love For Sale. Ada juga filmaker asal Makassar, Kukuh.

Kami tidak ada janjian sama sekali, dan memiliki tujuan yang sama. Sehari sebelumnya saya masih tanya-tanya kepada orang-orang yang saya temui enaknya naik apa ke mahakam Ulu sana.

Terbantahkan sudah, kalimantan tidak lagi menjadi paru-paru dunia. Lubang-lubang tambang, perkebunan sawit dan pembalakan jelas terlihat dari dalam pesawat. Saya mungkin menjadi salah satu orang yang yakin bahwa bumi sedang menuju kehancuran, di setiap daerah saya sering bertanya tentang suhu udara. Dari tahun ke tahun suhu udara naik, tidak pernah tetap ataupun turun.

Mungkin generasi saya adalah generasi terakhir yang bisa menikmati keindahan alam Indonesia yang indah ini, generasi berikutnya adalah generasi penikmat bencana.

Di Bandara Melak kami sudah ditunggu oleh Bang Mai dan Nata, meraka adalah teman-temannya Bang Niko. Bang Niko bareng kami dari Balikpapan, mereka dan para filmaker adalah tim yang akan yang akan melihat lokasi untuk keperluan project pembuatan film fiksi. Dari Melak kami menuju ke Pelabuhan Tering, kami sudah ditunggu oleh Bapak Antonius dari Mahakam Ulu dengan speedboat milik Pemkab.

Kecupan angin dengan sentuhan percikan air yang mengenai wajah membuat saya sangat menikmati perjalanan ini, sesekali terlihat perkampungan masyarakat Dayak di kanan dan kiri sungai.

Anak-anak yang asik bermain air di tepian sungai mahakam, serta warga yang lalu lalang menggunakan ketinting. Sudah 4 tahun saya tidak merasakan perjalanan sungai Kalimantan, dulu saya bebas kemana saja dan sekarang harus mengikuti rute yang sudah diatur.

“Sejuk sekali udara disini” guman saya setelah melihat upil hidung yang berwarna putih bening, saya memang sering berpatokan bersih atau tidaknya udara tergantung warna upil. Kalau putih bening, berarti udaranya sangat bersih. Akan tetapi kalau upilnya berwarna hitam, berarti saya menghirup udara yang kotor.

Saya melihat teman-teman di atas speedboat sangat menikmati perjalanan, kecuali Edmond yang memilih untuk tidur karena dia merasa agak pusing. Semuanya sibuk merekam dengan ponsel moment perjalanan ini, begitupun saya.

Perjalanan dari pelabuhan Tering ke Ujoh Bilang ibukota Kabupaten Mahakam Ulu ditempuh lebih kurang 4 jam, saya juga melihat kapal kayu yang membawa mobil hingga kapal besi yang mebawa traktor untuk proyek jalan. Akses ke Mahakam ulu hanya bisa ditempuh dengan akses sungai, adapun akses udara dari Samarinda ke Bandara Data Dawai yang berjarak 4 jam naik speedboat dari Ujoh Bilang.

Beberapa kali kami melihat gelondongan-gelondongan kayu di tepi sungai yang sedang ditarik oleh ketinting, kadang saya merasa jengkel melihat hal tersebut. Tapi saya harus sadar bahwa mungkin buku-buku yang saya beli, uang yang selama ini saya pakai atau peralatan-peralatan dari kayu yang saya pakai mungkin bahannya berasal dari hutan Kalimantan. Tidak mungkin saya marah kalau saya masih menikmati hasil dari olahan kayu yang mungkin dari pembalakan liar.

Kami berhenti sebentar untuk istirahat di warung apung desa Datah Bilang, dan juga Pak Antonius mengajak kami keliling kampung dan melihat Lamin Adat Dayak Kenyah Lepo Bakung.

Lamin Adat yang panjangnya 20an meter ini dipenuhi motif gambar bunga terong, di depan lamin terdapat patung kayu yang menyerupai seorang laki-laki Dayak memegang tombak dengan tas anyam di punggungnya. Di sebelahnya menara kayu setinggi 10 meter, yang di atas terdapat patung Ksatria Dayak yang memegang Mandau. Sebelahnya patung kayu perempuan yang sedang menggendong anak di punggungnya.

Di belakang menara tersebut terdapat skema perpindahan Kenyah Lepo Bakung dari tahun 1861 di Tege hingga mereka menetap di Datah Bilang dari 11 april 1974, ladang yang berpindah-pindahlah yang membuat warga Kenyah Lepo Bakung pindah kampung kata salah satu warga yang saya temui di depan lamin tersebut.

“Lembah Harau” tak sengaja kata itu terlontar dari mulut saya tatkala melihat dinding batu sepanjang 800 meter di tepian Sungai Mahakam. Warna bebatuan hitam putih membuat saya terdiam menikmati pemandangan indah yang disonsong oleh warna senja yang siap menyambut, dinding Batu menjadi salah satu andalan wisata Mahakam Ulu.

Akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Ujoh Bilang, hari sudah mulai gelap. Kamipun menuju ke penginapan kayu yang harganya sama dengan kamar hotel bintang 5 ibukota.

Guratan-guratan warna yang berbeda menghiasi setiap perjalanan, dan saya tidak akan pernah bosan untuk mengunjungi setiap sudut wilayah di Republik ini. Untuk saat ini bukan ke negara mana saya ingin jalan, akan tetapi ke daerah mana lagi yang akan saya sambangi dan rasakan.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up