Ranah

Dari Ibuku : Kasih Sepanjang Jalan Untuk Semen Padang FC

‘priiiiit…priiiiit…priiiit…!’

Peluit panjang ditiup pengadil lapangan. Seisi stadion bergemuruh menyambut kemenangan hari itu. Semen Padang FC jadi juara Liga Primer Indonesia tahun 2012. Meski tak sedikit yang menghina dan tak mengakui. Sebab waktu itu tengah terjadi dualisme dalam persepakbolaan negeri ini. Tapi aku tak peduli, yang aku tahu penantian dan segala harap itu sudah jadi nyata.

Aku dan beberapa orang rekanku di Spartack’s tak kuasa menahan haru. Tanpa sadar aku berkaca-kaca. Ada bangga dan isak yang aku tahan. Penantian panjang, kenangan, kehilangan dan kemenangan jadi satu. Piala yang diangkat ke udara bersatu dengan doa, dari tribun selatan kenangan kami pecah satu-satu jadi air mata dan rasa bangga.

Riuhnya sorak kemenangan, membuat hening dalam dada. Sejumput doa dan kabar bahagia dari tribun selatan aku kirimkan pada Ibu yang mengabadikan cintanya untuk Semen Padang FC. Beliau tak bisa menyaksikan tim kebanggaannya mengangkat piala. Sebab Tuhan telah memanggilnya ke tribun abadi sebelum Semen Padang Fc juara. Bagiku, Semen Padang bukan sekedar klub, lebih dari itu dan Ibu mengajarkan, apa itu kesetiaan.

Dalam keramaian pelan-pelan kenangan mulai menyergapku, antara gigil dan rindu.

Masih teringat waktu itu sedang ada perlombaan favorit warga Kota Padang—selaju sampan. Salah satu olahraga sekaligus hiburan masyarakat dalam rangka merayakan hari jadi Kota Padang tiap tahunnya. Hari itu tim dayung dari kampungku juga akan bertanding. Sudah dipastikan hampir seluruh warga Pasir Ulak Karang datang menyaksikan. Tak terkecuali keluargaku.

Dengan angkutan kota dan disambung becak motor, aku, Ibu dan adikku menuju GOR H. Agus Salim. Tapi ada sedikit tanya yang mengganjal di pikiranku. Kenapa Ibu malah menyuruh tukang becak menuju lapangan bola—bukan pinggir banda bakali? Tapi pertanyaan ini hanya kusimpan dalam hati. Aku berpikir mungkin Ibu ingin membeli camilan dulu untuk menyaksikan selaju sampan.

Turun dari becak motor, kami pun menuju loket penjualan tiket. Aku makin heran, sejak kapan selaju sampan ada tiketnya?—gumamku dalam hati. Setelah membeli tiket, kami pun memasuki lapangan bola. Waktu itu kami duduk di tribun utara. Kali ini aku tak bisa lagi menahan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikiranku. Kutanyakan pada Ibu tentang alasannya membawa kami nonton bola—bukan selaju sampan.

Ibuku hanya menjawab, “Memangnyo tadi Ibu maajak nonton selaju sampan?” Ibuku tertawa. Aku semakin bingung. Tapi makin lama di dalam stadion, aku semakin menikmatinya. Aku mulai tertarik dengan olahraga ini. Ternyata tak jauh menegangkan dibanding dengan meyaksikan selaju sampan.

Hari itu Semen Padang berhadapan dengan tim berkostum ungu. Aku tak tahu persis itu tim apa. Yang aku tahu hari itu Semen Padang menang dan aku juga ikut senang. “Setidaknya tim ini ada nama Padang-nya. Itu artinya tim ini membanggakan warga Padang.” Pikirku yang masih kelas dua SD yang tak paham dengan sepak bola kala itu.

Sejak hari itu aku nyaris tak melewatkan satu pertandingan pun. Ada atau tak ada uang kami tetap pergi. Jika ada uang kami beli tiket, jika sedang tidak ada uang kami minta bantuan Ayah mengantar kami sampai pintu masuk, beliau cukup banyak kenal dengan aparat keamanan petandingan. Apa pun kami lakukan, yang penting bisa menyaksikan pertandingan Semen Padang.

Setelah bertahun-tahun rasa banggaku menyaksikan pertandingan demi pertandingan semakin besar. Ibuku yang mengajarkan semuanya. Dari makan-makan sehabis pertanding jika Semen Padang menang, sampai pulang jalan kaki jika Semen Padang kalah.

Mungkin sebagian orang menganggapnya bodoh jika harus jalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh hanya karena tim sepakbola kesukaannya kalah. Tapi begitu cara Ibu mengajarkanku tentang kesetiaan. Rasa lelah berjalan kaki tak sebanding dengan kekecewaan kami hari itu. Barangkali seperti itu. Dan aku bangga melakukannya.

Sampai bertahun-tahun kemudian, kami tetap melakukan kebiasaan ini. Melewati masa-masa sulit mengawal tim kebanggan ditengah keterpurukan. Tak sedikit kawan sekolahku yang mencibir. Bahkan ada yang rela datang pagi-pagi ke sekolah hanya untuk meneriaki kekalahan Semen Padang. Tapi aku tak peduli. Kebanggaanku jauh lebih besar dibanding omongan si mulut besar itu. Tak sampai di situ, saat Semen Padang harus bermarkas di Sawahlunto, ejekan demi ejekan terus mengalir kepadaku.

Setelah cukup lama bermarkas di Sawahlunto, akhirnya Semen Padang kembali bermain di Padang. Itu tentu kabar baik bagi kami. Sebab, selama di Sawahlunto kami tak bisa menyaksikan pertandingan Semen Padang secara langsung karena terkendala jarak dan biaya. Kami hanya bisa mendengar radio waktu itu. Dan kini Semen Padang kembali ke Padang.

Beberapa musim bertanding di divisi utama. Semen Padang selalu gagal promosi ke Liga Super Indonesia. Aku juga sempat bertanya pada Ibu sampai kapan kita mendukung Semen Padang ini? Dan untuk apa kita mendukung tim ini tapi tetap saja sering kalah?

Ibuku hanya menjawab, “Sampai tim ini sudah tak membutuhkan dukungan kita lagi. Dan untuk apa kita mendukungnya? Sudah pasti untuk menang. Dan jika masih kalah, barangkali kita kurang tulus mendukungnya. Cobalah mendukung dengan tulus dan penuh rasa bangga. Sebab jika sudah sampai pada titik yang disebut bangga, kekalahan takkan bisa mengalahkan rasa bangga kita.” Jawaban yang sangat lugas dari Ibu membuatku sudah sangat paham tentang arti kebanggan.

Musim berikutnya Semen Padang makin serius untuk melangkah menuju kasta tertinggi. Ini ditunjukkan dengan rekrutan pemain-pemain bagus waktu itu. Dan usaha itu menunjukkan hasil, Semen Padang promosi ke Liga Super Indonesia dengan menjadi juara ketiga dalam kompetisi Divisi Utama. Perjalan panjang kami pun terjawab, segala kesabaran berbuah sangat manis. Meski tak jadi juara satu, setidaknya kebanggaan kami naik level. Itu sudah sangat membuat kami bahagia.

Sebelum kompetisi ISL 2010/2011 dimulai. Aku bergabung dengan Spartack’s, kelompok suporter yang terbentuk di akhir kompetisi divisi utama musim lalu. Kelompok suporter yang digagas oleh perantau-perantau minang ini membuatku tertarik untuk bergabung. Bersama temanku Revo, aku mendaftar di sekretariat Spartack’s yang waktu itu bermarkas di tribun timur stadion H. Agus Salim Padang. Aku disambut dengan sangat hangat, ditambah lagi Spartack’s ini adalah suporter non blok. Ini tentu kabar baik untukku. Aku bisa mendukung Semen Padang dengan tenang dan bisa memiliki banyak teman lagi.

Bergabungnya aku dengan keluarga besar Spartack’s ini belum diketahui Ibuku sebelumnya. Hingga akhirnya kudapati Ibu sedang mengisi formulir pendaftaran anggota Spartack’s. Aku pun terkejut, lalu kutanya pada Ibu dan ternyata Ibu pun mengajakku juga ikut bergabung. Dan akhirnya aku menjelaskan bahwa aku sudah bergabung dengan Spartack’s beberapa hari lalu. Ibu pun cukup kesal kepadaku, bukan karena aku bergabung kelompok suporter, tapi karena tak mengajaknya ikut bergabung.

Musim baru pun dimulai. Semen Padang melawan Persipura adalah pertandingan pembuka musim itu. Pertandingan hari itu berjalan sengit, meski diwarnai dengan pemberhentian pertandingan waktu itu karena lapangan tergenang air akibat curah hujan yang cukup tinggi.

Banyak penonton yang memilih pulang waktu itu. Tapi tidak bagi kami yang berada di tribun selatan. Kami ingin pertandingan hari itu dilanjutkan, lalu beberapa orang rekan Spartack’s pun turun ke lapangan. Mereka pun membersihkan lapangan dari genangan air hingga pertandingan pun dapat dilanjutkan, pemandangan yang membuatku merasa berada dalam keluarga besar ini adalah pilihan yang tepat. Chant-chant pembakar semangat terus kami teriakan, meskipun tubuh kami sendiri kaku menahan dingin. Hingga peluit akhir pun dibunyikan dan pertandingan berakhir imbang.

Laga melawan Persela adalah pertandingan terakhir yang kusaksikan bersama Ibu. Setelah itu Ibu harus menyaksikan kebanggan kami bertanding dari tribun abadinya. Beliau meninggal dunia di pertengahan musim. Setelah laga melawan Persela itu, Spartack’s melakukan konvoi bersar-besaran keliling Kota Padang. Itu adalah perayaan terakhir Ibu atas kemenangan Semen Padang.

Setelah kepergian Ibu. Aku tetap setia berdiri di tribun selatan. Meski awalnya agak canggung, namun perlahan aku bisa menikmatinya. Sebab di tiap pertandingan, aku merasakan bahwa beliau masih ada. Rasa bangga yang beliau tanam di dadaku yang membuatku masih setia berdiri, berteriak, dan mengawal kebanggaan kami.

Bahkan saat aku harus pindah ke Kota Pariaman pun tak sedikit pun ada yang berubah. Di Pariaman, aku tergabung dengan jorong Spartack’s Kota Tabuik. Bersama kawan-kawan di Pariaman, kulanjutkan perjuangan mengawal kebanggaanku. Walaupun aku sering mendengar ‘cimeeh’ dari orang-orang di sekelilingku. Tapi aku tak pernah peduli dengan itu. Aku sejak kecil sudah diajarkan ini oleh Ibuku untuk mendukung Semen Padang, takkan mungkin aku berhenti hanya karena ’cimeeh’ mereka.

Waktu berjalan terus, dukunganku juga tak pernah putus. Hingga akhirnya Semen Padang berhasil menjadi juara Liga Primer Indonesia. Sebuah penantian yang sangat panjang kulalui, keinginan terbesar Ibuku adalah menyaksikan Semen Padang mengangkat piala juara. Dan keinginan itu terjawab juga, Semen Padang Juara!

Dan hari ini, Semen Padang sedang dalam situasi yang menyedihkan—barangkali Ibuku juga sedih disana. Maka tak ada alasan bagiku untuk meninggalkanmu kebanggaanku.

Bangkitlah! Tegakkan kepalamu. Kita bisa melewati ini semua. Aku percaya itu, Kebanggaanku.

Ibuku tak mungkin salah membanggakanmu.

Salam Sanak Sakampuang!

Yovan Loveindo Restu, Spartack’s Kota Tabuik

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up